Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Ke Lampung, Balingtan Lakukan Implementasi Penelitian Block Program

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Berita Balingtan - Balai Penelitian Lingkungan Pertanian telah menyelesaikan program penelitian block program di Desa Margo Toto, Kecamatan Metro Kibang, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Kegiatan penelitian ini disambut positif oleh masyarakat setempat.

Kegiatan bertajuk “Inovasi Teknologi Panca Kelola Lahan Kering Masa di Lampung Timur”, dilakukan Balingtan sebagai wujud implementasi penggunaan produk pertanian ramah lingkungan seperti pestisida nabati berupa Biopestisida Balingtan untuk bisa diterapkan di wilayah tersebut.

Lampung dipilih Balingtan bersama 4 instansi lain seperti Balai Tanah, Balai Klimatologi, BBSDLP bukan tanpa alasan, melainkan karena kondisi lahannya yang tergolong lahan kering. “Kita memang mencari lahan kering nanti akan dirubah menjadi lahan yang lebih produktif, sehingga peningkatan produksi akan terjadi”, ujar Peneliti Balingtan Sri Wahyuni ketika ditemui di ruangannya, Selasa (30/10).

Kegiatan hari pertama dimulai dengan identifikasi calon lokasi block program, dimana terpilihlah Desa Margototo sebagai lokasi yang akan digunakan. Lokasi block program berupa hamparan lahan kering seluas 150 hektar dengan sumber pengairan 100% dari air hujan. Struktur tanah termasuk tanah remah atau tanah gembur yang meskipun musim kering tetap mudah diolah.

Hari ke-2 kegiatan dilanjutkan dengan melakukan identifikasi tanaman yang akan digunakan untuk pembuatan pestisida nabati. Identifikasi dilakukan di sekitar lahan calon lokasi block program. Dari identifikasi ini didapat hasil yang menunjukkan bahwa tanaman bahan pestisida nabati dapat dengan mudah ditemukan di lokasi. Tanaman-tanaman tersebut meliputi mindi, mahoni, johar, babandotan, pule, dan bintaro.

“Tanaman disana banyak yang bisa digunakan sebagai bahan pestisida nabati, hampir sama seperti di sini, iklimnya juga sama. Di sana ternak sapi dan kambing juga banyak, tidak beda jauh dengan Balingtan. Kita (red, Balingtan) punya teknologi ya sudah kita praktekkan di sana”, pungkas Sri Wahyuni.

Hari selanjutnya kegiatan kembali dilanjutkan dengan praktek pembuatan pestisida nabati. Dalam pelaksanaanya, Sri Wahyuni bertindak sebagai pemandu dalam praktek pembuatan pestisida nabati. Sementara 2 peneliti Balingtan lainnya yang juga turut serta Sukarjo dan Poniman ikut praktek langsung bersama para petani yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Dalam pembuatannya, bahan-bahan yang digunakan meliputi daun mahoni, daun mindi, urine sapi, dan rimpang kunir. Pembuatan Piopestisida dengan penambahan bakteri di hari berikutnya juga dilakukan dalam rangkaian acara tersebut.  “Sekarang sudah tersedia di sana (Red, Desa Margototo), bahan campuran sebanyak 60 liter dan yang bahan masing-masing tinggal mencampurkan saja itu ada sebanyak 90 liter”, Sri Wahyuni menuturkan. (Admin Balingtan)