Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Teknologi Balingtan - Air yang berasal dari sungai, sawah, danau yang mengalir ke badan sungai yang nantinya akan digunakan untuk air irigasi dimungkinkan mengandung cemaran logam berat maupun residu pestisida.

Air irigasi tersebut biasanya terkontaminasi cemaran logam berat dan residu pestisida akibat dari limbah industri dan pestisida di lahan pertanian intensif. Kandungan residu pestisida pada saluran outlet, selanjutnya akan masuk ke dalam aliran sungai dan akan membahayakan lingkungan biota air dan kesehatan manusia. Oleh karena itu diperlukan teknologi penyaringan air sebelum dan sesudah masuk area persawahan.

Filtrasi air sangat penting untuk semua sistem irigasi. Untuk menghasilkan kualitas air yang lebih baik, dapat saja digunakan dua filter yaitu inlet outlet. Filter pertama, berfungsi sebagai penyaring pertama yang bisa menyaring racun-racun yang terbawa oleh air misalnya logam berat dan residu pestisida. Filter kedua berfungsi untuk penyaringan oulet yang dipasang di outlet persawahan.

Balingtan mengembangkan teknologi berupa alat penyaring air yang biasa disebut dengan Filter irigasi Inlet Outlet (FIO). Alat yang sangat sederhana dan mudah dibuat sendiri dengan biaya yang relatif murah.  FIO terbuat dari bak plastik dengan dengan ukuran sesuai kebutuhan (diameter jaringan irigasi) dan mempunyai penyaring berbrentuk silinder sejumlah 12 buah dan dipasang secara zig-zag untuk ukuran. Penyaring terbuat dari kasa alumunium yang nantinya akan diisi arang aktif berasal dari limbah pertanian yang berbentuk butiran dan bisa diisi ulang dengan sistem bongkar pasang. Filter ini mampu menjerab jenis residu insektisida organoklorin (DDT, lindan, dieldrin, endrin, heptklor, endosulfan), organofosfat (klorpirifos, profenofos, diazinon), karbamat (karbofuran) di saluran air. (Admin Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Teknologi Balingtan - Jika kita mengamati sisi kanan dari rumah kasa Balingtan, tampak berdiri sebuah papan bertuliskan “Taman Fito Koleksi Tanaman Akumulator Logam Berat untuk Fitoremidiasi”. Di sinilah letak Taman Fito yang merupakan taman pengoleksi tanaman penyerap logam berat baik di udara, maupun di dalam tanah.

Kata “Fito” sendiri diambil dari istilah Fitoremidiasi. Yang mana fitoremidiasi merupakan bioremediasi melalui penggunaan tanaman yang dapat mengurangi masalah lingkungan tanpa perlu menggali bahan kontaminan dan membuangnya di tempat lain. Dalam hal ini, tanaman-tanaman di Taman Fito memiliki kemampuan menjadi tanaman yang nantinya dapat digunakan untuk remidiasi tanah tercemar logam berat.

Jenis tanaman di taman ini beraneka ragam, mulai dari lidah mertua, melati air, bambu air, sambang dara, haramay, akar wangi, dan masih banyak lagi. Tanaman-tanaman tersebut didapatkan dari hasil tanaman yang telah diujikan di rumah kasa dan Lysimeter, maupun hasil dari berbagai sumber referensi. “Tanaman yang pernah diujikan di Balingtan dan hasilnya bagus untuk fitoremidiasi itu seperti tanaman mendo, haramay, dan lilia” ujar Ketua Kelompok Peneliti Evaluasi dan Penanggulangan Pencemaran Pertanian (Kelti EP3), E. Srihayu Harsanti (Etik) saat ditemui di Laboratorium Terpadu Balingtan, Selasa (6/11).

Aneka koleksi tanaman tersebut tentu saja memiliki fungsi berbeda-beda dalam menyerap logam berat. Haramay misal, tanaman bernama latin Bohmeria nivea ini mampu menyerap logam berat jenis timbal (Pb) dan kadmium (Cd). Bambu air (Equisetum hyemale) mampu menyerap timbal, kadmium, serta kromium (Cr). Lidah mertua (Sansevieria sp) mampu menyerap polutan udara, akar wangi (Vetiveria zizanioides) yang memiliki kemampuan untuk menyerap raksa (Hg), tembaga (Cu), dan seng (Zn), dan masih lagi.

