Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Pengukur Emisi Gas Rumah Kaca di Lahan Sawah secara Otomatis Teknologi Baru Karya Anak Negeri

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) yang berlokasi di Pati, Jawa Tengah merupakan salah satu lembaga penelitian di bawah naungan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Salah satu visi yang diemban Balingtan adalah menghasilkan informasi dan teknologi mitigasi emisi gas rumah kaca (GRK) dari lahan pertanian secara cepat, tepat dan akurat. Untuk memenuhi visi tersebut, Balingtan telah menemukan metode-metode dalam pengukuran emisi GRK dari lahan pertanian terutama dari lahan padi sawah. Dari sektor pertanian, lahan padi sawah merupakan penyumbang emisi GRK terutama metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O). Padahal kita ketahui bahwa padi adalah tanaman utama penghasil makanan pokok di Indonesia.

Secara manual, pengambilan sampel GRK dilakukan secara manual yaitu gas ditangkap menggunakan boks sungkup tertutup (chamber) portabel, diambil menggunakan jarum suntik (syringe), dan kemudian dianalisis menggunakan gas chromatography (GC). Pengambilan sampel GRK secara manual hanya dapat dilakukan beberapa kali pada beberapa fase pertumbuhan tanaman karena keterbatasan waktu, alat, dan tenaga. Seiring dengan perkembangan teknologi, metode pengambilan sampel GRK di Balingtan pun semakin berkembang dan canggih.

Pada tahun 1993 melalui proyek penelitian kerja sama IRRI, Fraunhofer Institute for Atmospheric Environmental Research (Lembaga Penelitian Lingkungan Atmosfer di Fraunhofer Jerman), dan Badan-badan penelitian di Cina, India, Indonesia, Filipina dan Thailand, Balingtan mempunyai alat pengukur emisi metana dari lahan sawah yang dioperasikan secara otomatis. Penangkapan gas metana dilakukan dengan 12 chamber otomatis dan analisis gas metana secara langsung menggunakan kromatografi gas (GC) Shimadzu 8A. Alat pengukur emisi metana otomatis ini dapat beroperasi selama 24 jam penuh selama beberapa musim tanam. Dengan data-data dari alat tersebut peneliti Balingtan memperoleh informasi waktu optimal pengambilan sampel gas metana, yaitu jam dan fase pertumbuhan tanaman yang optimal untuk pengambilan sampel gas metana guna mendapatkan nilai fluks dan emisi metana dari lahan sawah yang akurat.

Namun seiring dengan bertambahnya usia alat, kerusakan semakin banyak terjadi. Penggantian komponen alat sulit dilakukan karena seluruh komponen alat berasal dari luar negeri. Bahkan banyak komponen yang sudah tidak diproduksi lagi. Akibatnya saat ini perangkat pengambilan sampel gas otomatis ini kurang bekerja maksimal dan hanya dioperasikan seminggu sekali selama 10 jam.

Untuk mengembalikan fungsi otomatisasi pengukuran GRK, pada tahun 2013 Balingtan bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan modernisasi pengukuran emisi GRK. Modernisasi yang dimaksud berupa pembangunan laboratorium lapang dengan jumlah chamber 24 buah dan perangkat pengukuran emisi GRK otomatis yang terhubung langsung dengan gas chromatography (GC). Indonesia patut bangga dengan keberhasilan pembangunan peralatan pengukur emisi GRK otomatis ini karena pada saat ini alat tersebut merupakan satu-satunya pengukur emisi GRK otomatis dengan jumlah chamber terbanyak di dunia. (Ali Pramono, SP, M.Biotech/Balingtan)