Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Investigasi Cepat Pencemaran di Pantai Pangandaran

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Pangandaran merupakan daerah wisata pantai yang memiliki keindahan alam sepanjang garis pantai yang begitu mempesona. Para wisatawan dapat menikmati indahnya wisata pantai Pananjung yang menghadirkan wisata konservasi rusa dan banteng, spot wisata grand canyon hingga panorama pantai di sepanjang pantai barat dan pantai timur.

Dalam perkembangannya setelah musibah tsunami melanda pada tahun 2006, dalam rangka mengembalikan perekonomian setempat, banyak hotel, penginapan dan restoran yang didirikan sepanjang pantai. Dampaknya semakin banyak limbah yang dihasilkan dan dibuang ke saluran air yang menuju ke laut. Adanya limbah yang berasal dari hotel, penginapan dan restoran tersebut baik berupa sampah, maupun limbah cair, telah mengganggu keindahan dan kenyamanan pantai pangandaran itu sendiri, seperti timbulnya busa di muara lautan sebagai akibat limbah deterjen dan bau tidak sedap yang banyak dikeluhkan masyarakat. Akibatnya timbul keresahan dari masyarakat dan pemegang kepentingan terhadap keberlanjutan pariwisata di Pangandaran dengan melaporkan adanya pencemaran di Pantai Pangandaran tersebut.

Berdasarkan laporan tersebut maka Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) pada tanggal 23 Februari 2017, menugaskan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) untuk melakukan investigasi cepat. Menindaklanjuti penugasan tersebut Balingtan membentuk Tim Investigasi cepat dan melakukan investigasi yang dilaksanakan pada tanggal 25 Februari 2017.

Tim investigasi bekerjasama dan berkoordinasi dengan pihak terkait baik itu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) maupun Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Pariwisata, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten, Pangandaran. Tim Balingtan dalam melakukan investigasi di lapangan didampingi oleh staf dari Dinas Lingkungan Hidup Kab Pangandaran (Kasie Pencemaran Lingkungan, Ibu Ipuy Purwati, S.Pd., M.Pd dan Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Kabupaten Pangandaran Cucu Kurniawan, S.IP., M.Si.).  

Pada saat tim datang ke lokasi, kondisi tidak sedang hujan dan tidak terlihat lagi busa deterjen. Lokasi terjadinya pencemaran busa ada di Desa Pangandaran dan Desa Pananjung (informasi warga setempat). Menurut informasi dari Dinas Pariwisata setempat, terdapat sekitar 350 hotel/penginapan/restoran (HPR). HPR tersebut menghasilkan limbah berupa hasil loundry, limbah kamar mandi, cucian di dapur yg semuanya menggunakan deterjen. Berdasarkan hasil pemantauan Tim, pada umumnya HPR tidak dilengkapi dengan IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah). HPR hanya dilengkapi dengan septic tank saja. Limbah cair dari HPR pada umumnya (setelah dariseptic tank) masuk ke saluran air (lebar sekitar 3 m dan kedalaman 0,5 -1 m) yg bermuara ke pantai pangandaran. Jarak dari HPR ke muara berkisar 100-300 meter.

 Berdasarkan pengamatan secara visual dan wawancara dengan penduduk, bahwa di badan air tidak terlihat biota air (ikan dan biota kecil lainnya). Terkadang air berubah warna menjadi kuning dan berbau menyengat (tidak sedap). Menurut warga setempat, bahwa limbah busa sering terlihat pada saat hujan deras turun.

Selanjutnya, tim melakukan analisis in situ kualitas air di 10 titik muara saluran dan 3 titik (2 penampungan limbah hotel dan 1 restoran) secara cepat dengan beberapa parameter (parameter fisika: suhu air, temperatur udara, tekanan udara, kepekatan, konduktivitas, TDS; dan parameter kimia organik: pH, DO, salinitas, dan redoks potensial). Tim juga melakukan sampling air untuk analisis dengan parameter yang lebih detail di Laboratorium Balingtan dan  BBTPPI (sedang proses analisis).

Berdasarkan analisis in situ secara cepat diperoleh kesimpulan bahwa:

  • HPR diduga berkontribusi terhadap terjadinya pencemaran busa yang bermuara di pantai Pangandaran, karena pembuangan limbah cair (berupa deterjen) tidak melalui IPAL dan ini menyebabkan saluran air berwarna kuning dan berbau menyengat.
  • Kontribusi limbah cair (deterjen) menyebabkan menurunkan kualitas air di saluran yang terbawa ke laut. Kondisi penurunan kualitas air diindikasikan dari beberapa parameter kualitas air sebagai berikut: nilai DO (oksigen terlarut) menjadi sangat minim berkisar 2,6-4,1 mg/L (sehingga ikan dan biota air tidak bisa hidup). Nilai acuan DO untuk kelas air II, III dan IV (untuk budidaya ikan, peternakan dan pertanaman) berdasarkan PP 82/2001 adalah  0-4 mg/L (batas minimum), sedangkan untuk hidupnya ikan perlu DO antara 7-9 mg/L. Nilai suhu air 27,9-33,4 oC  (acuan 25-32 oC) dan pH 6,81-7,62 (acuan 6-9) masih sesuai dengan syarat kualitas air golongan II, III dan IV. Nilai salinitas 0,42-7 ppt (acuan 0-5 ppt), dan TDS 670-3000 mg/L (acuan 1000-2000 mg/L). Nilai TDS pada air saluran ke laut ada kecenderungan belum sesuai dengan syarat kualitas air permukaan. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel

Tabel 1.Kualitas air di saluran pembuangan limbah

Parameter

Nilai aktual

Nilai acuan*)

Keterangan

Oksigen terlarut (DO)

Suhu air

pH

Salinitas

TDS

2,6-4,1 mg/L

27,9-33,4 oC  

6,81-7,62

0,42-7 ppt

670-3000 mg/L

0-4 mg/L

25-32 oC

6-9

0-5 ppt

1000-2000 mg/L

Tidak terlihat biota air di saluran

 

 

 

*)PP No 82 Tahun 2001

Rekomendasi:

  1. Mempertimbangkan kondisi lingkungan lokasi Pantai Pangandaran sebagai tempat pengambilan sampel (survey), maka dapat disarankan langkah yang dapat dilakukan adalah pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal-Terpadu, yang menampung limbah dari berbagai sumber (Hotel, Penginapan, Restoran, dan Rumah Tangga) sebelum di buang ke laut. Hal ini dikarenakan setiap sumber cemaran telah membuang secara langsung limbahnya ke saluran yang sama tanpa melalui proses pengolahan limbah. Diharapkan dengan proses pengolahan limbah sebelum pembuangan ke saluran maka tidak berdampak negatif pada kawasan wisata, biota, dan masyarakat sekitar.
  2. Pemantauan secara berkala oleh instansi berwenang terkait air limbah agar tidak membahayakan lingkungan dan kelestarian lingkungan hidup.

(Admin Balingtan)