Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Mitigasi Emisi Gas Rumah Kaca dengan Rimpang Kunyit Sekaligus Pengganti Insektisida Sintetik

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Kunyit (Curcuma domestica Val) merupakan salah satu tanaman obat yang dapat dibudidayakan di ekosistem tadah hujan. Kunyit sebagai tanaman sela ditumpangsarikan dengan tanaman utama seperti tanaman buah  mangga. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) telah memanfaatkan rimpang kunyit sebagai bahan pestisida nabati dan bahan penghambat nitrifikasi sebagai bagian konsep system integrasi tanaman-ternak bebas limbah untuk mendukung pengambangan pertanian bio-industri berkelanjutan.  Sebagai bahan pestisida nabati, rimpang kunyit relatif mudah diperoleh, mudah terurai di alam (biodegradable), residunya mudah hilang sehingga aman bagi manusia dan ternak, dan tidak mencemari lingkungan. Ekstrak rimpang kunyit digunakan sebagai upaya preventif terhadap serangga hama utama pada tanaman palawija ataupun sayuran.

Pemanfaatan kunyit sebagai bahan penghambat nitrifikasi merupakan salah satu upaya  mitigasi emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Serbuk rimpang kunyit yang diberikan bersamaan dengan pemupukan nitrogen pada padi sawah meningkatkan efisiensi pupuk nitrogen atau mengurangi kehilangan N dalam bentuk gas dinitrogen oksida (N2O). Seperti diketahui, satu molekul N2O mempunyai indeks pemanasan global 296 kali molekul CO2 dan waktu tinggal di atmosfer relatif lama yaitu 166±16 tahun. Hasil penelitian Balingtan menunjukkan bahwa rimpang kunyit mampu menurunkan produksi gas rumah kaca (metana dan N2O) di tanah sawah dari 20,7 mg  CO2-e /g tanah menjadi 10,5 mh CO2-e /g tanah atau menurunkan produksi GRK sebesar 49,3% dibandingkan tanpa diberi kunyit. (Dr. Ir A.Wihadjaka, M.Si/Balingtan)