Teknologi Praktis Untuk Mengurangi Pencemaran Logam Berat

Cetak

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Inovasi Balingtan - Sebagian dari lahan pertanian yang ada sekarang ini diperkirakan telah tercemar baik oleh bahan pencemar yang bersumber dari alam maupun dari aktivitas manusia (antropogenik). Di antara kedua sumber ini, logam berat yang bersumber dari kegiatan antropogenik lebih berbahaya dan mengancam keselamatan lingkungan. Logam berat yang dihasilkan kegiatan ini dapat dengan mudah memasuki permukaan sistem tanah, dan berada pada bentuk yang tidak stabil sehingga mudah larut dan dapat diserap oleh tanaman.

Pada kondisi lingkungan khususnya lahan pertanian yang telah terkontaminasi logam berat, ada beberapa cara yang dilakukan untuk memulihkan kualitas lahan sawah yang tekontaminasi salah satunya adalah dengan cara fitoremediasi yaitu menggunakan tanaman hiperakumulator yang mampu menyerap dan mengakumulasikan logam berat di dalam jaringan tanaman.Beberapa tanaman ini dapat menurunkan kandungan logam berat dalam tanah yaitu: mendong, eceng gondok, purun tikus, dan sawi.

 

Mendong (Fymbristylis globulosa)

Tanaman mendong mampu menurunkan kadar logam berat Pb, Cd, dan Cu dalam tanah masing-masing sebesar 6%, 31%, dan 26%.

 

Eceng Gondok ( Eichornia crassipes)

Penanaman eceng gondok pada lahan tercemar limbah pabrik tekstil di Rancaekek, Bandung dapat menurunkan kadar Pb, Cd, dan Cr pada tanah masing-masing sebesar 9%, 39%, dan 20%.

 

Purun Tikus (Eleocharis dulcis)

Pada tanah Inceptisol yang tercemar limbah tekstil di Karanganyar, penggunaan tanaman purun tikus mampu menurunkan kadar Pb dalam tanah sebesar 96%, Cd sebesar 93%, dan Cu sebesar 4% setelah tanah terkontaminasi tersebut ditanami tanaman purun tikus selama dua bulan.

 

Tanaman konsumsi yang responsif terhadap logam berat

Sawi (Brassica juncea)

Tanaman sawi dapat menurunkan kadar Cd, Pb, dan Cu dalam tanah masing-masing sebesar 21%, 96%, dan 20%. Hal ini perlu mendapat perhatian jika tanaman sawi ditanam pada lahan yang tercemar logam berat maka akumulasinya dalam jaringan tanaman akan tinggi. Tanaman konsumsi lainnya yang responsif terhadap logam berat yaitu bayam dan kangkung. Oleh karena itu budidaya tanaman tersebut perlu memperhatikan kondisi lahan yang akan digunakan apakah tercemar logam berat atau tidak karena akan beresiko terhadap kesehatan manusia yang mengkonsumsi.

 

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Pati, Jawa Tengah

Indonesian Agricultural Environment Research Institute (IAERI)