Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRK) Sektor Pertanian

Berita Balingtan - Emisi dan serapan GRK dari sektor pertanian mengalami kecenderungan perubahan dari tiap tahun berjalan. Perubahan ini perlu dikoordinir untuk monitoring, evaluasi dan pelaporan emisi dan serapan GRK tingkat nasional.  Kegiatan monitoring dan evaluasi ini sesuai mandat Perpres 71 tahun 2011 tentang inventarisasi GRK. Inventarisasi  GRK merupakan kegiatan untuk memperoleh data dan informasi mengenai tingkat, status, dan kecenderungan perubahan emisi GRK secara berkala dari berbagai sumber emisi (source) dan penyerapnya (sink), termasuk simpanan karbon (carbon stock). Emisi GRK adalah lepasnya gas rumah kaca ke atmosfer pada area tertentu dalam jangka waktu tertentu (Perpres no. 71, 2011) . Emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian yang utama adalah metana dengan persentase 67 % selanjutnya adalah N2O 30 % dan CO2 3 %. Total emisi gas rumah kaca dalam sektor pertanian mencapai 75.419,73 Gg pada tahun 2000. Sumber utama dari emisi gas rumah kaca ini adalah dari lahan sawah (69%) dan dari ternak (28%) (KLH, 2009).

Kegiatan manusia dari sektor pertanian sebagai penyumbang emisi dan dijadikan sebagai kategori kunci dalam inventarisasai GRK dari sektor pertanian yaitu pengelolaan lahan sawah, peternakan dan penggunaan pupuk organik. Untuk kegiatan di sektor pertanian sebagai serapan GRK yaitu penggunaan pupuk anorganik dan biogas. Pada pengelolaan lahan sawah, penggunaan air irigasi dengan penggenangan areal pertanaman padi secara terus menerus akan mengemisikan metana lebih besar ke atmosfir jika dibandingkan dengan emisi dari lahan sawah dengan pengelolaan air irigasi secara intermitten atau berselang. Dari sektor peternakan, emisi di sumbangkan oleh fermentasi enterik dan juga pengelolaan dari kotoran ternak. Sedangkan emisi dari pupuk, di hitung dengan mengurangkan antara pupuk yang diaplikasikan ke lapangan di kurangi dengan kuota pupuk, sisa pupuk yang tidak di aplikasikan ini yang akan mengemisikan GRK berupa N2O dan CO2.

Berdasarkan data luas areal panen padi, populasi ternak dari BPS tahun 2012, data luas Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT), data biogas, data Biogas Asal Ternak Bersama Masyarakat (BATAMAS), Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO), data kuota pupuk tahun 2010 dan 2011 berdasarkan Permentan nomor 49 dan nomor 87, perhitungan emisi dan serapan GRK sektor pertanian adlah sebagai berikut :

Berdasarkan gambar diatas menunjukkan bahwa dengan aksi mitigasi penggunaan varietas Ciherang sebagai varietas rendah emisi dan penerapan program SLPTT maka akan menurunkan emisi sebesar 19,1 % atau 10,3 juta ton CO2 eq pada tahun 2011.
Berdasarkan Ggambar diatas menunjukkan bahwa penurunan emisi dari sektor peternakan sebesar 17,3 % atau 4,2 juta ton CO2 eq pada tahun 2010.