Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan Untuk Tumpangsari Karet Dan Nanas

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Perubahan iklim akibat peningkatan laju emisi (pelepasan) gas rumah kaca (GRK) telah memperlihatkan dampak yang sangat mengkhawatirkan. Hal ini terlihat dari perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu udara dan naiknya permukaan laut. Perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh perubahan iklim dapat mempengaruhi berbagai sektor yang ada, terutama secara langsung mempengaruhi sistem produksi sektor pertanian, yang akan berujung kepada ketahanan pangan di Indonesia. Semakin sempitnya lahan mineral untuk sektor pertanian dan kehutanan, lahan gambut menjadi suatu pilihan dan memiliki peranan penting, terutama dilihat dari segi ekonomi maupun lingkungan. Cadangan karbon yang tinggi pada lahan gambut akan teremisi dengan cepat begitu lahan ini dibuka untuk berbagai sektor, termasuk sektor pertanian. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya agar emisi GRK di lahan gambut dapat dikendalikan.

Dalam keadaan alami, tanah gambut mengalami proses dekomposisi yang menghasilkan gas rumah kaca (GRK) secara perlahan, sehingga emisi yang dihasilkannya relatif seimbang dengan penyerapan oleh vegetasi alami dalam bentuk CO2 bahkan kadang kala berperan sebagai sink karbon. Dalam tiga dekade terakhir, lahan gambut telah digunakan secara intensif untuk aktivitas pertanian tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Alih fungsi lahan gambut untuk budidaya tanaman pertanian akan mengurangi stabilitas dan mempercepat proses dekomposisi. Selain itu, deforestasi dan degradasi lahan gambut memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan emisi GRK nasional.

Komitmen Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 26% disampaikan oleh presiden Indonesia dalam pertemuan G-20 di Copenhagen. Adanya tudingan negara barat bahwa Indonesia merupakan emitor karbon ke-3 di dunia perlu segera untuk ditindaklanjuti dengan berbagai penelitian dan upaya adaptasi dan mitigasi. Oleh karena itu perlu adanya upaya yang terintegrasi dan sistematis untuk menghambat laju pemanasan global tersebut berdasarkan hasil penelitian GRK secara akurat dan ilmiah. Penggunaan bahan amelioran selain untuk membenahi unsur-unsur hara dalam tanah gambut dan dapat meningkatkan hasil juga dapat menekan emisi GRK di lahan gambut karena amelioran berfungsi dalam mempertahankan stabilitas tanah gambut melalui penekanan laju kehilangan karbon dalam bentuk CH4 dan CO2.

Penelitian mengenai penggunaan bahan amelioran untuk menekan emisi GRK dilakukan oleh Balai Penelitian Lingkungan Pertanian dilakukan pada tahun 2007, 2008, 2009 dan 2010 di kebun percobaan Balingtan (percobaan mikroplot), serta tahun 2009 dan 2010  di landasan Ulin, Kalimantan Selatan (percobaan lapang). Beberapa bahan amelioran yang digunakan dalam penelitian tersebut antara lain: dolomit, zeolit, terak baja, jerami kering, pupuk kandang dan pupuk silikat. Masing-masing bahan amelioran diaplikasikan sebesar 2 t/ha.

Melalui program penelitian yang dibiayai oleh ICCTF (Indonesian Climate Change Trust Fund), Badan Litbang Pertanian melakukan penelitian mengenai ”Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan”. Penelitian ini bertujuan untuk menggali semua aspek yang berkaitan dengan pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan untuk kegiatan pertanian. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian sesuai dengan tupoksinya, fokus pada aspek kuantifikasi emisi gas rumah kaca. Pada awal program penelitian ini dijalankan, dibangun 4 demplot penelitian di 4 lokasi yang berbeda. Di Propinsi Riau dan Jambi pada areal pertanaman kelapa sawit, Propinsi Kalimantan Tengah pada pertanaman karet dan Kalimantan Selatan berbasis tanaman pangan.

Pengelolaan lahan gambut untuk tanaman tahunan, akan memberikan nilai ekonomis lebih apabila ditumpangsarikan dengan tanaman musiman. Hal ini menjadi titik tolak pemikiran pembangunan demplot penelitian di semua lokasi. Selain menerapkan teknologi untuk menurunkan emisi GRK dari tanah gambut, di setiap demplot tanaman tahunan, ditumpangsarikan dengan tanaman semusim (pangan, hortikultura) yang mempunyai nilai ekonomis.

Hasil studi di Propinsi Kalimantan Tengah pada pertanaman karet yang ditumpangsarikan dengan tanaman nenas dan pemberian bahan amelioran berupa pupuk kandang, Pugam A, Pugam T dan tanah mineral menunjukkan adanya penurunan emisi GRK sampai dengan 20% dibandingkan dengan kontrol. Pengamatan emisi GRK dilakukan secara intensif setiap minggu selama kurang lebih 4 bulan.

Untuk gambut di Kalimantan Tengah, ada 3 bahan amelioran yang paling berpengaruh dalam menurunkan fluks CO2, yaitu tanah mineral, pugam T dan pupuk kandang (pukan). Ameliorasi di lahan gambut dilakukan di sekitar piringan tempat pemupukan dilakukan atau sekitar 1 sampai 2 meter dari batang pokok tanaman. Selain di piringan, ameliorasi juga dilakukan di sela tanaman terutama apabila sel tanaman tersebut ditanami tanaman produktif lain seperti jagung, kacang tanah atau tanaman hortikultura. Hasil analisis menunjukkan bahwa efektivitas bahan amelioran dalam menurunkan fluks CO2 hanya berlangsung sampai dengan 12-16 minggu setelah aplikasi. Oleh karena itu, untuk lahan gambut Kalimantan Tengah dianjurkan agar pemberian amelioran perlu dilakukan secara rutin untuk mengurangi emisi CO2 di lahan gambut. (Miranti Ariani, SP, M.Si/Balingtan)