Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Bagaimana Meningkatkan Produktivitas Padi di Daerah Rawan Banjir

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Perubahan iklim terjadi akibat peningkatan emisi gas rumah kaca di atmosfer dari aktivitas manusia. Salah satu subsektor yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti banjir ataupun kekeringan adalah tanaman pangan terutama beras yang menjadi andalan utama bagi penduduk Indonesia. Awal tahun 2014 terjadi banjir yang melanda pertanaman padi di beberapa daerah rawan banjir di Indonesia. IRRI pernah melaporkan dalam news about rice and people tertanggal 18 Mei 1996 bahwa di Asia Selatan dan Asia Tenggara, lebih dari 15% areal pertanaman padi terletak di daerah rawan banjir. Hasil padi di daerah rawan banjir relatif rendah berkisar 0,5-2,5 ton/ha/tahun, jauh lebih rendah dibandingkan dengan hasil padi di daerah beririgasi yang rata-rata mencapai 5-6 ton/ha. Petani di daerah rawan banjir adakalanya tidak panen sama sekali akibat tanaman padi gagal berproduksi.

Sebagai aksi adaptasi perubahan iklim, para pemulia dan pemerhati perubahan iklim didorong untuk menemukan varietas padi yang toleran terhadap rendaman atau banjir, dan tentunya berdaya hasil tinggi. Varietas padi toleran terhadap rendaman relatif masih terbatas. Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan IRRI telah merakit varietas dengan memasukkan gen Sub 1 (submergence 1) ke dalam varietas padi. Dengan introduksi gen Sub 1, tanaman padi mampu bertahan dalam rendaman selama 10-14 hari (Balitbangtan, 2011). Beberapa galur toleran terhadap rendaman dengan potensi hasil 8-9 t/ha, yaitu GM 226, GM 228, GM 291, GM 327, dan GM 338, sedangkan varietas padi yang cocok ditanam di daerah rawan banjir antara lain Inpara 3, Inpara 4, Inpara 5, dan Ciherang sub 1. Yang jadi pertanyaan, sudahkah petani di daerah rawan banjir mempertimbangkan varietas padi toleran terhadap rendaman dalam sistem usaha taninya.

Seperti kita ketahui bahwa tanaman padi umumnya bukan tanaman air, meski dalam pertumbuhannya memerlukan air, maka banjir dapat merendam seluruh tanaman padi. Padi biasanya tidak dapat tumbuh dengan adanya luapan air dan endapan lumpur tebal yang menyelimuti daun tanaman. Tanaman padi memerlukan air sebesar 200 mm per bulan untuk menunjang pertumbuhannya. Selain itu, petani di daerah rawan banjir di Indonesia dalam budidaya tanaman padi sebaiknya mempertimbangkan kalender tanam terpadu untuk memperoleh gambaran terkini penentuan waktu tanam, sarana produksi yang digunakan, dan informasi organisme pengganggu tanaman yang potensial menyerang tanaman.

Di daerah rawan banjir dimungkinkan bagi pengembangan pertanaman padi tanpa input kimia. Ini akan berdampak positif terhadap kelestarian ekosistem. Peningkatan produksi padi pada ekosistem tersebut akan mensejahterakan masyarakat di daerah rawan banjir karena tidak hanya memperoleh pangan yang aman dan cukup, tetapi juga dapat hidup lebih baik. (Dr. Ir A.Wihadjaka, M.Si/Balingtan)