Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Pengelolaan Lahan Gambut Secara Berkelanjutan: Tradeoff Antara Aspek Ekonomi Dan Lingkungan

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Dengan   semakin   meningkatnya    permintaan   akan  produk   pertanian,   baik dari pasar   domestik, maupun pasar Internasional, maka selain melalui intensifikasi peningkatan tersebut dipenuhi   melalui perluasan lahan pertanian. Lahan pertanian yang ideal semakin tidak tersedia sehingga   perluasan  meluas  ke lahan  yang  secara agronomis tidak ideal (sub-optimal), termasuk lahan gambut. Luas lahan gambut di Indonesia sekitar 14,9 juta hektar, terutama tersebar di Pulau Sumatera,   Kalimantan dan Papua. Sekitar 3 juta hektar dari lahan tersebut sudah  digunakan  untuk berbagai    penggunaan  pertanian; sekitar setengahnya digunakan untuk perkebunan kelapa sawit. Namun di samping  lahan yang produktif tersebut  terdapat  sekitar 4,2 juta ha (28%  dari total  luas  lahan  gambut) yang ditutup oleh semak-belukar  yang tidak produktif. Lahan tersebut terlantar karena   masalah status lahan dan  kepemilikan, kesuburan tanah yang rendah, tidak tersedianya tenaga kerja  dan tidak adanya infrastruktur dan kelembagaan pendukung. Selain tidak produktif lahan ini menjadi sumber emisi gas rumak kaca (GRK) dan rentan terhadap kebakaran.

Penggunaan lahan  gambut dihadapkan kepada kontroversi antara pembangunan ekonomi  dan  masalah lingkungan. Masalah lingkungan yang sangat menonjol beberapa tahun terakhir adalah besarnya emisi gas rumah kaca (GRK), terutama karbon dioksida (C02) yang ditimbulkan apabila hutan gambut dikonversi dan dikeringkan (didrainase) untuk pertanian dan berbagai penggunaan lainnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian dalam proyek Indonesian Climate Change Trust Fund (ICCTF) yang berlangsung antara bulan September 2012 sampai Agustus 2014 telah mempelajari perimbangan (tradeoff) aspek ekonomi dan lingkungan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di lima lokasi di provinsi Riau dan Jambi dengan komoditas tanaman kelapa sawit, Kalimantan Tengah dengan komoditas karet, Kalimantan Barat dengan komoditas tanaman semusim   (jaqunq, nenas) dan Papua dengan tanaman sagu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemupukan dan pengaturan drainase yang tepat  merupakan kunci keberhasilan pertanian di lahan gambut. Hasil pertanian dan tingkat keuntungan di lahan gambut  memberikan keuntungan yang setara dengan keuntungan pertanian di lahan mineral jika petani mampu memberikan suasana yang ideal bagi  kebutuhan  tanaman. Keuntungan tertinggi dicapai dari tanaman karet (Iebih dari 30 juta  rupiah per  ha  per tahun), diikuti oleh kelapa sawit (berkisar  antara 11-33 juta rupiah per ha per tahun) dan yang terendah adalah jagung dan sagu (sekitar 4-6 juta rupiah per hektar per tahun).   Penelitian juga menunjukkan tingkat keuntungan bersih yang jauh lebih tinggi untuk tanaman sayur- sayuran. Driver konversi hutan menjadi tanaman kelapa sawit paling tinggi karena mudahnya  pemasaran dan relative rendahnya kebutuhan akan tenaga kerja.

Penggunaan lahan gambut untuk pertanian ada kalanya berdampak terhadap peningkatan emisi gas rumah (GRK), adakalanya tidak, tergantung kepada apa penggunaan lahan yang dikonversi. Jika yang dikonversi ke lahan pertanian adalah hutan, dipastikan emisi meningkat tajam, tetapi jika yang dikonversi adalah lahan semak belukar emisi hampir tidak berubah, bahkan ada kalanya lebih rendah dibandingkan dengan emisi pada lahan semak belukar. Di dalam perdagangan karbon dikenal istilah opportunity cost, maksudnya adalah hilangnya kesempatan bagi pemilik lahan untuk  mendapatkan keuntungan untuk setiap ton CO2 penurunan emisi. Opportunity cost (disebut sebagai biaya penurunan emisi) bisa bernilai positif, namun ada kalanya bernilai negatif. Opportunity cost bernilai positif tinggi berhubungan dengan perubahan penggunaan lahan semak belukar ke lahan pertanian yang tidak signifikan meningkatkan emisi namun keuntungan ekonominya cukup tinggi. Opportunity cost negative dengan  nilai absolut tinggi berarti bahwa perubahan penggunan lahan selain menurunkan emisi juga memberikan keuntungan ekonomi. Ini  terjadi dalam kasus jika perubahan-lahan menjadi lahan pertanian, selain memberikan keuntungan ekonomi juga menurunkan emisi GRK. Ini bisa terjadi dalam beberapa kasus konversi semak belukar menjadi lahan pertanian. Karena peningkatan emisi tidak signifikan atau malah negatif dan peluang mendapatkan keuntungan cukup tinggi maka rehabilitasi semak belukar menjadi lahan  pertanian perlu didorong melalui berbagai kebijakan pemerintah.

Untuk mensukseskan pembangunan pertanian, tanpa memperburuk masalah lingkungan maka diperlukan kerjasama pemerintah bersama swasta untuk :

  1. Mengoptimalisasi pemanfaatan lahan pertanian existing, misalnya dengan meminimalkan kedalaman drainase untuk memperlambat penurunan permukaan (subsidence) gambut, petani gurem perlu dibantu secara teknis dan finansial untuk penerapannya.
  2. Memprioritaskan penggunaan lahan semak belukar untuk perluasan pertanian di lahn gambut dan melindungi hutan dari konversi, pendekatan ini memerlukan beberapa regulasi dan deregulasi dalam tata guna lahan, misalnya melalui tukar guling (land swap) antara lahan hutan gambut untuk konservasi dan lahan semak belukar untuk pertanian. Berbagai insentif juga diperlukan bagi pemilik lahan sebagai kompensasi dalam melindungi hutan.
  3. Mengevaluasi kesesuaian dan status hukum dan kepemilikan lahan semak belukar untuk dapat direhabilitasi menjadi lahan pertanian.

(admin balingtan)