Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Kementerian Pertanian Kembali Hasilkan Tiga Profesor Riset

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
 

Bogor - Kementerian Pertanian kembali mengukuhkan tiga  peneliti unggulannya bergelar Profesor Riset, yaitu Prof. Dr. Ir. Didik Harnowo, MS bidang Budidaya dan Produksi Tanaman, Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M. Agr bidang Ilmu Tanah Agroklimatologi dan Hidrologi, dan Prof. Dr. Ir. I Nyoman Widiarta, M. Agr bidang Hama dan Penyakit Tanaman.

Orasi pengukuhan ketiga Profesor Riset Badan Litbang Pertanian tersebut dilaksanakan Senin, (14/8) di Auditorium Utama Ir. Sadikin Sumintawikarta, Bogor. Ketiganya merupakan Profesor Riset Kementerian Pertanian yang ke 126, 127, dan 128.

Dalam orasinya Didik Harnowo menyampaikan pidato yang berjudul “Inovasi Teknologi Benih Kedelai untuk Memacu Pengembangan Industri Hilir Pembenihan”. Menurutnya, industri hilir perbenihan kedelai secara berkelanjutan sangat prospektif untuk dikembangkan di setiap sentra produksi sebagai usaha agribisnis penangkaran benih melalui penerapan strategi pengembangan benih secara utuh.

“Teknologi produksi yang tepat terbukti mampu menghasilkan benih kedelai bermutu tinggi, bahkan dapat disimpan hingga enam bulan dengan daya tumbuh lebih dari 80%,” ujar Didik. Teknologi produksi yang dimaksud meliputi pemupukan, pengairan, pengendalian penyakit, serta penanganan pascapanen benih yang tepat.

Sementara orasi kedua disampaikan oleh Dedi Nursyamsi dengan judul “Inovasi Pemupukan berbasis Keseimbangan Hara Terintegrasi untuk Mendukung Swasembada Pangan Nasional”. Orasi tersebut memaparkan tentang penerapan Inovasi Pemupukan berbasis Keseimbangan Hara Terintegrasi (IPbKHT) yang dilengkapi teknologi pemupukan mutakhir, seperti pupuk organik, hayati dan decomposser.

Inovasi tersebut dapat menghemat subsidi pupuk mencapai 20% yang setara dengan Rp. 3,5-4,2 trilyun/tahun. IPbKHT membawa keuntungan yang lebih besar jika diimplementasikan secara utuh dipadukan dengan integrasi teknologi pemupukan mutakhir, varietas unggul (Inpari 30 dan 31) , cara tanam jajar legowo, Biopestisida, Jarwo Transplanter, dan Harvester.

“Paket tersebut mampu menghasilkan padi lebih dari 10 ton/ha Gabah Kering Giling (GKG) atau meningkatkan hasil lebih dari 60% dibandingkan dengan cara petani, dengan tambahan keuntungan setara dengan Rp. 180 trilyun/tahun,” pungkas Dedi.

Orasi ketiga disampaikan I Nyoman Widiarta dengan judul “Reformulasi Paket Pengendalian Penyakit Tungro Terpadu pada Tanaman Padi dalam Era Revolusi Hijau Lestari”. Dalam paparannya, Nyoman menyampaikan konsep reformulasi Pengendalian Penyakit Tungro Terpadu Ramah Lingkungan (P2T2RL) berdasarkan pola virus dan dinamika populasi wereng hijau menggunakan berbagai teknologi pengendalian, mengutamakan penggunaan varietas tahan virus dan insektisida hayati yang diintegrasikan secara bertahap.

“Penerapan P2T2RL pada upaya khusus (UPSUS) padi, terbukti dapat menekan serangan tungro sehingga produktivitas padi meningkat, kondisi lingkungan terjaga, dan penggunaan insektisida organik sintetik berkurang,” ucap Nyoman.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Muhammad Syakir dalam arahannya pada acara tersebut menyampaikan, “Balitbangtan mengawal secara intensif berbagai kebijakan yang diambil oleh Kementerian Pertanian yang mendukung konsep penyusunan kebijakan berbasis sains dan mendorong agar Balitbangtan mengembangkan kegiatan penelitian unggul dan hasilnya siap untuk diimplementasikan.  (Likco Desvian H dan Saefoel Bachri)