Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Swasembada Padi, Jagung, Kedelai Melalui Tumpang Sari

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Keterbatasan luas lahan dan masih rendahnya produktivitas jagung di tingkat petani menyebabkan usahatani jagung menjadi tidak optimal. Seiring kemajuan teknologi, model pertanaman tumpangsari (intercrop) banyak mendapat perhatian.  

Tumpangsari jagung-kedelai juga bertujuan untuk mengatasi persaingan penggunaan lahan untuk tanaman jagung dan kedelai secara monokultur. Mengingat bahwa harga jagung relatif baik dan keunggulan koparatif tanaman jagung relatif lebih tinggi dibanding tanaman kedelai, maka dalam sistem tumpangsari jagung-kedelai, produktivitas tanaman jagung minimal sama dengan tanpa tumpangsari.

Pasca penerapan Penambahan Luas Areal Tanam Baru (PATB), perlu strategi baru untuk meningkatkan Luas Tambah Tanam (LTT), melalui Pengembangan Pola Tanam TUMPANG SARI. Pendekatan tumpangsari ini dapat mengeliminasi kompetisi penggunaan lahan atau komoditas, dan solusi berkelanjutan terhadap keterbatasan lahan, Rabu (12/09).

“Peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sangat penting dalam produksi ketahanan pangan wilayah Jepara,” pungkas Rokhim selaku Kasie Tanaman Pangan Jepara.

Dalam Swasembada Padi Jagung, Kedelai kita harus memperhatikan benih bermutu secara enam tepat (Jenis, Jumlah, Mutu, Tempat, Waktu, Harga), Jenis dan jumlah populasi pertanaman per hektar, dan kemudian memperhatikan luas pertanmaan minimum untuk swasembada.

“Jepara merupakan lahan sangat subur hanya perlu teknologi utuk menghemat air dalam kondisi kemarau,” ujar Susatyo selaku Kabid Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Jepara.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk percepatan tanam bulan September 2018 diantaranya Memobilisasi pompa air terutama untuk daerah potensi padi yang mengalami kekurangan air, Melakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air dan Penataan Ruang dalam penyediaan air irigasi, terutama di daerah irigasi yang akan direhabilitasi, Melakukan antisipasi, mitigasi dan adaptasi pengamanan produksi terhadap gangguan Organisme Pengganggu Tanaman dan Dampak Perubahan  Iklim.

Beberapa lokasi untuk pengembangan tumpangsari yaitu Lahan sawah irigasi dengan melakukan pada akhir musim hujan, Lahan kering yang tidak disawah pada awal musim hujan, dan Lahan sawah tadah hujan dilakukan pada awal musim hujan dengan populasi rapat. Dalam Penanaman Padi-Jagung dan Jagung-kedelai harus memperhatikan waktu tanam padi dan kedelai ditanam 3 minggu lebih awal dibandingkan jagung agar tidak ternaungi. (Admin Balingtan)