Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Penelitian Mengenai Teknologi Mitigasi GRK dari Lahan Padi Sawah dengan Penerapan Pengairan Basah-Kering

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
 
 
 
       

Berita Balingtan - MIRSA-2 project adalah proyek penelitian tentang perubahan iklim yang didanai oleh Pemerintah Jepang melalui NIAES (National Institute for Agro-Environmental Sciences) yang sejak awal tahun 2016 berubah nama menjadi NARO (National Agriculture and Food Research Organization). Kegiatan MIRSA-2 project dimulai sejak 2013 bekerjasama dengan beberapa institusi di 4 negara (Philipina, Thailand, Vietnam dan Indonesia) untuk melakukan penelitian mengenai teknologi mitigasi GRK dari lahan padi sawah dengan penerapan pengairan basah-kering (Alternate Wetting and Drying). Di Indonesia, melalui Badan Litbang Pertanian, kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (IAERI) selama 6 musim tanam.

Pertemuan di Bangkok, Thailand adalah pertemuan ke-4 sejak proyek ini dijalankan. Pertemuan dihadiri oleh perwakilan dari Negara Thailand (King Mongkut University of Technology Thonburi dan Prachinburi Rice Research Institute), Philipina (PhilRice), Vietnam (Hue University), Indonesia (IAERI), Jepang (NIAES dan Chiba University) serta IRRI sebagai coordinator.

Pertemuan dilaksanakan selama 2 hari pada tanggal 2-3 Desember 2016 dengan agenda di hari pertama adalah pembahasan resume hasil penelitian selama 6 musim di masing-masing Negara, dan dilanjutkan di hari ke-2 pembahasahan draft rencana paper untuk publikasi di Jurnal SSPN edisi khusus tahun 2018.

Hasil penelitian di semua lokasi menunjukkan bahwa teknik pengairan AWD ini terbukti efektif untuk menurunkan emisi GRK dari lahan padi sawah dengan penurunan berkisar 10-35% dari cara pengairan tergenang terus menerus. Dengan penerapan pengairan AWD ini, hasil padi tetap tinggi dan penggunaan air dapat dihemat, sehingga, selain tidak hanya sebagai teknologi untuk menurunkan emisi GRK, juga sebagai teknologi hemat air yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Di Indonesia, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik AWD dapat menurunkan emisi GRK sebesar 33-37% dan mampu menghemat air sebesar 18-20% dibandingkan cara konvensional tanpa menurunkan hasil gabah secara signifikan. (Admin Balingtan)