Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Produk Organik Hortikultura Melimpah dengan Air Embung di Lahan Tadah Hujan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Lahan tadah hujan adalah lahan yang sistem pengairannya sangat mengandalkan curah hujan. Petani umumnya mengusahakan lahannya saat air tidak cukup di musim penghujan. Di musim kering lahan ini dibiarkan tidak diolah karena air sulit didapat atau tidak ada sama sekali. Budidaya hortikultura selain padi di lahan tadah hujan umumnya hanya dipanen setahun sekali.  Intensitas penggunaan tenaga kerja di lahan tadah hujan lebih tinggi karena petani harus menyiang (mencabut rumput) lebih sering dibandingkan lahan beririgasi, akibat suplai air yang tidak menentu. Dengan adanya Embung, petani bisa membudidayakan tanaman hortikultura secara intensif dan hasil panen melimpah. Penerapan konsep pertanian bioindustri ramah lingkungan secara berkelanjutan yang Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) terapkan sangat efektif untuk daerah lahan tadah hujan. Melalui penggunaan bahan organik seperti bio-pestisida, bio-kompos (campuran dengan kompos dan biochar), Sludge (limbah cair kotoran sapi), dan lain-lain. Produk organik hortikultura seperti tomat, kol, pare, terong, cabai, timun, selada, sawi, bayam dan lain-lain sangat tumbuh subur dengan pengairan dari embung itu sendiri.

Hal ini merupakan hasil yang cukup mengembirakan karena sistem pengairannya hanya mengandalkan teknologi embung. Embung itu sendiri merupakan Water Storage atau penampung pada musim hujan dan air limpasan di lahan sawah tadah hujan yang berdrainase baik. Kegunaan dari embung itu sendiri yaitu menyediakan air untuk pengairan tanaman di musim kemarau, meningkatkan produktivitas lahan, intensitas tanam, pendapatan petani di lahan tadah hujan, mencegah/mengurangi luapan air di musim hujan, dan menekan resiko banjir. Keberadaan air di embung dapat berasal dari curah hujan langsung dan air limpahan permukaan (run-off). Jumlah air penampungan dari curah hujan sekitar 30% dan dari limpasan permukaan sekitar 70% dari kapasitas tampungan embung. Untuk mendapatkan air dari limpahan permukaan diperlukan daerah tangkapan hujan. Luas daerah tangkapan hujan tergantung pada koefisien limpahan permukaan dan ukuran embung atau kapasitas tampungan embung. (Admin Balingtan)