Pengairan Otomatis dengan Menggunakan Smartphone dapat Menghemat Air

Cetak

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
       

Berita Balingtan - Lahan tadah hujan merupakan kawasan yang cukup baik dalam menopang keberhasilan swasembada pangan. Terdapat 11 juta petani Indonesia yang terlibat di sekitar 2 juta lahan tadah hujan. Namun demikian, tantangan ketersediaan air menjadi problematika yang jamak dihadapi oleh kawasan tadah hujan.

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) yang terletak di Kawasan tadah hujan mampu mengelola kawasan cekaman air tersebut menjadi bentuk ekosistem yang lestari dengan beberapa teknologi simpan dan hemat air. Salah satu teknologi simpan air yang telah diadopsi di banyak tempat di Indonesia adalah embung. Embung Balingtan mulai eksis tahun 1983 dan berkembang hingga saat ini. Dengan luasan embung sekitar lebih dari 3 hektar, Balingtan yang hanya mengandalkan air hujan sebagai sarana perkantoran dan pertanaman 30 hektar mampu bertahan di musim kering. Kemudian salah satu teknologi hemat air yang digunakan di Balingtan adalah model irigasi sprinkler otomatis untuk mengairi tanaman. Irigasi sprinkler otomatis ini dapat diatur kapan kita perlu mengairi areal pertanaman kita hanya dengan menggunakan aplikasi di smartphone. Pengairan otomatis ini masih dikembangkan lagi yang akan menggunakan lengas tanah sebagai pemberi sinyal pada sensor kapan saatnya menyiram, Kamis (22/8).

Untuk meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh, para petani dan penyuluh sejumlah 30 orang dari Gapoktan Sido Bangun, Sido Joyo dan Sido Luput serta penyuluh pertanian dari Kecamatan Kayen Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pati belajar pendistribusian air irigasi yang efisien dan konsep neraca air embung. Tujuan dari kunjungan adalah untuk meningkatkan pengetahuan petani dan penyuluh dalam rangka beradaptasi dari cekaman kekeringan dan meminimalisasi dampak kekeringan khususnya di Kabupaten Pati. Selain itu proses pembelajaran ini juga ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dalam perawatan embung dan parit. Materi disampaikan oleh Bapak Sukarjo S.TP, MP selaku peneliti madya di Balingtan. (Admin Balingtan)