Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Dampak Perubahan Iklim Global Terhadap Bencana Kekeringan Di Indonesia

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Perkembangan populasi dan aktivitas manusia sejak revolusi industri di pertengahan abad 19 telah meningkatkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dengan laju sangat tinggi. Akumulasi gas-gas rumah kaca di atmosfer menyebabkan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim global. Perubahan iklim mengakibatkan terjadinya pergeseran musim dan mempengaruhi anomali iklim seperti kejadian El-Nino. Di beberapa daerah, musim kemarau akan semakin panjang sementara musim hujan menjadi lebih pendek dengan intensitas curah hujan tinggi, yang mengakibatkan timbulnya bencana kekeringan. Kejadian El-Nino menyebabkan kondisi kekeringan berkepanjangan. El-Nino yang terjadi pada tahun 1997-1998 tercatat sebagai El-Nino terburuk dalam masa 50 tahun, dan membuat tahun 1998 sebagai tahun paling panas dalam abad tersebut. Dalam periode tersebut, Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Jawa dan bagian timur Indonesia mengalami kekeringan di luar musim kemarau. Kekeringan yang berkepanjangan berdampak turunan terhadap penurunan produksi atau kegagalan panen tanaman pangan terutama padi dan palawija, dan krisis air bersih.

Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dipicu oleh aktivitas manusia (antropogenik) yang merupakan sumber terbentuknya gas rumah kaca. Gas-gas rumah kaca yang dapat menimbulkan efek rumah kaca di atmosfer adalah uap air, gas karbondioksida (CO2), metana (CH4), kloroflurokarbon (CFC), dinitrogen oksida (N2O), dan ozon (O3). Gas rumah kaca terutama dihasilkan dari kegiatan manusia yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil di sektor energi, transportasi, industri, penebangan pohon, penggundulan hutan, kebakaran hutan, dan lahan basah. Jenis gas rumah kaca yang terbanyak memberikan sumbangan pada peningkatan emisi GRK adalah CO2, CH4, dan N2O.

Secara umum iklim didefinisikan sebagai kondisi rata-rata suhu udara, curah hujan, tekanan udara, arah angin, kelembaban udara serta parameter iklim lainnya dalam jangka waktu yang panjang antara 30-100 tahun (intercentenial). Jadi berbeda dengan cuaca yang merupakan kondisi sesaat, iklim adalah rata-rata kondisi cuaca dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Perubahan iklim adalah terjadinya perubahan kondisi rata-rata parameter iklim. Perubahan ini tidak terjadi dalam waktu singkat (mendadak), tetapi secara perlahan dalam kurun waktu yang cukup panjang antara 50-100 tahun. Perubahan iklim terjadi akibat proses pemanasan global, yaitu meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat akumulasi panas yang tertahan di atmosfer. Akumulasi panas itu sendiri terjadi akibat adanya efek rumah kaca di atmosfer bumi.

Kenaikan suhu akan mengakibatkan beberapa dampak negatif. Kenaikan suhu akan berpengaruh terhadap siklus air, yakni akan mengubah evaporasi, transpirasi, kelembaban tanah, dan pada gilirannya presipitasi. Akibatnya dalam suhu yang lebih tinggi ini akan terjadi curah hujan yang lebat, tetapi dalam periode waktu lebih pendek dan menimbulkan kemarau panjang. Musim kemarau yang lebih panjang akan menimbulkan kekeringan. Dampak anomali iklim khususnya kekeringan sangat beragam tergantung pada intensitas El-Nino (kuat, sedang, lemah), serta wilayah yang dilandanya. Kekeringan yang terjadi berpengaruh terhadap ketersediaan air dalam tanah, yang secara fisiologis kekurangan air dapat menghambat proses produksi pertanaman dan pada gilirannya menghambat pasokan bahan baku yang berasal dari pertanian. Kekurangan air atau kekeringan berdampak pada kerawanan pangan dan menyebabkan penurunan hasil tanaman karena pertumbuhan tanaman akan menjadi tidak normal.

pendekatan antisipatif dalam mengurangi resiko kekeringan dapat dilakukan melalui pendekatan teknis dan pendekatan kelembagaan. Tindakan-tindakan yang dilakukan melalui pendekatan teknis, antara lain meliputi:

  • Mengefektifkan informasi prakiraan iklim yang dihasilkan oleh beberapa lembaga internasional dan nasional seperti BMG, LAPAN, Badan Litbang Pertanian, untuk memprediksi terjadinya kekeringan dan menentukan alternatif teknologi antisipasinya.
  • Memanfaatkan peta rawan kekeringan sebagai informasi awal dalam memantau kekeringan dalam kondisi iklim normal.
  • Melakukan analisis dampak anomali iklim terutama El-Nino terhadap pergeseran musim (awal musim kemarau, musim hujan), penurunan curah hujan tahunan, dan membandingkan musim kemarau dan musim hujan  dengan kondisi normalnya.
  • Menentukan saat dan masa tanam yang tepat dengan memanfaatkan analisis neraca air wilayah dan analisis indeks kecukupan air (nisbah evapotranspirasi riil/evapotransiprasi maksimum) untuk mengetahui defisit dan surplus air dan saat tanam yang tepat pada kondisi iklim normal.
  • Menyediakan sarana dan prasarana yang tepat sesuai dengan kondisi iklimnya (normal, El Nino lemah, kuat).
  • Mengembangkan teknik panen hujan dan aliran permukaan melalui pengembangan dam parit untuk meningkatkan ketersediaan air dan memperpanjang masa tanam.
  • Melakukan budidaya komoditas pangan berumur pendek dan tahan kekeringan yang mengkonsumsi air terbatas, percepatan tanam untuk memanfaatkan sisa air pada musim kering pertama, dan pergiliran tanaman padi ke palawija.
  • Mengembangkan pompanisasi pada daerah-daerah yang masih memiliki cadangan air tanah permukaan dan dalam sebagai upaya penanggulangan potensi kekeringan.
  • Memperbaiki saluran-saluran irigasi dan embung/bendungan agar efektivitas penggunaannya meningkat, terutama dalam menekan kehilangan air selama air ditampung di bendung atau pada saat air dialirkan ke lahan petani.
  • Meningkatkan daya dukung DAS di hulu melalui penghutanan kembali lahan-lahan gundul.
  • Mengembangkan rumah plastik sebagai upaya modifikasi iklim dan cuaca untuk produksi komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi.
  • Penentuan waktu tanam tanaman pangan sesuai dengan dengan kalender tanam terpadu.

Akumulasi gas rumah kaca di atmosfer membantu dalam memberikan suntikan panas ke Samudera pasifik, sehingga berdampak terhadap frekuensi dan intensitas kejadian El-Nino. Anomali iklim seperti El-Nino akan meningkatkan evaporasi yang akan menimbulkan kekeringan, cuaca buruk, dan badai topan. Kemarau panjang yang terjadi di Indonesia umumnya bersamaan dengan kejadian El-Nino. Dampak kekeringan sangat dirasakan di sektor pertanian tanaman pangan yang menjadi tumpuan bagi sebagian besar penduduk Indonesia, yang berpengaruh terhadap kerawanan pangan dan penurnan produksi tanaman. Selain melalui pendekatan teknis, antisipasi kekeringan dilakukan pula melalui pendekatan kelembagaan yang mencakup pendekatan strategis, taktis, dan operasional. (Dr. Ir. A.Wihardjaka, M.Si)