Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Berita Balingtan - hari ini yang istimewa bagi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan), Kamis (28/12). Betapa tidak, orang nomor dua di Kabupaten Pati, H. Saiful Arifin S.E tanpa rencana dan pengawalan khusus mengunjungi Balingtan di sela-sela kegiatannya bersama Forum Karang Taruna Kabupaten Pati.   
Bersama dengan pejabat struktural dan peneliti senior Balingtan, Bapak Wabup berkeliling Taman Sains Pertanian (TSP) Balingtan dan beberapa sarpras pendukung penelitian. Menurut Beliau, TSP Balingtan dapat dikembangkan menjadi wahana wisata edukasi bagi masyarakat Kabupaten Pati terlebih dengan dukungan sarana pendidikan pertanian yang lengkap. Dalam kesempatan tersebut, Bapak Wabup mengatakan bahwa Balingtan sebagai lembaga riset
harus mampu dan terus menghasilkan teknologi yang menguntungkan bagi masyarakat. Beliau akan mendorong peran Petugas Penyuluh Lapang (PPL) dan Karang Taruna se-Kabupaten Pati. Untuk membantu menyebarluaskan hasil inovasi teknologi untuk diterapkan di petani. Harapan beliau bahwa Balingtan, PPL dan Pemerintah Daerah Kabupaten Pati harus menjadi mitra yang solid dalam memajukan pertanian Kabupaten Pati.

Langkah awal menjalin sinergitas antara Balingtan dan PPL, Bapak Wabup akan mewajibkan 180 PPL yang ada di Kabupaten Pati untuk mengunjungi dan menyerap ilmu dari para peneliti Balingtan, dan peneliti Balingtan juga aktif melakukan pendampingan agar hilirisasi inovasi teknologi akan terjadi.  Pertanian, peternakan dan perikanan merupakan tiga pilar yang sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Oleh karena itu ketiganya harus kuat di Kabupaten Pati. Peran lembaga
riset, Pemda dan jajarannya serta para pemuda karang taruna sangatlah penting untuk menjamin keberlanjutan perekonomian tersebut. Demikian pernyataan dari Bapak Wakil Bupati Pati mengakhiri kunjungan singkatnya di Balingtan. (Admin Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
       

 Berita Balingtan – Telah diselenggarakan 1st South-East Asia Laboratory Network (SEALNET) Workshop, dengan tema “Peningkatan kualitas laboratorium tanah di Asia : Dalam rangka standarisasi dan  harmonisasi  analisis tanah dan interpretasinya”. Tujuan pertemuan ini adalah (1). Kalibrasi dan harmonisasi prosedur pengujian tanah dan prakteknya di laboratorium regional ASEAN dan sekitarnya dalam konteks Asian Soil Partnership (ASP). (2). Merancang program uji profisiensi antar laboratorium dalam rangka mengimplementasikan prosedur dan proses jaminan mutu/pengendalian mutu (QA/QC).

Sekitar 52 manajer laboratorium dari 17 negara Asia (Banglades, Bhutan, Kamboja, Cina, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Filipina, Srilanka, Thailand dan Vietnam) hadir dalam diskusi tentang analsis tanah di laboratorium. Pertemuan ini di organisir oleh GSP-FAO, Balitbangtan, dan IRD Perancis, dengan kontribusi dari dari LDD Thailand dan ASPAC Australia. Sambutan pembukaan dilakukan oleh Kepala BBSDLP Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr sekaligus mewakili Balitbangtan, perwakilan FAO, perwakilan Kementerian Pertanian Thailand, dan Perwakilan dari IRD untuk Indonesia dan Timor Leste.  

SEALNET merupakan implementasi dari Global Soil Laboratory Network (GLOSOLAN) dan pilar ke-5 Global Soil Partnership (GSP). Acara dipandu oleh Dr. Lucrezia Caon dari FAO, Dr. Nopmanee Suvannang dari LDD, Dr. Christian Hartmann dari IRD dan Dr. Phil Moody Dari ASPAC. (Asep Kurnia-Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
       

 Berita Balingtan - Isu mengenai dampak penggunaan pestisida kimiawi merupakan point penting yang harus mendapatkan perhatian dari semua pihak. Dua bahan aktif pestisida kimia yang menjadi sorotan adalah Parakuat diklorida (PA) dan Karbosulfan (KS). Workshop Penyusunan Usulan Kajian Dampak Penggunaan Pestisida Berbahan Aktif Parakuat diklorida dan Karbosulfan” dilaksanakan di Bogor pada tanggal 7 Desember 2017 untuk membahas bahaya penggunaan bahan aktif pestisida tersebut dan langkah antisipasi dampaknya.

