Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Penyusunan Usulan Kajian Dampak Penggunaan Pestisida

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
 
       

 Berita Balingtan - Isu mengenai dampak penggunaan pestisida kimiawi merupakan point penting yang harus mendapatkan perhatian dari semua pihak. Dua bahan aktif pestisida kimia yang menjadi sorotan adalah Parakuat diklorida (PA) dan Karbosulfan (KS). Workshop Penyusunan Usulan Kajian Dampak Penggunaan Pestisida Berbahan Aktif Parakuat diklorida dan Karbosulfan” dilaksanakan di Bogor pada tanggal 7 Desember 2017 untuk membahas bahaya penggunaan bahan aktif pestisida tersebut dan langkah antisipasi dampaknya.

Hadir dalam pertemuan tersebut adalah Dr. Muhrizal Sarwani (Direktur Pupuk dan Pestisida), Prof Dadang (IPB), Prof. Edi Martono (UGM), Dr Sukisman (Biotrop), Dr. Taufikurrahman (ITB), Dr Bonny (IPB), Dr. Muhammad Muchsin, Dr. Chandra Anggraeni,  KLH, Kemenkes, PT. Bina Guna Kimia dan peneliti dari Balai Penelitian Lingkungan Pertanian.  Dalam pembukaan acara, Dir. Pupuk dan Pestisida, Dr. Muhrizal Sarwani menyampaikan bahwa output yang harus dicapai dalam pertemuan ini adalah (1) TOR kajian, (2) action kajian pada bulan Januari 2018 harus sudah dimulai di beberapa tempat dan (3) hasil kajian diharapkan dapat menjadi landasan dalam mengambil keputusan terkait dengan bahan aktif parakuat dan karbosulfan.

Dalam pertemuan tersebut, Prof. Dadang menyampaikan lima hal, yaitu (1) kajian harus mencakup dua point penting, yaitu terkait kesehatan dan dampak terhadap lingkungan, (2) Kedua hal tersebut dimasukkan dalam satu TOR, (3) kegiatan yang dilakukan dapat berupa survey dan atau penelitian, (4) anggaran dan sumber dana harus segera tersedia dan (5) perlu diingat bahwa penggunaan bahan aktif karbosulfan terbatas namun sering digunakan dalam bentuk campuran dengan pestisida yang lain sehingga perlu dilakukan penelitian.

Tim Kajian Lingkungan bertujuan untuk (1) melakukan kajian dalam rangka mengetahui pengaruh parakuat dan karbosulfan terhadap lingkungan, (2) mengumpulkan data atau informasi terkait dengan data sebaran parakuat (melalui alister) dan karbosulfan (melalui FMC) pada akhir Desember 2017, data jumlah PA dan KS yang terdaftar, jenis komoditas, produsen (dari Direktorat Pupuk dan Pestisida), data komoditas menggunakan PA dan KS dari pengguna PTPN dan PTP. Pengumpulan data dilakukan secara paralel dengan survei, (3) setelah data terkoordinasi, melakukan penentukan tempat dan komoditas untuk penelitian dan (4) Provinsi Gorontalo dipertimbangkan sebagai tempat untuk melakukan kajian PA pada tanaman jagung.

Survei terkait denga PA dan KS meliputi (1) kelimpahan mikroorganisme tanah dan air, (2) invertebrata tanah, serangga penyerbuk, burung dan ikan, (3) tanaman lain di sekitar tanaman target, (4) analisis kimia dan fisika tanah dan air tanah dan (5) lokasi  yang dipilih adalah Lampung, Sulsel, Jatim, Kalsel dan Riau.

Percobaan 1 mengenai pengaruh aplikasi PA pada tanaman kelapa sawit, padi dan jagung terhadap kelimpahan mikroorganisme, residu (tanah, air dan produk), proses dekomposisi tanaman yang sudah mati akibat terkena semprotan, chemical fate (laju degradasi, biomagnifikasi dan transportasi). Berkaitan dengan KS, dua regional EU dan Amerika Latin mengusulkan dimasukkan dalam lampiran 3 Konvensi Rotterdam karena KS berpengaruh terhadap mamalia, burung, serangga penyerbuk dan binatang air. Oleh karena itu, kajian KS lebih mengarah pada percobaan lingkungan. Data sebaran KS menjadi dasar dalam menentukan tempat dan komoditas. Percobaan lapang dilakukan dalam dua musim dengan lokasi di Jabar, Jatim, Lampung, Sumut dan Sulsel.

Kuisioner survei PA dan KS disusun yang meliputi antara lain: 1. Pola penggunaan (frekuensi, dosis/konsentrasi, fase pertumbuhan, komoditas, waktu aplikasi, musim tanam), 2. Cara aplikasi (mencampur dengan pestisida atau bahan kimia lain, alat aplikasi, sertifikat operator parakuat), 3. Sumber informasi bagi pengguna tentang pestisida (herbisida) yang digunakan (parakuat dan karbosulfan), 4. Latar belakang memilih penggunaan atau pemahaman parakuat (penyuluhan, pelatihan, demplot, iklan, diberi tahu teman, pengalaman, harga), 5. Dampak penggunaan parakuat terhadap organisme sasaran dan bukan sasaran, 6. Bagaimana parakuat dapat diperoleh (siapa yang menawarkan, siapa yang memberitahu) dan 7. Sejak kapan atau sudah brp lama mengaplikasikan parakuat dan karbosulfan.

Tim Lingkungan dikoordinasikan oleh Prof. Dr. Edi Martono, dan akan diberi tugas sesuai dengan kompetensi masing-masing personil. Untuk Balingtan, supaya mempersiapkan metodologi dan anggaran untuk analisis PA dan KS. Untuk kajian lingkungan dan kesehatan disediakan anggaran sebesar Rp. 2 milyar. (Asep Kurnia - Balingtan)