Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Admin Balingtan - Musim kemarau tak menyurutkan petani Provinsi Jawa Tengah untuk memproduksi padi. Kementerian Pertanian (Kementan) optimistis produksi padi pada semester II 2018 masih maksimal. Kementan tidak hanya mendorong petani untuk memaksimalkan lahan sawah dengan mekanisasi penyediaan air, tetapi juga mendorong upaya untuk memanfaatkan lahan kering. Untuk memelihara optimisme produksi padi 2018, Kementan telah melakukan berbagai upaya menghadapi kekeringan.

Demi menjaga kecukupan ketersediaan air, Kementan membuat sumur pantek dan pompanisasi air sungai di wilayah potensial untuk jangka pendek. Selain itu, Kementan menyediakan benih unggul tahan kekeringan, mengatur pola tanam, dan menekan risiko kekeringan. Kemarau merupakan fenomena iklim yang berulang setiap tahunnya. Untuk menanggulangi kekeringan jangka panjang, Kementan menjalankan berbagai strategi agar di musim kering Luas Tambah Tanam (LTT) Padi tetap surplus (Rakor Upsus Pajale Jawa Tengah. Semarang, 09 Oktober 2018). Wilayah Provinsi Jateng yang LTT surplus dari bulan Oktober 2017 sampai dengan September 2018 diantaranya Kabupaten Wonogiri, Blora, Kebumen, Sragen dan Pemalang.

Dengan cara kerja keras dan kerja ikhlas LTT dapat tercapai. Semboyan petani sukses yaitu "Hari esok lebih baik dari hari ini". "Padi gogo dan tumpang sari adalah konsep paling mutahir saat ini untuk musim kemarau," ujar Suwandi selaku Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian dalam Rakor Upsus Pajale Provinsi Jawa Tengah.

Menurutnya, pengembangan tumpangsari yaitu Lahan sawah irigasi dengan melakukan pada akhir musim hujan, Lahan kering yang tidak disawah pada awal musim hujan, dan Lahan sawah tadah hujan dilakukan pada awal musim hujan dengan populasi rapat. Dalam Penanaman Padi-Jagung dan Jagung-kedelai harus memperhatikan waktu tanam padi dan kedelai ditanam 3 minggu lebih awal dibandingkan jagung agar tidak ternaungi. Keterbatasan luas lahan dan masih rendahnya produktivitas jagung di tingkat petani menyebabkan usahatani jagung menjadi tidak optimal. Seiring kemajuan teknologi, model pertanaman tumpangsari (intercrop) banyak mendapat perhatian.

Pemerintah melalui Menteri Pertanian juga memberikan bantuan subsidi benih padi hibrida. Padi hibrida varietas Sembada yang terbukti waktu panen di 3 kecamatan di Ngawi memiliki beberapa keunggulan, di antaranya potensi hasil produksi bisa mencapai 13,4 ton per ha gabah kering panen, dengan capaian rata-rata produksinya mencapai 10 ton per ha. Selain itu padi hibrida varietas Sembada menghasilkan tekstur dan rasa nasi yang disukai oleh masyarakat. Padi sembada memiliki ketahanan terhadap berbagai hama utama tanaman padi. (Admin Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Berita Balingtan - Pembangunan pertanian yang tertuang dalam program Nawacita Jokowi melalui Kementerian Pertanian berupaya mempertahankan swasembada pangan: padi, bawang merah dan cabe pada tahun 2016, dan tercapainya swasembada jagung pada tahun 2017, serta kedelai pada tahun 2020. Capaian saat ini telah mulai menunjukkan kerberhasilannya. Dalam tiga tahun program tersebut telah mulai berhasil meningkatkan beberapa produksi pertanian. Produksi padi, jagung, bawang merah, gula, dan daging sapi dalam status on the right track menuju terwujudnya kedaulatan dan kemandirian pangan sejak tahun 2017.

