Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

BALITBANGTAN Sebagai Anggota DELRI pada Sidang Codex Committee on Contaminants in Foods (CCCF) ke-9 New Delhi, India

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Dalam rangka pertemuan sidang CCCF ke-9, pemerintah Indonesia telah diundang untuk mengirimkan delegasinya. Kementrian Pertanian dalam hal ini diwakili oleh Badan Litbang Pertanian telah menugaskan Dr. Ir. Joni Munarso M.Si (Peneliti BB Pasca Panen), dan Balingtan diwakili oleh Triyani Dewi, SP, M.Si (Peneliti Balingtan) dan dua orang pejabat struktural dari BPOM yaitu Ati Widya Perana (Kasie Kodex Pangan, BPOM), Pratiwi Yuniarti Martoyo (Kasie. Standardisasi Bahan Baku), satu orang dari Kemendag yaitu Reni Zuliqa (Staf Pusat Pengawasan Mutu Barang, Kementerian Perdagangan) menjadi anggota Delegasi RI (DELRI) ke pertemuan Codex tersebut yang diselenggarakan di New Delhi, India pada tanggal 16-20 Maret 2015. Sidang dihadiri oleh 183 delegasi dari  55 negara anggota, 1 anggota organisasi dan 13 organisasi internasional. Pertemuan dipimpin oleh Ms Wieke TAS, Chairperson sidang dari CCCF. Sidang CCCF ke-9 dibuka oleh Mr. Alphonsus Stoelinga, Duta Besar Belanda, Mr. Yudhvir Singh Malik, Kepala Food Safety and Standards Authority, India dan Ms. Nata Menabde, Perwakilan WHO Regional.

Mata agenda pertemuan secara umum terbagi dalam empat segmen, yaitu:

a. Isu-isu administratif dan umum (Agenda 1 – 4 dan Agenda 18 – 21);

b. Industrial and Environmental Contaminants (Agenda 5 – 8);

c. Toxins ( Agenda 9 – 11);

d. Discussion Papers (Agenda 12- 17)

Secara substantif, Indonesia aktif menjadi salah satu pemrakarsa pembahasan untuk beberapa mata agenda.  Untuk persiapan pertemuan selanjutnya, Indonesia perlu menyiapkan data mengenai beberapa cemaran seperti Pb dalam passion fruit juices, Cd dalam produk kakao dan olahan cokelat, Aflatoksin pada produk kacang-kacangan siap konsumsi, arsen anorganik dalam beras pecah kulit (husked rice) dan Mikotoksin (Aflatoksin B1 dan Ochratoksin A) dalam spices (terutama nutmeg) dan total merkuri dan metilmerkuri pada ikan predator dan ikan jenis lainnya. Perlu dilakukan pula identifikasi kemampuan laboratorium di Indonesia untuk mengetahui peta kemampuan pengujian cemaran seperti arsen anorganik, DON,  dan metilmerkuri. (Triyani Dewi, SP/Balingtan)