Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Inovasi Pestisida Ramah Lingkungan Mendukung Swasembada Pangan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Workshop dan Seminar Internasional dengan tema “Inovasi Pestisida Ramah Lingkungan Mendukung Swasembada Pangan (Innovation of Friendly-Environmental Pesticides to support food Self sufficiency)” dilaksanakan di Pati pada tanggal 6-7 September 2017, dihadiri oleh 170 orang peserta, terdiri dari peneliti, akademisi dari berbagai perguruan tinggi, praktisi (pengusaha dan petani), dan stakeholder (Dinas Pertanian dan Ditjen Teknis lingkup Kementerian Pertanian).  Workshop dan seminar bertujuan untuk (1) menginventarisasi pencemaran dan dampak pestisida, serta menjaring
inovasi teknologi pengendaliannya di lahan pertanian, (2) menginventarisasi pemanfaatan sumberdaya lokal untuk pestisida alami dan menjaring Inovasi teknologi pestisida ramah
lingkungan di lahan pertanian, (3) memformulasikan bahan kebijakan pemerintah dalam memposisikan pestisida untuk pencapaian swasembada pangan (Padi, jagung, kedelai,
bawang merah, cabai), solusi permasalahannya, dan (4)ajang koordinasi antar UK/UPT lingkup Balitbangtan dalam penanganan masalah pestisida. Acara ini dibuka oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan, Ir. Mukti Sardjono, MSc.  Bertindak sebagai pembicara utama adalah: Dr. Muhammad Prama Yufdi (Sekretaris Balitbang Pertanian), Prof. Errol Hasan (Queensland University, Australia), Dr. Ir. Muhrizal Sarwani (Direktur Pupuk dan Pestisida), Agung Kurniawan, S.Si (PT. CropLife Indonesia), Lasiyo Syaifuddin (Petani dari Bantul) dan Ulus Primawan (Pengusaha tani dari Lembang).  Workshop dan seminar ini menghasilkan beberapa rumusan sebagai berikut.

1. Telah teridentifikasi berbagai dampak negatif dari penggunaan pestisida sintetis (konvensional) yang tidak terkontrol dan maraknya pestisida bermutu rendah menyebabkan terjadi resistensi hama tehadap insektisida, resurgensi hama, ledakan hama sekunder, matinya serangga non target (musuh alami seperti parasitoid. predator dan serangga polinasi), mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan manusia serta memerlukan biaya yang mahal. Misal residu organoklorin lindan melebihi batas maksimum residu (BMR) yang diperbolehkan di beberapa lahan sawah intensif tanah sawah di Jawa Barat dan di sentra bawang merah di DIY, residu DDT melebihi konsentrasi BMR di sentra sayuran Brastagi Sumatera Utara, Dieng Jawa Tengah, Batu Jawa Timur, dan residu endosulfan melebihi konsentrasi BMR di beberapa lahan sawah di DAS Citarum tengah, Jawa Barat.

2. Perlu adanya suatu strategi atau metode dalam upaya untuk mencegah kerusakan sumber daya alam dan lingkungan dengan memperhatikan ekologis, mempunyai nilai ekonomis, efisien, dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan dan standar hidup petani. Kondisi seperti ini yang memunculkan gagasan dan konsep sistem pertanian berkelanjutan (Sustainable agricultural systems). 

3. Indonesia sudah melakukan banyak tindakan untuk mengubah penggunaan pestisida konvensional ke arah yang lebih ramah lingkungan. Namun demikian penggunaan pestisida sintetis (konvensional) belum dapat dikendalikan. Formulasi pestisida yang beredar di pasaran juga semakin banyak, hal ini menyebabkan petani kesulitan dalam menjatuhkan pilihan.  Oleh karena itu diperlukan edukasi dan penyadaran tentang bahaya pestisida terhadap semua kalangan secara kontinue sehingga petani bisa lebih selektif dan tepat dalam memilih pestisida. Perusahaan juga perlu diberi tanggung jawab untuk memberikan edukasi penggunaan pestisida kimia secara bertanggung jawab dalam mendukung pengembangan dan pemasyarakatan pestisida yang bersifat ramah
lingkungan.

4. CropLife sebagai mitra Pemerintah diharapkan dapat membantu memberikan edukasi  peningkatan pemahaman masyarakat tani tentang keamanan penggunaan produk
perlindungan tanaman (pestisida) diantaranya pemahaman label, bekerja  dengan hatihati, merawat sprayer dengan baik, alat perlindungan diri, teknik aplikasi, teknik
penyemprotan, pengelolaan resistensi tanaman dan  menanggulangi serta  memberantas produk palsu. 

