Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Biopestisida: Asa Petani Margo Toto terhadap Hasil Tanaman Ramah Lingkungan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
 

Berita Balingtan - Kegiatan blok program bertujuan untuk mendiseminasikan berbagai teknologi untuk mengoptimalkan pengelolaan lahan kering masam di Desa Margo Toto, Kecamatan Metro Kibang, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Kegiatan blok program melibatkan beberapa unit pelaksana teknis, termasuk Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan). Salah produk pertanian ramah lingkungan dari Balingtan yang dikaji adalah biopestisida/pestisida nabati yang nantinya dapat digunakan para petani di wilayah tersebut.

Kegiatan diawali dengan identifikasi calon lokasi penelitian dan identifikasi tanaman lokal sebagai bahan baku pestisida nabati, dilanjutkan dengan praktek pembuatan biopestisida bersama para petani di wilayah tersebut. “Petani yang ikut serta adalah petani pilihan yang nantinya bisa menjadi motivator ke petani lain, agar mau menggunakan biopestisida” ujar Sri Wahyuni, SP., M.Si, peneliti Balingtan.

Bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman melalui inovasi teknologi, kegiatan di Desa Margo Toto sukses menarik perhatian warga yang cukup tinggi. Sri Wahyuni menuturkan jika awalnya ia bersama 2 peneliti Balingtan lain (Sukarjo dan Poniman) tidak ingin banyak mengundang petani. Mereka berencana cukup mengundang 4 orang petani pilihan dengan maksud para petani bisa mengikuti instruksi/tahapan pembuatan biopestisida dengan baik. Namun, banyak petani lain yang juga tertarik ingin mengikuti proses kegiatan tersebut. “Ternyata banyak yang tertarik hadir dalam pembuatan biopestisida. Dan alhamdulillah petaninya sangat responsif meskipun di sana itu penggunaan pestisida kimianya cukup tinggi,” ungkap Sri Wahyuni.

Praktek pembuatan biopestisida pun berlangsung lancar pada Jumat (26/10). Dengan memanfaatkan kearifan lokal tanaman mudah diperoleh di desa setempat, para petani begitu bersemangat mengikuti setiap arahan pembuatan biopestisida dari Balingtan. “Kebetulan tanaman yang diperlukan sebagai bahan baku pestisida nabati ada semua di lokasi. Bahan-bahan dikumpulkan mulai daun mahoni, daun mindi, rimpang kunir, dan urine sapi yang kebetulan dekat lokasi terdapat peternakan sapi besar,” papar Sri Wahyuni lebih lanjut.

Proses pembuatan biopestisida dimulai dengan mencacah daun mahoni dan daun mindi menjadi potongan yang lebih halus, sedangkan rimpang kunir ditumbuk sampai halus. Masing-masing potongan daun dan juga rimpang kunir, direbus dalam panci besar dengan komposisi 1 bagian potongan daun/hasil tumbukan rimpang kunir dan 2 bagian air. Setelah dingin, rebusan disaring untuk memisahkan air dan sisa daun lalu ditutup rapat dan disimpan. Hari selanjutnya air rebusan daun tanaman, air rebusan kunyit, urine sapi, asap cair, dan mikroba dicampurkan pada satu wadah besar. Bahan-bahan tersebut lalu diaduk kurang lebih 15-20 menit, tutup rapat selama 21 hari. Setelah 21 hari, formula pestisida nabati tersebut baru bisa digunakan sebagai biopestisida.

Kearifan lokal berupa pemanfaatan tanaman sebagai bahan pestisida nabati, petani diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang cukup tinggi di Desa Margo Toto. “Ya harapan kami, ke depan produksi tanaman yang dihasilkan akan menjadi produk ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan pestisida kimia dan beralih menggunakan pestisida nabati,” tutur Sri Wahyuni. (Admin Balingtan)