Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Memberi Solusi Masalah Lingkungan Terdampak Debu PLTU

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
       

Berita Balingtan - Pembangunan objek vital nasional seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menjadi salah satu upaya pemenuhan listrik nasional dan penyerapan tenaga kerja. Namun disisi lain kegiatannya acapkali menyebabkan penurunan kualitas udara, air dan tanah.

Hal ini dialami oleh sekelompok petani di sekitar PLTU Tanjung Jati wilayah Jepara. Warga mengeluhkan debu hitam yang melekat pada tanamannya (jagung, terong, cabai, dan kacang panjang). Bahkan seorang petani menceritakan bahwa tanaman mentimunnya terpaksa dicabut karena daunnya gosong seperti terbakar. Debu hitam diduga berasal dari PLTU Tanjung Jati yang dalam operasinya menggunakan bahan bakar batubara.

Sekelompok petani tersebut selanjutnya melayangkan keluhan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara. Menanggapi permasalahan dari petani, DLH menggandeng Balingtan untuk menanganinya. Tim Kelompok Peneliti (Kelti Evaluasi Penanggulangan Pencemaran Lingkungan Pertanian/EP3) yang dikomando oleh Dr. Elisabeth Srihayu Harsanti meluncur ke lokasi yang diduga terkena dampak abu yang keluar dari cerobong PLTU Tanjung Jati. Sampel diambil dan dianalisa di Laboratorium Balingtan.

“Permasalahan lingkungan merupakan hal yang sensitif, akan tetapi hasil analisa harus disampaikan” ungkap Ir. Mas Teddy Sutriadi, M.Si (Kepala Balingtan) kepada Tim DLH Kab. Jepara saat berkoordinasi ke Balingtan. “Balingtan tidak mempunyai wewenang untuk menyimpulkan hasil analisa tersebut sehingga menjadi suatu kebijakan. Terlebih sampling hanya dilakukan satu kali, idealnya pengambilan sampel dilakukan kontinyu jadi bisa melihat dinamika yang terjadi, yang dapat Balingtan lakukan adalah menginterpreatsikan hasil analisa sampel dan kemungkinan-kemungkinan dampak yang akan ditimbulkannya” tambah Teddy.

Menyikapi hal tersebut, Tim DLH mengundang Tim Balingtan untuk menyampaikan hasil analisa dan memberikan solusi untuk menjawab keluhan sekelompok petani terdampak abu PLTU. Diskusi yang langsung dipimpin oleh Kepala Dinas DLH Kab. Jepara, Farikhah Elida, ST., MT dan dihadiri oleh Tim Balingtan, Tim DLH Kab. Jepara, PT PLN dan pihak Sumitomo sebagai tim PLTU Tanjung Jati, Jepara.

Dalam diskusi terungkap bahwa tanaman mengalami klorosis terutama yang ditanam dekat PLTU, namun kebenaran sumber debu perlu ditelusuri melalui analisis isotope. “Kajian mendalam terkait dampak debu PLTU atau diduga fly ash terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman perlu dilakukan” jelas Teddy. “jangka pendeknya dan cara tercepat yang dapat dilakukan untuk mengurangi debu adalah dengan menyiram tanaman ketika tertutup debu” pungkasTeddy

Kepala DLH Jepara menyampaikan “Selain CSR yang telah direncanakan ke depan oleh PLTU, petani harus mendapatkan penggantian berupa uang dengan besaran sesuai hasil perhitungan ubinan penurunan produksi (cara perhitungan ubinan berdasarkan saran dari Balingtan) yang akan dikerjakan oleh PLTU bersama DKPP (Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian). “Petani perlu makan saat ini karena hasilnya terdampak jadi harus ada uang penggantinya” tutur Kepala DLH Kabupaten Jepara lebih lanjut.

Dari pihak PLTU mengatakan akan bekerja sama dengan DKPP untuk melakukan ubinan hasil di lokasi terdampak dan tidak terdampak untuk melihat penurunan produktivitas. Selain itu PLTU sepakat melakukan CSR pada sekelompok tani tersebut dengan melanjutkan pembuatan sumur, memberikan kompensasi penurunan produktivitas dan melakukan program peningkatan produktivitas tanaman (E.S. Harsanti/R. Kartika - Balingtan).