Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Solusi Kementan, Gerak Cepat Olah Tanam di Musim Kemarau

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
       

Berita Balingtan - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) memberikan dukungan penuh demi tercapainya target LTT di wilayah Kabupaten Pati dan Jepara. Pendampingan secara intensif terus dilakukan terlebih pada musim kemarau seperti saat ini dimana air menjadi kendala utama dalam budidaya padi.

Sebagai upaya akselerasi pencapaian target LTT di musim kemarau ini, Balingtan menginisiasi Rapat Koordinasi Upaya Khusus (UPSUS) Padi Jagung Kedelai (PaJaLe) di Kabupaten Pati (12/9).  Hadir dalam Rakor yaitu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati (Dispertan Pati), Kepala Balingtan dan tim UPSUS Pajale Balingtan, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispertan Pati, Koordinator PPL, Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), dan Koramil dari 5 kecamatan (Tayu, Cluwak, Margoyoso, Wedarijaksa dan Dukuhseti).

“Kita harus melakukan langkah konkrit dalam program GPOT yaitu gerakan percepatan olah tanah dan penanganan kekeringan di wilayah Pati, oleh karena itu kami mengundang koordinator PPL dari kecamatan yang berpotensi untuk program ini” jelas Ir. Muchtar Efendi, MM (Kepala Dispertan Kab. Pati) dalam pembukaan rakor tersebut. Efendi juga menegaskan bahwa keberhasilan program ini harus didukung semua pihak termasuk TNI (Babinsa).

Berbicara dalam rakor Kepala Balingtan (Ir. Mas Teddy Sutriadi) yang mengatakan bahwa bulan September menjadi sangat penting dalam percepatan LTT karena data di bulan September 2019 ini menjadi data produksi di bulan Desember 2019 dan menjadi data akhir LTT dan juga produksi tahun 2019.” Pada bulan inilah menjadi titik krusial yang sangat penting untuk meningkatkan LTT pada musim kemarau” kata Teddy.

UPSUS PaJaLe menjadi bagan Kementerian Pertanian karena LTT salah satu  bagian yang sangat penting untuk peningkatan produksi dan sangat dominan. Wilayah yang berpotensi untuk GPOT (lahan yang masih basah, dekat sumber air, baik lahan sawah, lahan ladang/lahan kering, dan lahan lainnya yang bisa dilakukan percepatan tanam) harus segera bergerak cepat dengan mengoptimalkan alsintan (pompa, traktor). Langkah yang tak kalah penting lainnya adalah keterlibatan petani dalam percepatan tanam.

Masing-masing koordinator PPL yang diundang menyatakan siap mendukung GPOT dengan menyisir lahan yang berpotensi untuk program tsb. Namun yang perlu diperhatikan bersama adalah ketersediaan air harus mencukupi terutama pada fase-fase kritis, yaitu anakan dan pengisian malai sehingga produksi akan maksimal dan dapat menjadi cerminan produksi bulan Desember.

Diskusi dalam rakor semakin aktif termasuk dalam hal antisipasi serangan HPT. “Kita harus bekerja ekstra karena berdasarkan kondisi lapang kami ramalkan akan ada serangan penggerek batang apabila padi ditanam 10 hari ke depan. Hal ini menjadi perhatian terutama pada aplikasi pupuk N, jangan sampai berlebih” kata Zaenuri, SP (POPT Kecamatan Wedarijaksa).

Hal ini dibenarkan oleh Indrastuti, SP (Kasie Pupuk dan Perlindungan Tanaman Dispertan Pati) bahwa untuk GPOT di musim kemarau jumlah pupuk harus diperhatikan mengingat hujan untuk wilayah Pati diramalkan masih lama.

Adapun strategi yang harus dilakukan dalam GPOT antara lain adalah Petakan Data Luas Tanam, Standing Crop; Potensi Tanam September 2019 di wilayah yang berpotensi; Tetapkan Target minimum lokasi yang akan dilakukan GPOT (minimal 100 hektar per lokasi ).  GPOT diprioritaskan di Kabupaten yang mempunyai potensi tanamnya luas.

Capaian Luas Tambah Tanam Padi Nasional perlu dioptimalkan pada bulan September dengan target luas Tanam padi 1,7 juta hektar sehingga dapat berkontribusi pada produksi tahun 2019. (Admin Balingtan)