Capaian produksi dan swasembada juga berdampak pada kesejahteraan petani. Pembangunan pertanian ke depan tidak hanya diukur dari parameter keberhasilan produksi atau yang dikenal dengan istilah kecukupan pangan, tetapi juga diukur dari kualitas pangan. Terlebih pada tahun 2020 akan memasuki era pasar global yang mengedepankan keseimbangan kerja alam secara alamiah sehingga tidak merusak lingkungan. Semua produk yang diperdagangkan harus memenuhi standar yang ditentukan agar dapat diterima di pasar global. Produk yang diperdagangkan harus terpenuhi dalam segi keamanannya sehingga produk yang dihasilkan Indonesia dapat diterima dalam perdagangan dunia. Upaya mencapai dan mempertahankan swasembada memerlukan sarana produksi yang mendukung dan bersifat ramah lingkungan. Ketahanan dan keamanan pangan menjadi isu global yang penting untuk diperhatikan dalam upaya memasuki pasar bebas dunia. Tantangan pembangunan pertanian ke depan semakin berat dan perlu menjadi perhatian serius dari semua pihak.

Pada praktek budidaya, petani cenderung menggunakan pupuk dan pestisida secara berlebih. Penggunaan bahan kimia tersebut dapat mengurangi kualitas produk pertanian dalam segi keamanannya. Penggunaan bahan kimia berlebihan seperti pupuk dapat mencemari lingkungan begitu juga dengan penggunaan pestisida berlebihan dapat meningkatkan cemaran residu pada tanah, air, dan tanaman. Badan Litbang Pertanian saat ini telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi untuk minimalisasi cemaran pestisida maupun logam berat di lahan pertanian antara lain urea berlapis arang aktif/biochar, biochar-kompos, biopestisida, fitoremediator, Filter inlet outlet, alat deteksi cepat residu pestisida (PURP), dan lain-lain. Semua teknologi tersebut bersifat inovatif dan ramah lingkungan.

"Pestisida nabati ini merupakan pengganti pestisida sintetis. Secara kebijakan memang belum diimplementasikan, tetapi produk sudah ada. Melalui pertemuan seperti ini diharapkan penggunaan pestisida nabati menjadi kebijakan pemerintah," kata Asep Nugraha Ardiwinata selaku Kepala Balai Penelitian Lingkungan dalam seminar mengenai sistem pertanian ramah lingkungan di Hotel Alila Solo

Di sisi lain pembangunan pertanian dituding sebagai salah satu penyebab pemanasan global. Budidaya tanaman dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan memiliki peran ganda, yaitu sebagai pengabsorbsi dan sekaligus sebagai pengemisi gas rumah kaca (GRK). GRK menjadi salah satu kontributor dalam pemanasan suhu di bumi dan memicu terjadinya pemanasan global. Pemanasan global menjadi salah satu isu yang sedang menjadi perhatian dunia. Berbagai sektor telah melakukan inventarisasi emisi GRK yang digunakan untuk melakukan upaya mitigasi. Penanaman varietas rendah emisi, pengelolaan pupuk nitrogen slow release, pengelolaan air secara intermitten merupakan teknologi unggulan dalam menurunkan emisi GRK sektor pertanian. Inovasi teknologi tersebut merupakan bagian dari teknologi ramah lingkungan yang mendukung swasembada pangan berkelanjutan. (Admin Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

  Berita Balingtan - Dalam Rapat Koordinasi Padi Jagung Kedelai (Pajale) yang dihadiri oleh Kadistan Kab/kota, PJ UPSUS PJK Kab/kota se prov Jateng, Aster KASDAM IV/Diponegoro, dan Dirjen Horti/PJ UPSUS jateng, Kamis (23/08).

“Peluang untuk tanam padi masih ada, namun perlu mewaspadai adanya ketersediaan air di masing-masing wilayah, dengan memanfaatkan Pompanisasi dari sumber mata air lokal, Penggunaan embung, Penggunaan benih varietas padi gogo,” Pungkas Suwandi selaku Dirjen Horti Kementerian Pertanian.