5. Pestisida hayati merupakan altenatif yang menjanjikan untuk mendukung sistem pertanian ramah lingkungan karena bersifat biodegradable, selektif, dan tidak mengandung bahan-bahan yang berbahaya. Namun demikian pestisida ini juga mempunyai beberapa kelemahan, yaitu (1) tidak bereaksi cepat (knockdown) atau relatif lambat membunuh hama, (2) Membanjirnya produk pestisida ke Indonesia, salah satunya dari China, yang harganya lebih murah (3) Bahan baku pestisida nabati relatif masih terbatas karena kurangnya dukungan pemerintah (Political Will) dan kesadaran
petani terhadap penggunaan pestisida nabati masih rendah, (4) peraturan perizinan pestisida nabati yang disamakan dengan pestisida kimia sintetik membuat pestisida nabati sulit mendapatkan izin edar dan diperjualbelikan. 

6. Dalam rangka menyusun strengthening  and refocussing program penelitian biopestisida/pestisida nabati, perlu dilakukan inventarisasi terhadap produksi pestisida ramah lingkungan (essensial oil, crude extracts, vegetable oils) yang dihasilkan oleh inventor (peneliti/akademisi/petani) melalui institusi lingkup Badan Litbang Pertanian (misal sinergi Balingtan-Balittro-Balitsa). Tantangan Badan Litbang Pertanian ke depan menemukan pestisida hayati yang mempunyai efektivitas dan kemanjuran relatif samadengan pestisida kimia.

7. Perlu disepakati untuk saat ini masih sulit untuk menghilangkan penggunaan pestisida kimia (konvensional), namun berbagai cara yang dapat menekan dampak negatif pestisida terhadap lingkungan telah mengarah pada penggunaan produk hayati ramah lingkungan dan pendekatan pengelolaan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu.

8. Teknologi Pengendalian Hama Terpadu  (PHT) adalah suatu konsep  yang lebih diarahkan pada cara pendekatan yang mengandalkan peran agroekosistem  terutama sumberdaya hayati domestik seperti musuh alami, pestisida botani, biopestisida, penggunaan varietas tahan, sistem tanam tumpangsari, penggunaan componion planting, pengelolaan ekosistem dengan cara bercocok tanam, feromenoid seks dan atraktan sintetis  guna mendukung teknologi pengendalian OPT ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

9. Pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida sintetik sampai saat ini masih diperlukan namun harus diletakkan sebagai alternatif terakhir, bilamana teknologi pengendalian ramah lingkungan tidak mampu mengatasi peningkatan populasi OPT yang telah melampau ambang kendali. Penggunaan pestisida sintetik dapat digunakan untuk menurunkan populasi  OPT sampai batas keseimbangan namun harus selektif dan tidak membunuh serangga non target seperti musuh alami. 

10. Dengan mengelola lingkungan pertanian secara tepat melalui perpaduan berbagai teknologi pengendalian yang bukan pestisida, maka populasi hama selama satu musim tanam dapat diupayakan untuk selalu berada pada aras yang tidak mendatangkan kerugian ekonomik bagi petani. Dalam keadaan demikian tentunya petani tidak perlu lagi menggunakan pestisida dan cukup mempercayakan pengendalian hama kepada pengendalian hama yang ramah lingkungan. 

11. Ke depan perlu dikembangkan sistem pertanian ramah lingkungan yang kuat dan terpadu, namun sebelum melakukan langkah-langkah tersebut perlu dibuat state of the art sistem pengembangan pertanian ramah lingkungan.

12. Dukungan terhadap kegiatan penelitian dan pengembangan konsep pengendalian OPT ramah lingkungan harus ditingkatkan. Berbagai regulasi dan kebijakan terhadap pelaksanaan pertanian berkelanjutan berwawasan lingkungan, sosialisasi dan implementasinya di lapangan harus diperkuat dengan dukungan sistem informasi yang mudah diakses pengguna.

13. Teknologi pengendalian OPT ramah lingkungan dapat diterapkan bila pemerintah berfungsi sebagai fasilitator  melalui kebijakan yang  dapat memberikan insentif bagi produsen untuk mengadopsi cara pengendalian OPT ramah lingkungan dan insentif bagi konsumen yang mengkonsumsi produk bersih.

14. Perdagangan herbisida parakuat dan karbosulfan di sebagian besar negara sudah dilarang, kecuali di Indonesia. Usulan pelarangan perdagangan herbisida tersebut harus disertai bukti dampak negatif yang kuat dan didukung data scientific.

Download lengkap Prosiding Workshop dan Seminar Internasional "Inocasi Pestisida Ramah Lingkungan Mendukung Swasembada Pangan" silahkan klik disini