Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Biokompos, Si Pengikat Logam Berat dan Bahan Beracun

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Teknolog Balingtan - Kompos merupakan bahan organik, seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak padi, batang jagung, sulur, carang-carang, serta kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah. Kompos mengandung hara-hara mineral yang esensial bagi tanaman.

Dewasa ini, kompos sudah dikenal luas di seluruh lapisan masyarakat. Seiring dengan berjalannya waktu pun penelitian dan percobaan mengenai kompos semakin banyak. Hal ini tentu saja memunculkan inovasi-inovasi terhadap produk kompos yang semakin berkembang. Salah satunya adalah munculnya Biokompos oleh Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) yang berlokasi di Pati, Jawa Tengah.

Dinamakan Biokompos, karena di dalamnya merupakan campuran dari kompos dan jenis bahan organik biochar. Biochar sendiri biasa kita kenal sebagai arang yang merupakan materi padat terbentuk dari karbonisasi biomasa. Biochar di tanah akan sulit diuraikan, namun biochar membantu tanah memperbaiki sifat fisik, kimia, maupun biologinya. Sifat fisik tanah dapat diperbaiki karena biochar menambah rongga di tanah sehingga tanah menjadi lebih gembur. Sedangkan sifat kimia tanah dapat diperbaiki biochar dengan mengikat hara dan akan diserap oleh tanaman. Serta untuk sifat biologi tanah, karena biochar dapat menjadi rumah bagi mikroorganisme di tanah.

Di Balingtan, biochar dapat dibuat dengan memanfaatkan tempurung kelapa, tongkol jagung, ataupun sekam padi. Dari ketiga bahan berbeda tersebut, biochar dari tongkol jagung lah yang menjadi unggulan dan sering digunakan di Balingtan, Selasa (2/10).

Selain memanfaatkan tongkol jagung sebagai bahan utama, biochar juga memanfaatkan biogas yang merupakan hasil pemanfaatan kotoran ternak di Balingtan. Tongkol jagung dibakar menggunakan tungku dengan memanfaatkan biogas sebagai bahan bakar selama kurang lebih 24 jam. Asap yang dihasilkan dari pembakaran tersebut kembali dimanfaatkan untuk asap cair sebagai biopestisida atau pestisida nabati.

Proses pembuatan Biokompos sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pembuatan kompos pada umumnya. Balingtan menggukan kotoran ternak sapi, katul, kapur, starter berupa EM4, dan tentu saja biochar. Adanya biochar inilah yang membedakan Biokompos dengan olahan pupuk organik lain.

Lalu apakah keistimewaan dari Biokompos ini? Pada produksi kompos, masalah paling utama dihadapi adalah permasalahan logam berat atau bahan beracun, baik untuk kesehatan manusia maupun untuk pertumbuhan tanaman. Jika unsur-unsur berbahaya tersebut diserap oleh tanaman dan termakan oleh manusia, makan akan mengkontaminasi seluruh rantai makanan.

Biokompos diyakini mampu mengatasi permasalahan tersebut. “Sifatnya sebagai pupuk organik membuatnya bisa mengikat logam berat dari sisa-sisa pupuk kimia atau pestisida yang tertinggal di tanah”, ujar penanggung jawab Sistem Intergrasi Tanaman Ternak 1 (SITT 1) Kebun Balingtan, Suyoto. Menurutnya inilah yang menjadi keistimewaan olahan kompos yang satu ini. Selain itu sifat kompos yang menyuburkan tanah, serta unsur hara mineral yang terkandung di dalamnya menjadi hal yang esensial bagi tanaman.