Dampak Penggunaan Pestisida pada Usahatani Sayuran

Cetak

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Penggunaan pestisida secara nyata berkontribusi positif terhadap peningkatan produksi tanaman.  Kenyataan tersebut secara tidak langsung telah mempengaruhi pola pikir petani bahwa pestisida bukan lagi menjadi komponen pendukung tetapi telah menjadi komponen utama. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa penggunaan pestisida pada komoditas hortikultura mencapai 30% dari keseluruhan biaya usahatani, dan ini mengalahkan komponen pengadaan bibit/benih dan komponen sewa lahan. Saat ini penggunaan pestisida telah menjadi mentalitas petani, dimana penggunaannya tidak lagi tergantung dari ada atau tidaknya organisme pengganggu tanaman (OPT) di lapangan, sehingga penggunaannya tidak mungkin/sulit dihentikan termasuk oleh pemerintah karena alasan ekonomi. Petani akan lebih terasa tenang/nyaman apabila tanamannya telah disemprot pestisida, meskipun hal tersebut bukan jaminan keberhasilan.

Mentalitas petani terhadap penggunaan pestisida telah menggeser pola penggunaan pestisida di lapangan, mulai dari sangat berhati-hati dan tradisonal (saat awal revolusi hijau) sampai  modern seperti menggunakan jet pump (sekarang).  Jelas pola penggunaan pestisida seperti  ini bertentangan dengan kaidah-kaidah pertanian modern dimana di dalamnya mensyaratkan produk yang bebas cemaran bahan agrokimia seperti residu pestisida dan logam berat.

Pengertian pestisida adalah obat bukan racun telah mengacaukan pengertian petani, sehingga timbul anggapan bahwa dengan menyemprot pestisida pada tanaman merupakan tindakan memberikan obat pada tanaman.  Dampak yang muncul kemudian adalah timbulnya dampak negatif penggunaan pestisida, seperti  residu pestisida pada pada tanah, air, produk tanaman, dan bahkan terhadap kesehatan manusia.  Untuk meminimalkan dampak tersebut harus dibangun pengertian bahwa pestisida adalah racun bukan obat, sehingga penggunaannya lebih bijaksana dan berhati-hati.

Dari keempat dampak tersebut, dampak pada produk tanaman dan kesehatan manusia merupakan dampak yang harus mendapat perhatian dan penanganan yang serius. Dampak yang dapat timbul pada manusia adalah mulai dari gejala ringan, seperti mual, iritasi kulit, muntah, sampai dampak berat seperti kematian. Dampak kronis seperti: karsinogenik (kanker), dan Eds (Endokrin Discrupting Pesticides) yaitu semacam enzim yang mempengaruhi metabolisme steroid, fungsi tiroid, spermatogenesis, aktivitas oestrogenik dan anti androgenik.  Dampak kronis tersebut membuat penderitaan seumur hidup dan tentunya membatasi aktivitas dan memerlukan biaya yang tinggi. (Poniman, SP/Balingtan)