Hadir dalam pertemuan tersebut adalah Dr. Muhrizal Sarwani (Direktur Pupuk dan Pestisida), Prof Dadang (IPB), Prof. Edi Martono (UGM), Dr Sukisman (Biotrop), Dr. Taufikurrahman (ITB), Dr Bonny (IPB), Dr. Muhammad Muchsin, Dr. Chandra Anggraeni,  KLH, Kemenkes, PT. Bina Guna Kimia dan peneliti dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian.  Dalam pembukaan acara, Dir. Pupuk dan Pestisida, Dr. Muhrizal Sarwani menyampaikan bahwa output yang harus dicapai dalam pertemuan ini adalah (1) TOR kajian, (2) action kajian pada bulan Januari 2018 harus sudah dimulai di beberapa tempat dan (3) hasil kajian diharapkan dapat menjadi landasan dalam mengambil keputusan terkait dengan bahan aktif parakuat dan karbosulfan.

Dalam pertemuan tersebut, Prof. Dadang menyampaikan lima hal, yaitu (1) kajian harus mencakup dua point penting, yaitu terkait kesehatan dan dampak terhadap lingkungan, (2) Kedua hal tersebut dimasukkan dalam satu TOR, (3) kegiatan yang dilakukan dapat berupa survey dan atau penelitian, (4) anggaran dan sumber dana harus segera tersedia dan (5) perlu diingat bahwa penggunaan bahan aktif karbosulfan terbatas namun sering digunakan dalam bentuk campuran dengan pestisida yang lain sehingga perlu dilakukan penelitian.

Tim Kajian Lingkungan bertujuan untuk (1) melakukan kajian dalam rangka mengetahui pengaruh parakuat dan karbosulfan terhadap lingkungan, (2) mengumpulkan data atau informasi terkait dengan data sebaran parakuat (melalui alister) dan karbosulfan (melalui FMC) pada akhir Desember 2017, data jumlah PA dan KS yang terdaftar, jenis komoditas, produsen (dari Direktorat Pupuk dan Pestisida), data komoditas menggunakan PA dan KS dari pengguna PTPN dan PTP. Pengumpulan data dilakukan secara paralel dengan survei, (3) setelah data terkoordinasi, melakukan penentukan tempat dan komoditas untuk penelitian dan (4) Provinsi Gorontalo dipertimbangkan sebagai tempat untuk melakukan kajian PA pada tanaman jagung.

Survei terkait denga PA dan KS meliputi (1) kelimpahan mikroorganisme tanah dan air, (2) invertebrata tanah, serangga penyerbuk, burung dan ikan, (3) tanaman lain di sekitar tanaman target, (4) analisis kimia dan fisika tanah dan air tanah dan (5) lokasi  yang dipilih adalah Lampung, Sulsel, Jatim, Kalsel dan Riau.

Percobaan 1 mengenai pengaruh aplikasi PA pada tanaman kelapa sawit, padi dan jagung terhadap kelimpahan mikroorganisme, residu (tanah, air dan produk), proses dekomposisi tanaman yang sudah mati akibat terkena semprotan, chemical fate (laju degradasi, biomagnifikasi dan transportasi). Berkaitan dengan KS, dua regional EU dan Amerika Latin mengusulkan dimasukkan dalam lampiran 3 Konvensi Rotterdam karena KS berpengaruh terhadap mamalia, burung, serangga penyerbuk dan binatang air. Oleh karena itu, kajian KS lebih mengarah pada percobaan lingkungan. Data sebaran KS menjadi dasar dalam menentukan tempat dan komoditas. Percobaan lapang dilakukan dalam dua musim dengan lokasi di Jabar, Jatim, Lampung, Sumut dan Sulsel.

