Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Membangun Kedaulatan Pangan di Era Perubahan Iklim dalam Acara Hari Pangan Sedunia

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
 

Admin Balingtan-Hari Pangan Sedunia atau World Food Day ke-36 di Boyolali. Berbagai persiapan sudah dilaksanakan dalam acara tersebut. Menteri Pertanian Dr. Andi Amran Sulaiman mengatakan HPS tahun ini merupakan momentum untuk mengevaluasi hasil-hasil yang telah dicapai pemerintah. Adanya peningkatan dari beberapa sector seperti jagung, padi, cabai, dan bawang.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Muhammad Syakir mengatakan adanya penajaman dan perubahan yang pro rakyat. Gelar teknologi misalnya, sebagai partisipasi dari masyarakat lokal khususnya untuk memamerkan teknologi pertanian sederhana dengan banyak manfaat dan dapat diaplikasikan untuk petani di seluruh Indonesia.

Lebih lanjut Kepala Balitbangtan mengatakan, peringatan HPS juga momentum untuk gerakan keragaman pangan lokal. Bangga dengan potensi keanekaragaman pangan lokal, kebinekaan sumber karbohidrat yang mewujudkan kedaulatan pangan.

Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyaksikan panen raya Desa Trayu dan Tanjungsari Kecamatan Banyudono, Boyolali, Sabtu (29/10/2016), yang merupakan salah satu rangkaian acara puncak Hari Pangan Sedunia ke-36 di Indonesia. Panen Padi, salah satunya Inpari 32 HBD ini, dilaksanakan di area persawahan yang ada di dua Desa yaitu Tanjungsari dan Trayu Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Lahan potensial milik 230 petani di dua Desa ini mencapai 100 ha.

Di lokasi tersebut diperkenalkan teknologi jajar legowo super untuk Varietas Unggul Baru padi Inpari 30, Inpari 32, dan Inpari 33, dengan sistem tanam 2:1. Selain itu di lokasi Jarwo Super diperkenalkan juga teknologi mina padi.

Dalam implementasinya, teknologi ini menggunakan benih bermutu dengan potensi hasil tinggi, biodekomposer pada saat pengolahan tanah, pupuk hayati sebagai seed treatment dan pemupukan berimbang, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu, serta penggunaan alat mesin pertanian terutama untk tanam dan panen. Lebih lanjut Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa peningkatan hasil panen yang berlimpah tidak terlepas dari peran benih-benih unggul yang digunakan para petani serta ketersediaan air yang terpenuhi. (Admin Balingtan)