Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

FAO : “Kolaborasi Menuju Pendekatan Model Bisnis yang Rendah Emisi”

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
 

Berita Balingtan - Perubahan iklim dan pemanasan global memang sudah bukan lagi sekedar isu, tetapi telah menjadi suatu kenyataan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia untuk beradaptasi dan mengurangi kenaikan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer sebagai salah satu penyebab perubahan iklim dan pemanasan global tersebut.

Di bawah UNFCCC (United Nation Framework Convention on Climate Change), sebuah badan PBB yang khusus menangani perubahan iklim, telah melahirkan sebuah kesepakatan baru dari Negara para pihak pasca berakhirnya Protokol Kyoto di tahun 2020. Kesepakatan baru tersebut merupakan hasil COP (Conference of Parties) ke-21 di Paris tahun 2015 yang dikenal sebagai Paris Agreement (PA). Kesepakatan tersebut berisi kesepakatan Negara para pihak untuk menurunkan emisi dan mempertahankan kenaikan suhu bumi di bawah 20C. Hingga akhir 2016, perjanjian ini telah diratifikasi oleh 142 negara termasuk Indonesia.  Dengan meratifikasi PA, maka Negara para pihak wajib menyusun NDC (National Determined Contribution) yang berisi target penurunan emisi dan upaya-upaya yang akan dilakukan untuk mencapai target tersebut.

Food and Agriculture Organization (FAO) bersama dengan USAID dan LEDS menginisiasi pertemuan regional antara para pelaku bisnis, pemerintah dan LSM di wilayah Asia Tenggara untuk membahas mengenai kemungkinan kolaborasi menuju pendekatan model bisnis yang rendah emisi.

Target penurunan emisi akan tercapai apabila ada kerjasama antar semua pihak baik pemerintah, swasta maupun masyarakat.  Para pelaku bisnis di sektor swasta juga berkomitmen untuk menurunkan emisi GRK, bahkan beberapa perusahan besar yang bergerak di sektor lahan seperti kelapa sawit, hasil-hasil hutan, pertanian, bahkan aquaculture telah berkomitmen untuk mengurangi deforestasi dalam rantai produknya. Baru-baru ini para pelaku agribisnis di bawah Tropical Forest Alliance juga telah berkomitmen untuk penyediaan bahan makanan 50% lebih besar sekaligus juga menurunkan emisi sebesar 50%. Dengan peningkatan permintaan komoditas yang berkelanjutan, para pelaku bisnis di dunia usaha juga mulai mengarahkan usahanya ke model yang berkelanjutan.

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian berkesempatan untuk menghadiri acara tersebut, atas nama Kementerian Pertanian, dan terlibat aktif dalam diskusi panel mengenai komitmen pemerintah untuk berkolaborasi dengan sektor swasta untuk mencapai target penurunan emisi. Pertemuan dilaksanakan selama 1,5 hari bertempat di pusat kota Bangkok. Dalam pertemuan tersebut banyak membahas mengenai model berkelanjutan rendah emisi yang telah diterapkan oleh beberapa perusahaan agribisnis di Asia Tenggara. Selain itu juga menghasilkan peluang investasi sektor swasta untuk pembangunan pertanian dan kehutanan yang rendah emisi. (Miranti Ariani, SP., M.Si-Balingtan)