Dulu, keberadaan tanaman-tanaman penyerap logam berat ini hanya ditempatkan di sebuah petakan kecil. “Kita pernah buat berupa petakan biasa dan tidak sebanyak itu. Masih berupa petak kecil-kecil, tidak seperti sekarang yang cukup luas dan akhirnya dikenal menjadi Taman Fito itu” pungkas Etik. (Admin Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Teknologi Balingtan - Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) saat ini sedang melakukan penelitian mengenai baku mutu logam barat di lahan sawah. Dengan meneliti logam berat berupa Kromium (Cr) dan Nikel (Ni), penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi baku mutu logam berat dua unsur tersebut pada tanah bertekstur ringan, sedang, dan berat.

Penelitian ini dilatar belakangi oleh belum adanya ambang batas kandungan logam berat pada tanah. Sedangkan pada tanaman dan pangan, ambang batas baku mutu logam beratnya sudah ditetapkan oleh BSNI maupun oleh BPOM. Sehingga sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Balingtan yang lebih berfokus pada lingkungan pertanian, maka Balingtan melakukan penelitian baku mutu logam pada tanah. Yang mana kita ketahui bersama tanah merupakan media atau tempat tumbuh tanaman.

“Karena belum ada (Red, baku mutu logam berat tanah) maka kita buat suatu penelitian untuk menghubungkan. Kalau di produknya itu sekian, kira-kira berapa tanah itu aman sehingga dia ter-up take ke produk tersebut tidak lebih dari ambang batas yang diijinkan,” ujar Penanggung Jawab Penelitian Baku Mutu Logam Berat Cr dan Ni di Lahan Sawah, Sukarjo (04/10).

Penelitian yang berlangsung sejak Juni 2018 dan masih berlangsung hingga sekarang ini, menggunakan tanaman indikator berupa padi. Padi dipilih karena menyesuaikan kondisi ekosistem Balingtan berupa lahan sawah. Tanah yang digunakan pun berupa 3 tekstur tanah berbeda. “Tanah memengaruhi kemampuannya dalam mengikat logam, semakin sedikit kandungan liatnya semakin sedikit kemampuan mengikatnya,” pungkas Sukarjo.

Sedangkan untuk membuat baku mutu logam di tanah sendiri, peneliti melakukan pembuatan deret di tanah. Sementara tanahnya, dicemari dengan logam-logam yang ingin dikalibrasi. “Kita buat deret mulai dari tanpa kontaminasi, terkontaminasi, terus meningkat. Kemudian kita tanami tanaman indikatornya. Dari hasil kita menggunakan tanaman indikator itu akan kita peroleh hubungan antara kontaminan yang ada di tanaman dengan yang ter-up take di tanah. Setelah itu kita buat korelasi saja,” Sukarjo menjelaskan.

Penelitian tentang baku mutu logam berat di tanah ini sebenarnya sudah dilakukan beberapa kali di Balingtan, hanya saja dengan jenis logam yang berbeda. Jika pada penelitian kali ini peneliti menggunakan Kromium dan Nikel, pada penelitian sebelumnya Balingtan menggunakan logam jenis Arsen (As), Cd (Kadmium), dan Hg (Merkuri).

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Teknologi Balingtan - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Litbang Balingtan) tengah melakukan Kerjasama Penelitian, Pengkajian, dan Pengembanagan Pertanian Strategis (K4PS). Bertempat di Laboratorium Gas Rumah Kaca, kali ini Balingtan menggunakan pemanfaatan gulma Babandotan (Ageratum conizoides) untuk bahan pelapis pada pupuk lambat urai (SRF) guna mengingatkan efisiensi pupuk nitrogen (N), meningkatkan produktivitas padi dan jagung serta menekan emisi gas N2O.

“Awalnya peneliti memiliki produk bahan NI (Nitrification Inhibitor), bahannya dari gulma babandotan. Dan hasil lab-nya menunjukkan dia (Red, gulma babandotan) bisa menekan emisi gas N2O, diaplikasikan untuk melapisi urea supaya urea supaya menjadi lambat urai, sehingga  potensi mengemisi N2O berkurang,” Teknisi Penelitian Bu Titik memaparkan (11/10).

Hal ini terjadi karena pelapisan pupuk N dengan gulma babandotan tersebut berfungsi meningkatkan serapan N oleh tanaman dan menurunkan kehilangan pupuk N. Selain itu, penggunaan Ageratum conizoides sebagai pelapis alami pupuk lampat urai (SRF) juga dapat berfungsi sebagai penghambat nitrifikasi karena kandungan polifenolnya yang bersifat anti-bakteri.