Dengan Masih adanya ketersediaan air di waduk besar dan kecil di wilayah Jateng (khususnya untuk daerah Irigasi), walaupun peluang tersebut sangat kecil. Peluang lainnya yaitu tersedianya teknologi budidaya untuk meningkatkan produktivitas (benih unggul, jajar legowo, pemupukan berimbang, dll.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk percepatan tanam bulan September 2018 diantaranya Memobilisasi pompa air terutama untuk daerah potensi padi yang mengalami kekurangan air, Melakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air dan Penataan Ruang dalam penyediaan air irigasi, terutama di daerah irigasi yang akan direhabilitasi, Melakukan antisipasi, mitigasi dan adaptasi pengamanan produksi terhadap gangguan Organisme Pengganggu Tanaman dan Dampak Perubahan  Iklim.

Dengan memaksimalkan bantuan-bantuan program yang telah diberikan dalam rangka peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) yaitu bantuan benih padi gogo yang rencananya akan ditanam bulan September-Oktober 2018 sebanyak 350 ton (luas tanam 14.000 Ha) dan bantuan benih varietas situbagendit yang dapat ditanam dilahan gogo yang rencananya akan ditanam bulan September-Oktober 2018 sebanyak 21,05 ton (luas tanam 842 Ha).

Bagi pertanaman yang puso akibat bencana alam atau serangan OPT diluar Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dapat mengajukan bantuan Cadangan Benih Nasional, sedangkan yang masuk AUTP dapat segera mengajukan klaim. (Admin Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Berita Balingtan - Keterbatasan luas lahan dan masih rendahnya produktivitas jagung di tingkat petani menyebabkan usahatani jagung menjadi tidak optimal. Seiring kemajuan teknologi, model pertanaman tumpangsari (intercrop) banyak mendapat perhatian.  

Tumpangsari jagung-kedelai juga bertujuan untuk mengatasi persaingan penggunaan lahan untuk tanaman jagung dan kedelai secara monokultur. Mengingat bahwa harga jagung relatif baik dan keunggulan koparatif tanaman jagung relatif lebih tinggi dibanding tanaman kedelai, maka dalam sistem tumpangsari jagung-kedelai, produktivitas tanaman jagung minimal sama dengan tanpa tumpangsari.

Pasca penerapan Penambahan Luas Areal Tanam Baru (PATB), perlu strategi baru untuk meningkatkan Luas Tambah Tanam (LTT), melalui Pengembangan Pola Tanam TUMPANG SARI. Pendekatan tumpangsari ini dapat mengeliminasi kompetisi penggunaan lahan atau komoditas, dan solusi berkelanjutan terhadap keterbatasan lahan, Rabu (12/09).

“Peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sangat penting dalam produksi ketahanan pangan wilayah Jepara,” pungkas Rokhim selaku Kasie Tanaman Pangan Jepara.

Dalam Swasembada Padi Jagung, Kedelai kita harus memperhatikan benih bermutu secara enam tepat (Jenis, Jumlah, Mutu, Tempat, Waktu, Harga), Jenis dan jumlah populasi pertanaman per hektar, dan kemudian memperhatikan luas pertanmaan minimum untuk swasembada.

“Jepara merupakan lahan sangat subur hanya perlu teknologi utuk menghemat air dalam kondisi kemarau,” ujar Susatyo selaku Kabid Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Jepara.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk percepatan tanam bulan September 2018 diantaranya Memobilisasi pompa air terutama untuk daerah potensi padi yang mengalami kekurangan air, Melakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air dan Penataan Ruang dalam penyediaan air irigasi, terutama di daerah irigasi yang akan direhabilitasi, Melakukan antisipasi, mitigasi dan adaptasi pengamanan produksi terhadap gangguan Organisme Pengganggu Tanaman dan Dampak Perubahan  Iklim.

