Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Ka.Badan : Pertanian Modern adalah Pertanian Ramah Lingkungan

Berita Balingtan – Kepala Balitbangtan dalam kesempatan kunjungan kerjanya di Balai Penelitian Lingkungan (Balingtan), Jakenan, Jawa Tengah mengamati bagaimana peralatan mahal ini berperan dalam memberikan ketepatan pengukuran emisi GRK. Perubahan iklim saat ini sudah menjadi satu keniscayaan. Seluruh umat manusia saat ini sudah mulai merasakan dampak dari perubahan iklim. Oleh karena itu, upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dari berbagai sektor mutlak dibutuhkan agar laju perubahan iklim akibat dari pemanasan global ini dapat dihambat. Dr. Ir. Haryono, MSc juga berkesempatan mencoba secara langsung Mobile Environmental Service Vehicle (MES-V) dan beliau merasa puas dengan tersedianya MES-V artinya mobilitas dan gerakan pertanian ramah lingkungan ke depan semakin modern.

MES-V atau Mobile Environmental Service Vehicle dibangun guna memenuhi tantangan diatas. Kendaraan ini dilengkapi dengan berbagai peralatan untuk analisis cepat di lapangan seperti Gas Chromatography (GC) dan Infra Red Gas Analyser (IRGA) untuk pengukuran gas rumah kaca, test kit untuk analisa kandungan logam berat dan residu pestisida, dan berbagai peralatan lain untuk mendukung kegiatan quick assessment atau kajian cepat di lapangan. Kendaraan ini memiliki fasilitas seperti derek rol, GPS, dan handy talky yang cocok untuk perjalanan lintas alam.

 

Dalam rangka mengurangi emisi GRK, pemerintah mengeluarkan Perpres 61 tahun 2011  tentang rencana aksi nasional penurunan emisi gas rumah kaca (RAN GRK) dan Perpres 71 tahun 2011 tentang perlunya melakukan inventarisasi gas rumah kaca nasional. Kedua Peraturan Presiden tersebut dirilis sebagai komitmen Indonesia terhadap seluruh bangsa di dunia dalam menurunkan emisi GRK sebesar 26% sampai tahun 2020 dari kondisi business as usual. Dalam rangka mendukung kedua Perpres tersebut, Balitbangtan bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membangun sistem otomatisasi pengukuran emisi GRK dari lahan sawah. Sistem otomatisasi memiliki berbagai keunggulan dari sistem otomatisasi yang telah dibangun tahun 1993 lalu atas hasil kerjasama dengan International Rice Research Institute (IRRI) Filipina.

Sistem otomatisasi emisi GRK yang baru ini memiliki berbagai keunggulan dibanding alat yang lama, keunggulan tersebut antara lain : 1) Memiliki 24 chamber berukuran 1 x 1 x 1 m. 24 chamber ini minimal dapat mengaplikasi 8 perlakuan mitigasi dengan 3 ulangan. Pada sistem yang lama jumlahnya baru 12 chamber saja; 2) Sistem otomatisasi GRK yang baru ini dapat mengukur 3 gas rumah kaca sekaligus (CH4, CO2 dan N2O), sedangkan pada sistem otomatisasi yang lama hanya mampu mengukur gas metana (CH4); 3) Sistem yang baru memiliki stop log pada masing-masing hidroliknya sehingga membuat daya tahan hidrolik yang lebih lama dibanding dengan sistem sebelumnya; 4) Sistem mixture gas di dalam chamber pada sistem yang baru dibuat seperti trisula sehingga menjamin gas yang diukur adalah hasil dari pengadukan merata di dalam chamber; 5) Masing-masing chamber dilengkapi dengan alat pengukur suhu air, suhu udara dalam chamber, dan suhu luar chamber. Kehadiran ketiga komponen suhu ini menambah keakuratan pengukuran GRK dari lahan sawah; 6) Apabila ada alat yang tidak berfungsi, dapat juga dideteksi dari layar komputer dari ruang kerja utama; dan 7) Seluruh komponen hardware dibuat dari bahan lokal yang mudah diperoleh di Indonesia.