Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Belajar Budidaya Jeruk Pada Sang Ahli

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
 

Berita Balingtan - Lahan di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian seluas 1 hektar ditanami jeruk sejak tahun 2016. Saat ini telah berbuah walaupun tidak sesuai harapan saat menanam. Buah yang dihasilkan kecil-kecil dan berasa asam. Oleh karena itu perlu dicari solusi agar buah jeruk dapat lebih baik hasilnya.

Menuntut ilmu dari sang ahli jeruk langsung di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Tropika di Batu, Malang. Peneliti Balitjestro yang mau berbagi ilmu adalah Bapak Setiyono dan Ibu Umi Nurul. Dari hasil konsultasi di Balitjestro buah yang demikian banyak faktor yang mempengaruhi seperti: suhu lokasi, kemasaman tanah, unsur hara, cara pemupukan, perawatan tanaman (pemotongan cabang), dan lain sebagainya. Satu hal yang belum dilakukan adalah pemotongan cabang bagian dalam hingga nampak tengah tanaman berongga sehingga tanaman cukup mendapatkan sinar matahari. Kemudian cara pemberian pupuk kandang selama ini juga kurang tepat, seharusnya pembuatan lubang untuk pupuk kurang lebar harus sama dengan lebar tajuk terluar.

Dari kebun jeruk Balitjestro, Pak Setiyono menunjukkan Kebun Banaran yang terletak sekitar 20 menit perjalanan dari kantor Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Tropika. Lahan seluas 1,2 hektar ini dapat menyetor PNBP sebanyak 130 juta setahunnya. Kunci dari keberhasilan pendapatan yang banyak adalah dengan menerapkan cara BUJANGSETA (berbuah sepanjang tahun). Dengan BUJANGSETA tanaman akan berbuah tanpa mengenal musim, akan ada sepanjang tahun. Tanaman jeruk juga tidak mengukuti aturan jarak yang harus diterapkan pada umumnya, disini jarak tanam mungkin hanya 2,5 – 3 m saja dari yang seharusnya 4 – 5 m. “Pengaturan jarak tanam sudah tidak diterapkan lagi disini, intinya adalah pengelolaan cabang tanaman dan pengendalian OPT” ungkap Bapak Cahyono, Kepala Kebun Banaran.

Ilmu yang telah didapatkan harus diterapkan dalam memelihara tanaman jeruk di Balai Penelitian Lingkungan Pertanian agar menghasilkan buah yang manis dan besar, sesuai harapan saat menanam sehingga dapat dijadikan percontohan bagi pengunjung khususnya petani agar mempunyai kemauan bertanam jeruk. Selain itu bila tanaman jeruk berbuah banyak dan rasanya enak maka Balingtan dapat dijadikan agrowisata petik buah sehingga tidak perlu jauh-jauh ke Malang untuk memetik jeruk. (Dolty-Balingtan)