Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Saatnya Gunakan Pestisida Ramah Lingkungan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
 

Pati – Upaya Kementerian Pertanian mewujudkan swasembada pangan dilakukan antara lain dengan menciptakan berbagai inovasi, salah satunya adalah inovasi pestisida ramah lingkungan. Swasembada pangan khususnya  padi, bawang merah dan cabe telah dicapai pada tahun 2016, dan jagung pada tahun 2017, sedangkan kedelai ditargetkan pada tahun 2020. Upaya mencapai dan mempertahankan swasembada pangan memerlukan sarana produksi yang mendukung, diantaranya benih, pupuk dan pestisida.

Penggunaan pestisida yang tidak terkendali dan maraknya pestisida bermutu rendah dapat meningkatkan terjadinya resistensi dan resurjensi hama, berdampak buruk pada lingkungan, serta pada kesehatan masyarakat , khususnya petani.

Badan Litbang Pertanian menggelar Workshop dan Seminar Internasional bertema “Inovasi Pestisida Ramah Lingkungan Mendukung Swasembada Pangan (Inovation of Friendly-Environmental Pesticides to support food Self sufficiency)”, yang berlangsung di kota Pati, Rabu-Kamis, (6-7/9).

Workshop tersebut dihadiri 170 orang peserta, terdiri dari peneliti, akademisi berbagai perguruan tinggi, praktisi (pengusaha dan petani), Dinas Pertanian Kabupaten, dan Ditjen Teknis lingkup Kemenerian Pertanian.

Acara ini dibuka oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan, Ir. Mukti Sardjono, MSc dan ditutup oleh Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian, Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr.  Bertindak sebagai pembicara utama adalah: Dr. M. Prama Yufdi (Sekretaris Balitbang Pertanian), Prof. Errol Hasan (Queensland University), Dr. Ir. Muhrizal Sarwani (Direktur Pupuk dan Pestisida), Agung Kurniawan, S.Si (PT. CropLife Indonesia), Lasiyo Syaifuddin (Petani dari Bantul) dan Ulus Primawan (Petani dari Lembang).

“Sebagai petani yang sabar dan sadar sehingga hanya memproduksi pestisida dari limbah bahan yang ada di lingkungan kita sendiri seperti rimpang,” ujar Mbah Lasiyo.

Mbah Lasiyo menambahkan, yang dimaksud dengan rimpang itu adalah bahan-bahan jamu seperti temu ireng dan temulawak. Adapun bahan campuran yang lain untuk pestisida nabati antara lain daun mimba, daun mahoni maupun daun sambiloto.

“Mencegah lebih baik dibanding mengobati,” tandas Ulus.

“Ulus menegaskan preventif perlu diberlakukan pada cara bertani kita, karena cara ini lebih efektif, baik dari segi kesehatan dan biaya. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu penentuan lahan dan pengolahan lahan yang cermat, penggunaan pupuk dasar, dan pemilihan benih yang baik”.

“Bertani yang berfokus pada cara berbudidaya yang baik dan benar serta mengutamakan ketelitian akan menghasilkan tanaman yang sehat, sehingga kuat dari serangan hama dan penyakit,” pungkas Ulus

Dalam presentasinya, Ulus mengungkapkan bahwa penggunaan pestisida ramah lingkungan sebenarnya alam telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman dan memiliki beberapa kelebihan.

Pada kesempatan penutupan Workshop dan Seminar International tersebut, Prof. Dedi menyampaikan pesan yang senada dengan pak Ulus, “bahwa dengan penerapan teknologi ramah lingkungan (antara lain biopestisida, varietas rendah emisi, penggunaan urea berlapis arang aktif, penggunaan biochar pada filter air irigasi) akan menghasilkan produksi pertanian yang sehat (bebas bahan pencemar). Dan produksi pertanian yang sehat akan menghasilkan generasi bangsa Indonesia yang berkualitas.” (Admin Balingtan)