Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Pertanian Berbasis Surjan pada Lahan Sawah Tadah Hujan untuk Adaptasi Perubahan Iklim

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Perubahan iklim berdampak serius terhadap berbagai sektor di tanah air, termasuk sektor pertanian.  Perubahan iklim mengakibatkan antara lain pergeseran musim tanam, kebanjiran, kekeringan, yang akhirnya menyebabkan penurunan produksi pertanian tanaman pangan   seperti padi dan palawija. Di daerah lahan sawah tadah hujan, dampak perubahan ikllim lebih terasa dibandingkan lahan sawah irigasi, karena sumber air di lahan sawah tadah hujan hanya mengandalkan dari air hujan. Optimalisasi sawah tadah hujan untuk meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman diperlukan dengan menerapkan intensifikasi melalui penggunaan varietas unggul, pengelolaan air, dan pengelolaan hara dengan pendekatan sistem surjan. Sistem surjan memungkinkan dalam mengoptimalkan ketersediaan lahan dengan memadukan tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Pada sistem surjan, bagian tanah bawah (tabukan) digunakan untuk budidaya padi sawah, dan bagian tanah atas (guludan) digunakan untuk budidaya tanaman palawija dan/atau tanaman tahunan seperti mangga, jeruk, pepaya, dll.

Kotoran ternak atau pupuk kandang merupakan salah satu pembenah organik tanah yang berfungsi untuk memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan hayati tanah. Pemberian kotoran ternak ke dalam tanah diduga berpengaruh terhadap kuantitas pelepasan gas rumah kaca (GRK) yang tergantung pada karakteristik tanah dan ketersediaan air dan O2. Pemberian pupuk kandang yang telah matang umumnya mempunyai nisbah C/N rendah merupakan salah satu sumber bahan organic alternative untuk memperbaiki kesuburan tanah sawah tadah hujan. Pupuk kandang matang (nisbah C/N rendah) mengemisi metana lebih rendah daripada pengembalian jerami kering dan pupuk hijau.

Pemilihan varietas padi yang menghasilkan gabah tinggi sekaligus berdaya emisi rendah merupakan pilihan tepat dalam pengelolaan lahan sawah tadah hujan hal ini dapat diketahui dari indeks emisi. Indeks emisi menggambarkan besarnya emisi GRK yang dilepaskan dari tanaman padi setiap kg atau ton gabah yang dihasilkan. Oleh karena itu, kegiatan penelitian diperlukan untuk mengetahui besarnya emisi GRK dari varietas padi berbeda yang diberi pupuk kandang dari kotoran sapi dengan takaran berbeda di ekosistem sawah tadah hujan berbasis surjan.

Demplot surjan : kombinasi varietas (Inpari1, Invari 6 dan Ciherang) dengan takaran pupuk kandang sapi ( 5 dan 30 t/ha) pada lahan sub optimal sawah tadah hujan. Kombinasi pupuk kandang dan varietas padi nyata berpengaruh positif terhadap hasil gabah, Hasil gabah tertinggi dihasilkan pada varietas Inpari 1 yang diberi  pupuk kandang dengan takaran 30 t ha-1. Ini menunjukkan bahwa varietas padi Inpari 1 lebih tanggap terhadap pemberian pupuk kandang dengan takaran tinggi dibandingkan varietas Inpari 6 dan Ciherang. Hasil gabah rata-rata dari varietas Inpari 1, Inpari 6, dan Ciherang masing-masing adalah 6,27; 6,01; dan 5,70 t ha-1. Pemberian pupuk kandang 5  dan 30 t ha-1 menghasilkan gabah rata-rata 6,06 dan 5,92 t ha-1. Pemberian pupuk kandang dengan takaran tinggi dapat memberikan hasil tanaman buruk yang disebabkan oleh kelebihan garam atau hara yang berpotensi mencemari air tanah. (Ir. Mulyadi/Balingtan)