Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Pertanian Ramah Lingkungan pada Tanaman Pangan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Sejak digulirkannya revolusi Hijau tahun 1970-an, sistem budidaya tanaman pertanian selalu dipacu menghasilkan produksi yang optimum. Untuk mencapai target produksi tinggi tersebut, petani didorong dan cenderung mengeksploitasi sumberdaya biofisik alami, baik tanah, air, dan tanaman secara tidak bijaksana. Seiring dengan berjalannya waktu, produktivitas tanah mengalami penurunan, deraan cekaman lingkungan kian meningkat, kerentanan tanaman terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT) makin  meningkat. Untuk itu perlu digalakkan lagi sistem budidaya tanaman pangan yang memperhatikan aspek lingkungan dan bersifat keberlanjutan. Permasalahan pertanian pada era pasca revolusi hijau diindikasikan dengan ledakan populasi hama dan penyakit yang semakin tahan terhadap  pestisida. Booming ini menyebabkan penggunaan pestisida semakin marak dan berkembang di lahan pertanian. Selain permasalahan pestisida, pertanian dihadapkan lagi dengan industri yang semakin marak baik dibagian hulu ataupun hilir daerah aliran sungai.

Perubahan Iklim

Pencemaran logam berat seperti Pb dan Cd akibat maraknya industri ini sudah mulai terdeteksi dilahan pertanian, khususnya padi sawah. Belum selesai dengan permasalahan pestisida dan logam berat , pertanian dihadapkan lagi dengan isu perubahan iklim. Pertanian dalam konteks perubahan iklim berperan multidimensi, yaitu sebagai korban, sebagai sebagai solusi dan juga sebagai sumber penyebab perubahan iklim itu sendiri. Sebagai korban tentunya beberapa komoditas utama tanaman pangan seperti padi dan kacang-kacangan  akan terganggu akibat kenaikkan suhu udara.

Sebagai solusi, pertanian melalui tanaman perkebunan, mampu menyerap salah satu gas rumah kaca terbesar yaitu karbondioksida (CO2) melalui proses fotosintesis pada daun tanaman. Pertanian sebagai sumber emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfir salah satunya disebabkan oleh pemupukan yang tidak tepat waktu dan sasaran, serta pemberian pupuk berlebih. Cara pemupukan seperti ini dapat menyebabkan meningkatnya kandungan nitrogen oksida (N2O) di atmosfer. Gas N2O ini memiliki daya pantul radiasi panas yang 310 kali lebih besar dibandingkan dengan CO2. Lahan pertanian menghadapi kenyataan bahwa tingkat kesuburan tanah dari lahan pertanian eksisting semakin menurun akibat eksploitasi berlebihan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan hara mikro dan mikro pada tanah pertanian semakin berkurang. Para petani mengeluh karena tanahnya semakin keras dan sulit diolah akibat kekurangan bahan organik. Air semakin sulit karena iklim yang tidak menentu dan sumberdaya air di daerah tangkapan semakin berkurang akibat rusaknya hutan.

 

No.

Anasir

Kegiatan

1.

Peningkatan produktifitas

  • Penetapan sistem budidaya pengelolaan tanaman terpadu.
  • Pengembalian kompos atau bio-kompos (campuran kompos dan biochar) ke dalam tanah.
  • Sistem tanam sesuai kalender tanam terpadu.
  • Jarak tanam legowo.
  • Varietas adatif berdaya hasil tinggi dan rendah emisi.
  • Pemupukan N sesuai bagan warna daun.
  • Pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu.

2.

Rendah emisi gas rumah kaca

  • Penggunaan varietas berdaya hasil tinggi dan rendah emisi (Ciherang, Membramo, Way Apoburu, IR64, Tukad Petanu, Situ Bagendit).
  • Pembenaman pupuk N (deep placement).
  • Penetapan sistem irigasi berselang (Intermittent).
  • Pemberian bahan penghambat nitrifikasi alami seperti mimba dan gulma babandotan.

3.

Adatif terhadap perubahan iklim

  • Penggunaan varietas toleran terhadap kekeringan dan salinitas.
  • Pemanfaatan embung.
  • Memperbanyak biopori di areal pertanaman.

4.

Penerapan pengendalian hama terpadu

  • Pengunaan insektisida secara bijaksana.
  • Penggunaan biopestisida seperti pestisida nabati.
  • Pemanfaatan urine ternak sebagai biopestida.
  • Penggunaan insect light trap untuk memantau serangga dominan.

5.

Rendah cemaran logam berat

  • Penggunaan bio-kompos untuk meningkatkan produktivitas tanah dan menyerap logam berat.

6.

Bebas limbah

  • Pemanfaatan sludge (ampas biodigester) untuk pembuatan kompos.

7.

Pemanfaatan sumberdaya lokal

  • Pemanfaatan limbah pertanian berkadar lignin rendah sebagaai kompos dan yang berkadar lignin tinggi seperti tongkol jagung dan sekam padi sebagai bahan biochar.

