Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Indonesia Memiliki Laboratorium Pengukur Emisi GRK Terbesar di Dunia

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan – Belum banyak yang mengetahui jika Indonesia kini memiliki laboratorium pengukur emisi Gas Rumah Kaca (GRK) untuk lahan sawah terbesar di dunia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) yang berlokasi di Jaken-Jakenan, Pati, Jawa Tengah yang telah berhasil mengembangkan alat pengukur emisi GRK secara otomatis tersebut. Keberhasilan ini merupakan upaya mewujudkan visinya yaitu menghasilkan informasi dan teknologi mitigasi emisi GRK dari lahan pertanian secara cepat, tepat, dan akurat. Metode-metode pengukuran emisi GRK dari lahan pertanian, terutama dari lahan padi sawah pun berhasil dikembangkan.

Metode pengukuran emisi GRK dinilai penting karena dari sektor pertnaian, lahan padi sawah menjadi salah satu penyumbang emisi GRK, terutama metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O). Padahal, padi merupakan tanaman utama penghasil makanan pokok di indonesia. Laboratorium ini kini lebih modern jika dibandingkan 20 tahun silam. Tahun 2013, Balingtan bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memodernisasi pengukuran emisi GRK. Modernisasi yang dimaksud berupa pembangunan laboratorium lapang dengan jumlah chamber 24 buah dan perangkat pengukuran emisi GRK otomatis yang terhubung langsung dengan Gas chromatography (GC).

Dengan peralatan dan GC terbaru ini, dapat diukur tiga gas sekaligus, yaitu CO2, CH4, dan N2O. Banyak keunggulan laboratorium pengukuran emisi GRK ini peneliti dapat melakukan percobaan dengan lebih banyak variasi perlakuan. Misalnya untuk pengujian jenis tanah, varietas tanaman padi, bahan amelioran, pola tanam dan lain sebagainya. Sistem pengukur emisi GRK ini memiliki delapan keunggulan jika dibandingkan dengan sistem yang lama, yaitu:

  1. Memiliki 24 chamber berukuran 1x1x1,2 meter, pada sistem yang lama jumlahnya baru 12 chamber.
  2. Dapat megukur tiga Gas Rumah Kaca sekaligus (CH4, CO2, dan N2O), sedangkan pada sistem yang lama hanya mampu mengukur CH4.
  3. Memiliki stop log pada masing-masing hidroliknya sehingga membuat daya tahan hidrolik yang lebih lama dibandingkan dengan sistem sebelumnya.
  4. Sistem pengambilan gas didalam chamber dibuat seperti trisula sehingga menjamin gas yang diukur adalah hasil dari homogenisasi gas di dalam chamber.
  5. Masing-masing chamber dilengkapi dengan alat pengukur suhu tanah, suhu udara dalam chamber, dan suhu udara luar chamber. Kehadiran ketiga komponen suhu ini menambah keakuratan pengukuran GRK dari lahan sawah.
  6. Sistem dibuat berseri sehingga menjadi lebih rapi dan mudah dalam perawatan dan perbaikan, sedangkan sistem lama dibuat paralel.
  7. Bila ada salah satu alat tidak berfungsi, dapat dideteksi dari layar komputer dari ruang kerja utama.
  8. Seluruh komponen hardware merupakan buatan lokal yang mudah diperoleh di Indonesia.

Indonesia patut bangga dengan keberhasilan pembangunan peralatan pengukuran emisi GRK secara otomatis ini. Alat ini merupakan satu-satunya pengukur emisi GRK otomatis dengan jumlah chamber terbanyak di dunia. Data penelitian emisi GRK dari lahan sawah sangat penting dalam upaya mendukung Perpes No. 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN GRK) dan Perpres No. 71 tahun 2011 tentang Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional. Kedua Perpres tersebut dikeluarkan sebagai komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi GRK pada tahun 2020 sebesar 26% dengan upaya sendiri jika dibandingkan dengan garis dasar pada kondisi bussines as usual (BAU) Baseline dan sebesar 41% apabila ada dukungan internasional. Data tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan di tingkat pemerintah maupun di lapangan oleh para pelaku pertanian Indonesia yaitu para petani sendiri demi lingkungan hidup yang lebih baik. (Admin Balingtan)