Membangkitkan Raksasa yang Tertidur, Lahan Rawa menjadi Lahan Produktif

Cetak

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Peningkatan jumlah penduduk dunia memerlukan lebih banyak pasokan pangan, makanan, bahan bakar, dan serat. Sementara itu ketersediaan lahan pertanian relative konstan, bahkan cenderung menurun. Untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dapat dilakukan dua tindakan yakni mengoptimalkan lahan pertanian yang ada (existing) dan atau membuka lahan-lahan baru.

Kebijakan optimalisasi lahan rawa lebak dan pasang surut dapat menjadi solusi efektif mewujudkan ketahanan pangan sekaligus pengentasan kemiskinan dan sumber pendapatan. Spesifik perhelatan Hari Pangan Sedunia (HPS) kali ini dengan tema Internasional World Food Day dari FAO yakni "a Zero Hunger World by 2030 is Possible" yang bertempat di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Baritokuala (Batola), Kalimantan Selatan, Kamis (18/10).
Lahan rawa seluas 4.000 ha telah dibuka dalam rangka perhelatan HPS tersebut. Beragam tanaman seperti padi dan sayuran serta ikan dan bebek diperagakan pada lahan rawa tersebut dengan penerapan teknologi inovasif spesik lokasi lahan rawa, seperti pengelolaan air dan pupuk, pemanfaatan alat dan mesin pertanian, penggunaan varietas unggul, serta teknologi budidaya lainnya.

"Lahan rawa sebagai solusi baru ini ternyata bisa menghasilkan pangan, terutama beras pada musim paceklik," Ujar Andi Amran Sulaeman (Menteri Pertanian Republik Indonesia). Menurutnya, Paceklik yang terjadi berlangsung pada bulan November hingga Januari tidak menyebabkan stok padi nasional turun drastis.

Pemanfaatan lahan rawa dilakukan secara berkelanjutan untuk menghasilkan komoditas pangan strategis terutama beras. Kementerian Pertanian telah menyusun berbagai regulasi pendukung agar lahan rawa tetap sebagai lahan pertanian produktif. (Admin Balingtan)