8.

Terjaganya keanekaragaman hayati

  • Pemanfaatan biokompos dan biopestisida dapat melestarikan keanekaragaman hayati sekitarnya baik mikro, meso, dan makro biota tanah seperti bakteri penyubur tanah, predator.

9.

Integrasi tanaman-ternak

  • Penerapan sistem integrasi tanaman-ternak meningkatkan pendapatan petani baik dari komponen budidaya tanaman pangan, komponen ternak, komponen energi terbarukan, meningkatkan kesuburan tanah, dan mengurangi pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer.

10.

Konservasi tanah dan air

  • Pengembalian bio-kompos untuk meningkatkan kapasitas menahan air dan struktur tanah.
  • Penerapan biopori untuk menjaga keanekaragaman hayati, memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah, membantu memperbaiki serapan hara oleh akar.

Ramah Lingkungan

Dengan memperhatikan permasalahan di atas, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Lingkungan Pertanian menawarkan konsep pertanian ramah lingkungan. Konsep ini mengacu pada pendekatan ekologis yang tidak bersifat eksploitatif, dan disesuaikan dengan kondisi alami. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian mengembangkan dan menerapkan model pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan. Beberapa model pertnaian ramah lingkungan yang berkelanjutan. Beberapa model pertanian ramah lingkungan bberkelanjutan diyakini dapat mendukung tercapainya produktifitas tanah dan tanaman yang tinggi dengan memperhatikan aspek-aspek lingkungan. Model tersebut adalah peningkatan produktifitas, rendah emisi gas rumah kaca, adatif terhadap perubahan iklim, penerapan pengendalian hama terpadu, rendah cemaran logam berat, bebas limbah, pemanfaatan sumberdaya lokal, terjaganya keanekaragaman hayati, integrasi tanaman-ternak, konservasi tanah dan air. (A.Wihardjaka dan Prihasto Setyanto/Balingtan)

No.

Anasir

Kegiatan

1.

Peningkatan produktifitas

Ø Penetapan sistem budidaya pengelolaan tanaman terpadu.

Ø Pengembalian kompos atau bio-kompos (campuran kompos dan biochar) ke dalam tanah.

Ø Sistem tanam sesuai kalender tanam terpadu.

Ø Jarak tanam legowo.

Ø Varietas adatif berdaya hasil tinggi dan rendah emisi.

Ø Pemupukan N sesuai bagan warna daun.

Ø Pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu.

\

Rendah emisi gas rumah kaca

Ø Penggunaan varietas berdaya hasil tinggi dan rendah emisi (Ciherang, Membramo, Way Apoburu, IR64, Tukad Petanu, Situ Bagendit).

Ø Pembenaman pupuk N (deep placement).

Ø Penetapan sistem irigasi berselang (Intermittent).

Ø Pemberian bahan penghambat nitrifikasi alami seperti mimba dan gulma babandotan.

3.

Adatif terhadap perubahan iklim

Ø Penggunaan varietas toleran terhadap kekeringan dan salinitas.

Ø Pemanfaatan embung.

Ø Memperbanyak biopori di areal pertanaman.

4.

Penerapan pengendalian hama terpadu

Ø Pengunaan insektisida secara bijaksana.

Ø Penggunaan biopestisida seperti pestisida nabati.

Ø Pemanfaatan urine ternak sebagai biopestida.

Ø Penggunaan insect light trap untuk memantau serangga dominan.

5.

Rendah cemaran logam berat

Ø Penggunaan bio-kompos untuk meningkatkan produktivitas tanah dan menyerap logam berat.

6.

Bebas limbah

Ø Pemanfaatan sludge (ampas biodigester) untuk pembuatan kompos.

7.

Pemanfaatan sumberdaya lokal

Ø Pemanfaatan limbah pertanian berkadar lignin rendah sebagaai kompos dan yang berkadar lignin tinggi seperti tongkol jagung dan sekam padi sebagai bahan biochar.

8.

Terjaganya keanekaragaman hayati

Ø Pemanfaatan biokompos dan biopestisida dapat melestarikan keanekaragaman hayati sekitarnya baik mikro, meso, dan makro biota tanah seperti bakteri penyubur tanah, predator.

9.

Integrasi tanaman-ternak

Ø Penerapan sistem integrasi tanaman-ternak meningkatkan pendapatan petani baik dari komponen budidaya tanaman pangan, komponen ternak, komponen energi terbarukan, meningkatkan kesuburan tanah, dan mengurangi pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer.

10.

Konservasi tanah dan air

Ø Pengembalian bio-kompos untuk meningkatkan kapasitas menahan air dan struktur tanah.

Ø Penerapan biopori untuk menjaga keanekaragaman hayati, memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah, membantu memperbaiki serapan hara oleh akar.