Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Baku Mutu Logam Berat di Lahan Sawah

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Teknologi Balingtan - Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) saat ini sedang melakukan penelitian mengenai baku mutu logam barat di lahan sawah. Dengan meneliti logam berat berupa Kromium (Cr) dan Nikel (Ni), penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi baku mutu logam berat dua unsur tersebut pada tanah bertekstur ringan, sedang, dan berat.

Penelitian ini dilatar belakangi oleh belum adanya ambang batas kandungan logam berat pada tanah. Sedangkan pada tanaman dan pangan, ambang batas baku mutu logam beratnya sudah ditetapkan oleh BSNI maupun oleh BPOM. Sehingga sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Balingtan yang lebih berfokus pada lingkungan pertanian, maka Balingtan melakukan penelitian baku mutu logam pada tanah. Yang mana kita ketahui bersama tanah merupakan media atau tempat tumbuh tanaman.

“Karena belum ada (Red, baku mutu logam berat tanah) maka kita buat suatu penelitian untuk menghubungkan. Kalau di produknya itu sekian, kira-kira berapa tanah itu aman sehingga dia ter-up take ke produk tersebut tidak lebih dari ambang batas yang diijinkan,” ujar Penanggung Jawab Penelitian Baku Mutu Logam Berat Cr dan Ni di Lahan Sawah, Sukarjo (04/10).

Penelitian yang berlangsung sejak Juni 2018 dan masih berlangsung hingga sekarang ini, menggunakan tanaman indikator berupa padi. Padi dipilih karena menyesuaikan kondisi ekosistem Balingtan berupa lahan sawah. Tanah yang digunakan pun berupa 3 tekstur tanah berbeda. “Tanah memengaruhi kemampuannya dalam mengikat logam, semakin sedikit kandungan liatnya semakin sedikit kemampuan mengikatnya,” pungkas Sukarjo.

Sedangkan untuk membuat baku mutu logam di tanah sendiri, peneliti melakukan pembuatan deret di tanah. Sementara tanahnya, dicemari dengan logam-logam yang ingin dikalibrasi. “Kita buat deret mulai dari tanpa kontaminasi, terkontaminasi, terus meningkat. Kemudian kita tanami tanaman indikatornya. Dari hasil kita menggunakan tanaman indikator itu akan kita peroleh hubungan antara kontaminan yang ada di tanaman dengan yang ter-up take di tanah. Setelah itu kita buat korelasi saja,” Sukarjo menjelaskan.

Penelitian tentang baku mutu logam berat di tanah ini sebenarnya sudah dilakukan beberapa kali di Balingtan, hanya saja dengan jenis logam yang berbeda. Jika pada penelitian kali ini peneliti menggunakan Kromium dan Nikel, pada penelitian sebelumnya Balingtan menggunakan logam jenis Arsen (As), Cd (Kadmium), dan Hg (Merkuri).