Penggunaan SRF dari Babandotan nantinya akan meningkatkan 16% efisiensi pupuk N, meningkatkan 17% hasil produksi dan menekan 25% emisi N2O dibandingkan penggunaan pupuk urea. Hal ini tentu saja sejalan dengan tujuan utama dari penggunaan urea berlapis babandotan untuk menekan emisi N2O dan meningkatkan hasil. “Dari padi, penelitian sebelumnya hasilnya menekan emisi dan meningkatkan hasil. Misal kita ambil contoh produk rata-rata padi per hektar hasilnya 5 ton, dengan dilapisi itu (pupuk N berlapis babandotan) bisa di atas 5 ton,” ujarnya.

Babandotan sendiri merupakan jenis gulma yang berada di lahan kering. “Gulma babandotan itu biasanya banyak ditemui di kebun pohon jati dan tidak dimanfaatkan, padahal sebenarnya bisa, penelitian ini misal,” pungkasnya.  Beliau juga menambahkan jika penelitian KP4S yang dipegang oleh Laboratorium Gas Rumah Kaca Balintang sendiri masih berlangsung hingga sekarang. Jika sebelumnya diaplikasikan pada tanaman padi, kali ini Balingtan mengaplikasikannya pada tanaman jagung.  (Admin Balingtan)

Penilaian: 1 / 5

Aktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Teknolog Balingtan - Kompos merupakan bahan organik, seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak padi, batang jagung, sulur, carang-carang, serta kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah. Kompos mengandung hara-hara mineral yang esensial bagi tanaman.

Dewasa ini, kompos sudah dikenal luas di seluruh lapisan masyarakat. Seiring dengan berjalannya waktu pun penelitian dan percobaan mengenai kompos semakin banyak. Hal ini tentu saja memunculkan inovasi-inovasi terhadap produk kompos yang semakin berkembang. Salah satunya adalah munculnya Biokompos oleh Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) yang berlokasi di Pati, Jawa Tengah.

Dinamakan Biokompos, karena di dalamnya merupakan campuran dari kompos dan jenis bahan organik biochar. Biochar sendiri biasa kita kenal sebagai arang yang merupakan materi padat terbentuk dari karbonisasi biomasa. Biochar di tanah akan sulit diuraikan, namun biochar membantu tanah memperbaiki sifat fisik, kimia, maupun biologinya. Sifat fisik tanah dapat diperbaiki karena biochar menambah rongga di tanah sehingga tanah menjadi lebih gembur. Sedangkan sifat kimia tanah dapat diperbaiki biochar dengan mengikat hara dan akan diserap oleh tanaman. Serta untuk sifat biologi tanah, karena biochar dapat menjadi rumah bagi mikroorganisme di tanah.

Di Balingtan, biochar dapat dibuat dengan memanfaatkan tempurung kelapa, tongkol jagung, ataupun sekam padi. Dari ketiga bahan berbeda tersebut, biochar dari tongkol jagung lah yang menjadi unggulan dan sering digunakan di Balingtan, Selasa (2/10).

Selain memanfaatkan tongkol jagung sebagai bahan utama, biochar juga memanfaatkan biogas yang merupakan hasil pemanfaatan kotoran ternak di Balingtan. Tongkol jagung dibakar menggunakan tungku dengan memanfaatkan biogas sebagai bahan bakar selama kurang lebih 24 jam. Asap yang dihasilkan dari pembakaran tersebut kembali dimanfaatkan untuk asap cair sebagai biopestisida atau pestisida nabati.

Proses pembuatan Biokompos sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pembuatan kompos pada umumnya. Balingtan menggukan kotoran ternak sapi, katul, kapur, starter berupa EM4, dan tentu saja biochar. Adanya biochar inilah yang membedakan Biokompos dengan olahan pupuk organik lain.

Lalu apakah keistimewaan dari Biokompos ini? Pada produksi kompos, masalah paling utama dihadapi adalah permasalahan logam berat atau bahan beracun, baik untuk kesehatan manusia maupun untuk pertumbuhan tanaman. Jika unsur-unsur berbahaya tersebut diserap oleh tanaman dan termakan oleh manusia, makan akan mengkontaminasi seluruh rantai makanan.

Biokompos diyakini mampu mengatasi permasalahan tersebut. “Sifatnya sebagai pupuk organik membuatnya bisa mengikat logam berat dari sisa-sisa pupuk kimia atau pestisida yang tertinggal di tanah”, ujar penanggung jawab Sistem Intergrasi Tanaman Ternak 1 (SITT 1) Kebun Balingtan, Suyoto. Menurutnya inilah yang menjadi keistimewaan olahan kompos yang satu ini. Selain itu sifat kompos yang menyuburkan tanah, serta unsur hara mineral yang terkandung di dalamnya menjadi hal yang esensial bagi tanaman.

Halaman 1 dari 4