Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Budidaya Cabai di Lahan Tadah Hujan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Salah satu program Kementerian Pertanian adalah percepatan swasembada pangan (padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, tebu, daging) melalui intensifikasi dan pemanfaatan lahan sub-optimal seperti lahan kering beriklim kering (lahan sawah tadah hujan). Ditopang oleh teknologi panen air hujan sebagai bentuk aksi adaptasi perubahan iklim, budidaya cabai di lahan tadah hujan dilakukan melalui strategi inovasi off season, dengan mempertimbangkan lonjakan harga cabai pada bulan Nopember –Januari akibat kelangkaan dan karakteristik produk yang tidak tergantikan. Hal tersebut hanya dapat diatasi dengan kebijakan pengembangan budidaya lahan kering pada musim kemarau, pengembangan teknologi budidaya dan pascapanen.

Budidaya tanaman cabai (Capsicum annuum L.) di lahan tadah hujan memerlukan ketrampilan yang cukup. Salah satu kendala budidaya cabai yang dapat mengurangi produktivitasnya adalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Seperti terlihat di petak pertanaman cabai pada musim kering 2015, daun tanaman cabe sebagian besar keriting, jika hal ini dibiarkan tanaman cabai akan kerdil, tidak dapat tumbuh dengan baik, tidak dapat berbuah, dan akan mati.

Faktor penyebab daun keriting ini bisa disebabkan oleh serangan hama seperti tungau (mite), thrips, kutu daun, kutu kebul dan virus. Hama kutu daun (Myzus persicae) menyerang mulai dari setelah tanam hingga tanaman berbuah. Mereka menyerang daun cabai dengan cara mengisap cairan dalam daun, terutama pada daun muda dan pucuk. Selain itu, tanaman cabai menjadi kuning dan kerdil karena terserang virus kuning (Gemini Virus), virus tersebut dibawa kutu kebul (Bemisia tabaci Genn) sebagai media penular (vektor) penyakit tanaman. Telur kutu kebul biasanya diletakkan di permukaan bawah daun, pada daun teratas (pucuk). Serangga dewasa biasanya berkelompok pada bagian permukaan bawah daun. Jika tanaman tersentuh biasanya akan berterbangan seperti kabut atau kebul putih.

Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada budidaya cabai merah dapat dilakukan dengan :

  1. Pengaturan pola tanam dengan melakukan pergiliran tanaman yang tidak berasal dari satu keluarga/famili.
  2. Pengaturan sistem tanam dengan tumpang gilir tanaman cabai merah dengan tanaman bawang merah di dataran rendah yang bertujuan untuk menekan serangan trips dan menanam tanaman penghadang 4 baris jagung di sekeliling tanaman cabai merah 1,5 bulan sebelum tanam cabai merah bertujuan untuk menekan serangan hama kutu kebul.
  3. Pemilihan varietas yaitu dengan cabai merah varietas Tanjung 1 yang agak toleran terhadap hama pengisap seperti trips dan kutu daun.
  4. Penggunaan mulsa plastik hitam perak yang bertujuan memutus siklus hidup hama, hal ini disebabkan hama seperti trips, ulat buah, ulat grayak tidak dapat berkepompong di dalam tanah di sekitar tanaman karena terhalang oleh mulsa plastik tersebut
  5. Modifikasi iklim mikro dapat dilakukan dengan pengaturan jarak tanam.
  6. Pemasangan perangkap OPT untuk menekan populasi trips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau dipasang perangkap lekat warna kuning sebanyak 40-50 buah/ha. Perangkap tersebut di pasang saat tanam.

Pengendalian OPT pada tanaman cabai mengacu pada pengendalian hama terpadu dengan meminimalisasi penggunaan pestisida kimiawi dengan mengganti biopestisida yang ramah lingkungan. Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) di Lembang telah mengembangkan biopestisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan Thrips (Thrips parvispinus) dan tungau (Polyphagotarsonemus latus) dengan nama ATECU. ATECU adalah akronim dari nama latin tanaman Azadirachta indica, Teprosia vogelli dan cow urine dengan perbandingan (1:1:4). ATECU berfungsi sebagai biopestisida dan penambah unsur hara. Cara pembuatannya semua bahan ditumbuk, kemudian direndam dalam urine sapi selama 15 hari, setelah itu disaring sehingga didapatkan konsentrasi 10 ml/L. Cara aplikasinya dengan menyemprotkan larutan ke daun yang terserang pada pagi atau sore hari. Berdasarkan hasil penelitian terbukti dapat mengurangi serangan thrips 57,13% dan tungau 55,57%. (Ina Zulaihah, SP/Balingtan)