Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Budidaya Salibu Ramah Lingkungan Di Lahan Tadah Hujan

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Swasembada padi berkelanjutan telah menjadi salah satu program pemerintah dalam tiga tahun ke depan (2015-2017). Pemerintah menargetkan pencapaian swasembada tercapai dengan pertumbuhan 2,21%/ tahun.  Berbagai inovasi telah dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) untuk meningkatkan produktivitas padi dan pencapaian target produksi, seperti penggunaan beberapa varietas unggul spesifik lokasi, Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), peningkatan indeks pertanaman, dan lain-lain. Saat ini salah satu upaya peningkatan indeks pertanaman adalah teknologi budidaya padi salibu yang mulai berkembang di Sumatera Barat dan dicobakan di beberapa daerah seperti Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sumatra Selatan, Riau, Aceh, Sumut, Babel, NTB dan lain-lain. Budidaya padi salibu merupakan ragam teknologi budidaya ratun, yaitu tunggul setelah panen tanaman utama dengan tinggi sekitar 25 cm, dipelihara selama 7-10 hari atau dibiarkan hingga keluar tunas baru.

Apabila tunas yang keluar kurang dari 70% maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu. Jika tunas yang tumbuh > 70% maka potong kembali secara seragam hingga ketinggian 3-5 cm, kemudian dipelihara dengan baik hingga panen. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan budidaya padi salibu adalah: hemat, tenaga kerja, waktu, dan biaya, karena tidak dilakukan pengolahan tanah dan penanaman ulang, selain itu menekan kebiasaan petani membakar jerami setelah panen.

Lahan tadah hujan merupakan lahan kering yang pengairannya mengandalkan dari curah hujan. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) mencoba mengembangkan budidaya padi salibu di lahan tadah hujan yang beraspekan ramah lingkungan. Salah satu tantangan dalam budidaya salibu di lahan tadah hujan adalah ketersediaan air. Embung di Balingtan merupakan suatu solusi yang dikembangkan untuk mengatasi hal tersebut. Embung merupakan penampungan dari panen hujan (rain harvesting) yang adaptif terhadap perubahan iklim. Teknologi lain yang dapat introduksi untuk mendukung kegiatan salibu yang ramah lingkungan antara lain :

  • Penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) produk Balitbangtan, Perguruan Tinggi atau Swasta.
  • Cara tanam “Jajar Legowo”
  • Pengairan bergilir
  • Penggunaan Katam Terpadu
  • Penggunaan Alat Mesin Pertanian
  • Pengendalian OPT Terpadu
  • Penambahan Bio-Kompos (Biochar – Kompos)
  • Pemupukan berimbang (BWD atau PUTS)
  • Sistem Tanam Gogo Rancah dan Walik Jerami
  • Penggunaan urea berlapis biochar
  • Penggunaan Bio-dekomposer/pupuk hayati

 Tanaman Induk/Utama

Tingkat keberhasilan budidaya padi salibu sangat ditentukan oleh pertumbuhan tanaman utamanya. Tanaman utama untuk budidaya padi salibu sebaiknya merupakan tanaman yang mempunyai produktivitas tinggi yang artinya benihnya berkualitas tinggi dan bersertifikat serta pemeliharaan secara intensif dengan menerapkan system jarwo super.

 Adapun tahapan utama dalam budidaya padi salibu sebagai berikut :

 Persiapan Lahan untuk Budidaya Padi Salibu

  1. Sebelum tanam tanaman utama dilakukan pengolahan tanah secara sempurna dan penambahan bahan organik sekitar 2-5 ton/ha.
  2. Saat panen tanaman utama diupayakan kondisi tanah tidak terlalu kering, jika kering maka dilakukan pemberian air segera setelah panen dengan ketinggian 2-5 cm.
  3. Sisa pemotongan panen tanaman utama sebaiknya diletakkan di sekitar tanaman atau sebagai penutup permukaan tanah untuk mempertahankan kelembaban tanah.
  4. Perombakan sisa jerami bekas potongan tunggul padi dipercepat menggunakan dekomposer.
  5. Gulma dibersihkan terutama secara mekanis, baik dengan menggunakan cangkul, sabit dan alat lainnya. Herbisida kontak pada areal terbatas diaplikasikan bilamana populasi gulma cukup padat dapat disemprot dengan herbisida.

