Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Balingtan ikut serta dalam MARCO Symposium 2015 di Tsukuba, Jepang

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Pada tanggal 26-28 Agustus 2015 tim Balingtan menghadiri MARCO Symposium 2015, Next Challenges of Agro-environmental Research In Monsoon Asia di Tsukuba, Jepang. "Monsoon Asia" adalah wilayah Asia di bawah iklim muson, yang memiliki pertanian padi sebagai produksi pangan. Pertanian di Monsoon Asia sangat beragam dari utara ke selatan, areal sawah di negara-negara monsun Asia semua ditandai dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Negara-negara ini juga semua dihadapkan dengan kerusakan lingkungan di agro-ekosistem. Masalah ini mungkin disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan sebagai pembangunan ekonomi dan pertumbuhan penduduk, invasi spesies asing karena globalisasi perdagangan, dan kontaminasi dari lahan pertanian oleh polutan kimia dari industri. Selain itu, ada kekhawatiran besar bahwa ekosistem pertanian bisa runtuh akibat pemanasan global, dan kekhawatiran lain bahwa kegiatan pertanian sendiri menyebabkan pencemaran lingkungan seperti polusi air dengan pupuk kimia yang berlebihan dan pestisida, gas rumah kaca seperti metana dan dinitrogen oksida dari lahan pertanian.

Dalam acara MARCO Symposium 2015 pihak NIAES mengundang Dr. Prihasto Setyanto dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, sebagai “Lecturer” untuk memberikan presentasi mengenai tantangan pertanian di Indonesia. Dalam simposium Dr. Prihasto Setyanto menyampaikan berbagai tantangan pertanian di Indonesia berserta pemecahan masalahnya. Apresiasi muncul dari partisipan dan mendapatkan tanggapan yang baik dari berbagai negara dan institusi.

Acara dilanjutkan dengan kunjungan ke Yokota Farm di kota Ryuugasaki, pertanian di Jepang sudah maju dan menggunakan mekanisasi semua, peserta Symposium di tunjukkan lokasi sawah dan prosesing gabah menjadi beras sekaligus dengan pengepakannya. Kunjungan lapang selanjutnya di FACE (Free Air CO2 Enrichment) di kota Tsukuba-mirai, situs ini merupakan situs pecobaan NIAES dimana menggunakan teknologi tinggi dengan maksud membuat simulasi lapangan terbuka secara riil apabila kondisi CO2 meningkat dan efeknya terhadap padi sawah. Kunjungan lapang terakhir adalah ke NIAES di kota Tsukuba, disini peserta diajak mengunjungi laboratorium gas rumah kaca, lysimeter, kondisi chamber di lapangan, musium tanah dan musium serangga. (Ali Pramono, SP, M. Biotech/Balingtan)