Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Dampak Kebocoran Gas Mengakibatkan Kematian pada Komoditas Pertanian

Penilaian: 4 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan -  Tim peneliti dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) didampingi 2 orang petugas dari Dinas Pangan dan Pertanian Kab. Batang (Bp. William Ari, S.Pi dan Bp. Yahir, SP) melakukan survei lokasi di Desa Pranten Kecamatan Bawang Kabupaten Batang, yang berbatasan langsung dengan dataran tinggi Dieng.

Desa Pranten terletak di kaki Gunung Prau sebelah utara dan sebelah timur Gunung Sipandu. Untuk menuju desa ini, dapat ditempuh dalam waktu 2,5 jam dari Kota Batang dengan menggunakan kendaraan umum yang melewati lembah-lembah dan perbukitan. Para petani memanfaatkan lahan pertaniannya untuk budidaya kentang, kucai, cabe, terong belanda, carica dan wortel. 

Survei bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan petani sayuran di Desa Pranten akibat ledakan gas yang diduga beracun. Kegiatan survei merupakan tindak lanjut atas laporan dari Kepala Dinas Pangan dan Pertanian dan Ketua Bappeda Kabupaten Batang kepada Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian.

Berdasarkan hasil wawancara dengan penduduk/petani setempat, mereka mengalami kegagalan panen tanaman kentang 2 kali dengan luasan 35 hektar di Dusun Rejosari dan 10 hektar di Dusun Sigemplong. Hal ini disebabkan karena tanaman terpapar gas yang diduga beracun dan berasal dari ledakan/kebocoran gas PT Geo Dipa yang berlokasi Desa Pawuhan Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dan bergerak di bidang energi panas bumi.

Ledakan/kebocoran gas yang diduga beracun dari perusahaan tersebut sudah 3 kali terjadi sejak perusahaan beraktivitas Juni 2016 (ledakan I pada 4 Juni 2016, ledakan II pada 20 Juni 2016, dan ledakan III terjadi 3 minggu yang lalu). Dampak ledakan gas tersebut terhadap pertanian adalah kegagalan panen karena tanaman mati. Untuk sementara waktu, petani tidak berani menanami lahannya lagi karena sudah 2 kali gagal panen, sebelum kebocoran gas tersebut teratasi.

Pemerintah setempat sudah melakukan mediasi, dimana petani sudah memperoleh ganti rugi akibat ledakan pertama. Namun untuk dampak ledakan kedua dan ketiga, petani belum mendapatkan ganti rugi.

Penduduk juga mengeluhkan tentang gangguan kesehatan akibat gas tersebut seperti batuk, sesak nafas dan gatal-gatal.

Sumber air di lokasi berbau tajam belerang. Belum ada korban jiwa, namun sewaktu terjadi ledakan penduduk ketakutan dan berlarian menyelamatkan diri. Lingkungan pemukiman juga rusak karena atap seng cepat korosi, demikian juga kendaraan banyak yang karatan. Dugaan sementara bahwa ledakan gas tersebut melepaskan SO2 dengan konsentrasi tinggi yang potensial menyebabkan hujan asam di sekitar lokasi. Asam sulfat yang dihasilkan menyebabkan tanaman mati dan tanah bereaksi lebih masam.

Dari lokasi survei, Tim Investigasi mengambil sampel tanah, air, udara dan tanaman, yang akan segera dianalisis di laboratorium. Tim mencatat juga koordinat titik/posisi sampling. Sebagai tambahan informasi, kami lampirkan foto-foto lapang di lokasi tersebut. Pemerintah daerah disarankan untuk melakukan pendekatan ke perusahaan PT Geo Dipa agar selalu memonitor ambient udara terhadap bahan-bahan yang berpotensi sebagai polutan (misalnya SO2 dan NOx).

Rekomendasi tentang penanganan kebocoran gas yang berdampak pada lingkungan dan lahan pertanian adalah antara lain pihak PT Geo Dipa segera memasang alat sistem peringatan dini (early warning system) bila terjadi kebocoran.

Hal ini penting sekali, karena telah terjadi berulang kali, sehingga penduduk sekitar dapat melakukan antisipasi. Selain itu, perlu dipasang display informasi besaran konsentrasi dari gas yang bocor di tempat strategis. Untuk penduduk yang dekat dengan lokasi kebocoran agar dibagikan masker khusus. Sedangkan untuk pemulihan lahan pertanian akibat dampak ini, perlu penanganan secara terpadu antara Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Balai Lingkungan Hidup setempat, dan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, mengingat dampak dari kebocoran gas ini dapat mengakibatkan kematian pada komoditas pertanian dan berbahaya bila dikonsumsi dapat mengganggu kesehatan manusia. (Admin Balingtan)