 Pengolahan Tanah, Pesemaian, Tanam dan Pemotongan Ulang

Pada budidaya padi salibu, pengolahan tanah, pesemaian dan tanam hanya dilakukan pada tanaman utama. Ketiga kegiatan tersebut diganti dengan pemotongan ulang tunggul sisa panen. Panen tanaman utama dilakukan dengan mengikuti cara petani dengan meninggalkan sisa batang atau tunggul sekitar 25 cm dari permukaan tanah, selanjutnya dibiarkan selama 7-10 hari hingga keluar tunas baru. Apabila tunas yang keluar kurang dari 70% dari populasi maka tidak disarankan untuk dilakukan budidaya salibu. Jika memenuhi syarat dilakukan pemotongan ulang tunggul sisa panen secara seragam dengan alat pemotong hingga tersisa 3-5 cm dari permukaan tanah. Alat pemotong yang baik adalah alat mesin pemotong rumput bermata pisau petak. Pemeliharaan padi salibu dilakukan mulai dari pemotongan sisa batang tanaman utama sejak awal hari setelah pemotongan (HSP). Setelah tunas salibu keluar dilakukan pengairan hingga ketinggian 2-5 cm dari permukaan tanah atau tunas yang keluar tidak tenggelam.

 Penyulaman

Penyulaman dilakukan dengan memanfaatkan tunas-tunas salibu yang ada, caranya dengan memecah (membagi dua) tunas yang tumbuh hingga perakarannya, kemudian dipecah antara 2-3 anakan, lalu disulamkan ke lokasi tanaman yang tidak tumbuh.

 Pemupukan

Pemupukan salibu dilakukan sama dengan tanaman utama atau sesuai dengan rekomendasi spesifik lokasi, yang dilakukan berdasarkan Permentan Nomor : 40/Permentan/ OT.140/4/2007, Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), dan Pemupukan Hara Spesifik Lokasi (PHSL). Pemupukan dilakukan secara tabur pada kondisi air macak-macak, pemupukan pertama diberikan sebanyak 40% dari dosis pada saat tanaman salibu berumur antara 7-10 HSP. Pemupukan kedua diberikan sebanyak 60% dari dosis pada saat tanaman berumur 30-35 HSP. Dilakukan juga pemberian pupuk hayati dan penggunaan urea yang berlapis biochar.

 Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu

Hama dan penyakit merupakan cekaman biotik yang dapat mengurangi hasil, sehingga untuk mendapatkan hasil panen yang optimum perlu dilakukan pengendalian hama dan penyakit. Pada budidaya padi salibu pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara pengendalian OPT yang didasarkan pada ekologi, efisiensi, ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan berkelanjutan. Ketika tanaman salibu berumur 30 HSP, pengelolaan OPT dilakukan sama dengan tanaman padi pada umumnya.

 Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan gasrok atau cangkul kecil bertangkai panjang. Penyiangan dengan gasrok selain membuang gulma juga dapat digunakan untuk menggemburkan tanah dan perbaikan sistem perakaran tanaman salibu.

 Panen dan Produktivitas

Panen padi salibu dilakukan saat warna gabah menguning (95%) dan batang masih hijau Panen menggunakan thresher atau sabit (sisa tanaman maksimal 25 cm dari permukaan tanah). Teknologi padi salibu dapat menghemat waktu pertanaman sekitar 40 hari dibanding dengan tanam pindah. Tingkat produksi tanaman salibu sesuai input yang diberikan, diharapkan mampu berproduksi minimal sama dengan tanaman induknya (Asep Kurnia, SP, M.Eng-Balingtan).