Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Inovasi Teknologi dalam Mewujudkan Sistem Pertanian Ramah Lingkungan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Pembangunan pertanian yang tertuang dalam program Nawacita Jokowi melalui Kementerian Pertanian berupaya mempertahankan swasembada pangan: padi, bawang merah dan cabe pada tahun 2016, dan tercapainya swasembada jagung pada tahun 2017, serta kedelai pada tahun 2020. Capaian saat ini telah mulai menunjukkan kerberhasilannya. Dalam tiga tahun program tersebut telah mulai berhasil meningkatkan beberapa produksi pertanian. Produksi padi, jagung, bawang merah, gula, dan daging sapi dalam status on the right track menuju terwujudnya kedaulatan dan kemandirian pangan sejak tahun 2017.

Capaian produksi dan swasembada juga berdampak pada kesejahteraan petani. Pembangunan pertanian ke depan tidak hanya diukur dari parameter keberhasilan produksi atau yang dikenal dengan istilah kecukupan pangan, tetapi juga diukur dari kualitas pangan. Terlebih pada tahun 2020 akan memasuki era pasar global yang mengedepankan keseimbangan kerja alam secara alamiah sehingga tidak merusak lingkungan. Semua produk yang diperdagangkan harus memenuhi standar yang ditentukan agar dapat diterima di pasar global. Produk yang diperdagangkan harus terpenuhi dalam segi keamanannya sehingga produk yang dihasilkan Indonesia dapat diterima dalam perdagangan dunia. Upaya mencapai dan mempertahankan swasembada memerlukan sarana produksi yang mendukung dan bersifat ramah lingkungan. Ketahanan dan keamanan pangan menjadi isu global yang penting untuk diperhatikan dalam upaya memasuki pasar bebas dunia. Tantangan pembangunan pertanian ke depan semakin berat dan perlu menjadi perhatian serius dari semua pihak.

Pada praktek budidaya, petani cenderung menggunakan pupuk dan pestisida secara berlebih. Penggunaan bahan kimia tersebut dapat mengurangi kualitas produk pertanian dalam segi keamanannya. Penggunaan bahan kimia berlebihan seperti pupuk dapat mencemari lingkungan begitu juga dengan penggunaan pestisida berlebihan dapat meningkatkan cemaran residu pada tanah, air, dan tanaman. Badan Litbang Pertanian saat ini telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi untuk minimalisasi cemaran pestisida maupun logam berat di lahan pertanian antara lain urea berlapis arang aktif/biochar, biochar-kompos, biopestisida, fitoremediator, Filter inlet outlet, alat deteksi cepat residu pestisida (PURP), dan lain-lain. Semua teknologi tersebut bersifat inovatif dan ramah lingkungan.

"Pestisida nabati ini merupakan pengganti pestisida sintetis. Secara kebijakan memang belum diimplementasikan, tetapi produk sudah ada. Melalui pertemuan seperti ini diharapkan penggunaan pestisida nabati menjadi kebijakan pemerintah," kata Asep Nugraha Ardiwinata selaku Kepala Balai Penelitian Lingkungan dalam seminar mengenai sistem pertanian ramah lingkungan di Hotel Alila Solo

Di sisi lain pembangunan pertanian dituding sebagai salah satu penyebab pemanasan global. Budidaya tanaman dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan memiliki peran ganda, yaitu sebagai pengabsorbsi dan sekaligus sebagai pengemisi gas rumah kaca (GRK). GRK menjadi salah satu kontributor dalam pemanasan suhu di bumi dan memicu terjadinya pemanasan global. Pemanasan global menjadi salah satu isu yang sedang menjadi perhatian dunia. Berbagai sektor telah melakukan inventarisasi emisi GRK yang digunakan untuk melakukan upaya mitigasi. Penanaman varietas rendah emisi, pengelolaan pupuk nitrogen slow release, pengelolaan air secara intermitten merupakan teknologi unggulan dalam menurunkan emisi GRK sektor pertanian. Inovasi teknologi tersebut merupakan bagian dari teknologi ramah lingkungan yang mendukung swasembada pangan berkelanjutan. (Admin Balingtan)