Kuisioner survei PA dan KS disusun yang meliputi antara lain: 1. Pola penggunaan (frekuensi, dosis/konsentrasi, fase pertumbuhan, komoditas, waktu aplikasi, musim tanam), 2. Cara aplikasi (mencampur dengan pestisida atau bahan kimia lain, alat aplikasi, sertifikat operator parakuat), 3. Sumber informasi bagi pengguna tentang pestisida (herbisida) yang digunakan (parakuat dan karbosulfan), 4. Latar belakang memilih penggunaan atau pemahaman parakuat (penyuluhan, pelatihan, demplot, iklan, diberi tahu teman, pengalaman, harga), 5. Dampak penggunaan parakuat terhadap organisme sasaran dan bukan sasaran, 6. Bagaimana parakuat dapat diperoleh (siapa yang menawarkan, siapa yang memberitahu) dan 7. Sejak kapan atau sudah brp lama mengaplikasikan parakuat dan karbosulfan.

Tim Lingkungan dikoordinasikan oleh Prof. Dr. Edi Martono, dan akan diberi tugas sesuai dengan kompetensi masing-masing personil. Untuk Balingtan, supaya mempersiapkan metodologi dan anggaran untuk analisis PA dan KS. Untuk kajian lingkungan dan kesehatan disediakan anggaran sebesar Rp. 2 milyar. (Asep Kurnia - Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

 Berita Balingtan – Konsep pertanian ramah lingkungan yang diterapkan Balingtan telah menarik perhatian di kalangan akademisi. Sebanyak 20 mahasiswa Pasca sarjana (S2) dan dosen pendamping dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang berkunjung di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian dengan tujuan untuk memahami dan mendalami konsep pertanian ramah lingkungan dan pestisida nabati. Kunjungtan mahasiswa dan dosen disambut oleh Bapak Kasubag TU beserta tim diseminasi. Setelah penayangan hasil penelitian terkait pertanian ramah lingkungan, para mahasiswa diberi kesempatan mengunjungi laboratorium terakreditasi yang mendukung tupoksi Balingtan dalam mewujudkan ketahanan dan keamanan pangan, dilanjutkan berkeliling di kawasan Taman Sains Pertanian yang mengimplementasikan teknologi ramah lingkungan, antara lain lysimeter, percobaan di rumah kasa, filter inlet outlet (FIO), teknologi panen air dengan embung, dan teknologi unggulan system integrasi tanaman-ternak (SITT) yang merupakan model sinergi aksi adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim sekaligus upaya reduksi kontaminan/bahan pencemar.

“Kami fokus di dampak lingkungan penggunaan pestisida kimia”, ujar Ibu Resa (Dosen S2 Pascasarjana yang mendamping para mahasiswa).

Salah satu tusi Balingtan yaitu melakukan penelitian pencemaran lingkungan pertanian baik pada  tanah, tanaman, air, udara dan pupuk serta residu pestisida di lingkungan pertanian. Balingtan juga melayani pelanggan dari luar Balitbangtan dalam pengujian residu pestisida dan bahan agrokimia  seperti perguruantinggi, petani, swasta, instansi pemerintah dan para stakeholder lainnya.

Dalam kunjungan ini diharapkan para mahasiswa pascasarjana memperoleh wawasan dan pengalaman terkait konsep pertanian ramah lingkungan, sehingga mereka ke depannya dapat menjadi generasi muda yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya. (Admin Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

 Berita Balingtan - Dandim 0718/Pati Letkol. Inf. Arief Darmawan, S.Sos beserta rombongan berkunjung di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian dengan tujuan untuk silaturahmi dan mengenal pertanian ramah lingkungan lebih dekat lagi. Hal ini merupakan penjajakan untuk mengadakan kunjungan lebih lanjut terkait agenda yang ada di Dandim, selasa (12/12).

 Dandim beserta rombongan setelah disambut Bpk Kasubag TU beserta struktural Balingtan dan tim diseminasi melakukan kunjungan lapang. Dandim sangat antusias mengenal fasilitas dan kegiatan yang sedang dilakukan oleh Balingtan dalam upaya mendukung program Kementan yang ada.

Dandim beserta rombongan mengunjungi lysimeter, rumah kassa, lab grk, sitt dan gedung paspa. Dandim beserta rombongan menyampaikan apresiasi yang besar terhadap semua fasilitas dan kegiatan pertanian ramah lingkungan yang ada di Balingtan. (Mbak Eni - Balingtan)

Halaman 1 dari 58