Beberapa lokasi untuk pengembangan tumpangsari yaitu Lahan sawah irigasi dengan melakukan pada akhir musim hujan, Lahan kering yang tidak disawah pada awal musim hujan, dan Lahan sawah tadah hujan dilakukan pada awal musim hujan dengan populasi rapat. Dalam Penanaman Padi-Jagung dan Jagung-kedelai harus memperhatikan waktu tanam padi dan kedelai ditanam 3 minggu lebih awal dibandingkan jagung agar tidak ternaungi. (Admin Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
   

 Berita Balingtan - Peneliti Badan Litbang Pertanian mendapat kesempatan untuk mengunjungi School of Agriculture and Food Sciences, Queensland University, Australia selama sepekan dari tanggal 6-10 Agustus 2018. Kegiatan ini undangan khusus bagi peneliti Badan Litbang Pertanian dengan peserta 3 orang. Special Short Training tersebut diprakarsai oleh Balingtan dalam upaya pengembangan pestisida nabati (Pesnab) dalam mendukung implementasi sistim pertanian ramah lingkungan. Balingtan bertekad untuk mengangkat pestisida ramah lingkungan sebagai salah satu teknologi yang dapat berperan dalam mendukung ketahanan dan keamanan pangan.

 Dari tiga peneliti Badan Litbang yang diundang dua diantaranya peneliti Balingtan yaitu Asep Kurnia SP, M.Eng. dan Dr. Elisabeth Srihayu Harsanti, dan satu lainnya peneliti dari BPTP Sumatera Utara Dr. Evawati Sri Ulina. Ketiganya mempunyai basic science program studi entomologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT) saat studi S1. Beberapa agenda kunjungan hari pertama-kedua antara lain “Induction Session” tentang keselamatan kerja di lingkungan kampus maupun laboratorium yang dijelaskan oleh Mr. John Swift, Laboratory work Place Induction oleh Mr. Lachlan Fowler sebagai Technical Officer, Pengantar tentang pesnab oleh Prof. Errol Hassan Ph.D dan kunjungan  Analytical Laboratory dan pengantar penggunaan alat dan perlengkapan ekstraksi dan purifikasi oleh Ms. Katherine Raymont.  Pada kesempatan tersebut juga dilakukan persiapan material daun mimba dan kayu putih dengan melakukan grinding. Hari ketiga dan keempat akan dilakukan praktek ekstraksi bahan pestisida nabati dan pengujian bahan tersebut dengan serangga hama. Pada hari terakhir akan dilakukan diskusi dengan Prof. Errol Hassan terkait data dan hasil uji. Selain itu peneliti Balingtan Asep Kurnia, SP., M.Eng dan tim akan diberikan kesempatan untuk melakukan presentasi tentang  State of the Art of IAERI Research. Presentasi tersebut merupakan upaya penjajagan kerjasama riset terkait pestisida nabati ke depan.

 “Short training ini bagus, kalian bisa membawa pengalaman ini untuk kalian tularkan dan implementasikan ke tempatmu” tutur Prof Errol dalam kuliah pengantarnya. Kegiatan Special short training tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan Workshop dan Seminar Internasional yang bertema Inovasi Pestisida Ramah Lingkungan untuk mendukung Swasembada Pangan yang telah terselenggara 6-7 September 2017. Pada kesempatan tersebut, Badan Litbang Pertanian telah mengundang Prof. Errol Hassan, Ph.D sebagai salah satu narasumber bidang botanical pesticide. “Meskipun hanya sepekan, pengalaman ini sangat berharga bagi saya, banyak hal baru yang diperoleh. Hal sederhana tapi menjadi bernilai karena semua dilakukan dengan dasar ilmu kuat dan SOP yang tertib” kilah Harsanti salah satu peserta training Badan Litbang Pertanian. "Yang dapat kita ambil pelajaran salah satu hal yang penting dalam pengelolaan laboratorium adalah bagaimana melengkapi sarana keamanan laboratorium dan mensosialisasikannya kepada pengguna dan pengunjung laboratorium", demikian pendapat yang dikemukakan oleh Asep Kurnia sebagai salah satu peserta training. (Admin Balingtan)

Halaman 1 dari 65