Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Gulma Babandotan: Pelapis Pupuk Lambat Urai Pembawa Manfaat

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Teknologi Balingtan - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Litbang Balingtan) tengah melakukan Kerjasama Penelitian, Pengkajian, dan Pengembanagan Pertanian Strategis (K4PS). Bertempat di Laboratorium Gas Rumah Kaca, kali ini Balingtan menggunakan pemanfaatan gulma Babandotan (Ageratum conizoides) untuk bahan pelapis pada pupuk lambat urai (SRF) guna mengingatkan efisiensi pupuk nitrogen (N), meningkatkan produktivitas padi dan jagung serta menekan emisi gas N2O.

“Awalnya peneliti memiliki produk bahan NI (Nitrification Inhibitor), bahannya dari gulma babandotan. Dan hasil lab-nya menunjukkan dia (Red, gulma babandotan) bisa menekan emisi gas N2O, diaplikasikan untuk melapisi urea supaya urea supaya menjadi lambat urai, sehingga  potensi mengemisi N2O berkurang,” Teknisi Penelitian Bu Titik memaparkan (11/10).

Hal ini terjadi karena pelapisan pupuk N dengan gulma babandotan tersebut berfungsi meningkatkan serapan N oleh tanaman dan menurunkan kehilangan pupuk N. Selain itu, penggunaan Ageratum conizoides sebagai pelapis alami pupuk lampat urai (SRF) juga dapat berfungsi sebagai penghambat nitrifikasi karena kandungan polifenolnya yang bersifat anti-bakteri.

Penggunaan SRF dari Babandotan nantinya akan meningkatkan 16% efisiensi pupuk N, meningkatkan 17% hasil produksi dan menekan 25% emisi N2O dibandingkan penggunaan pupuk urea. Hal ini tentu saja sejalan dengan tujuan utama dari penggunaan urea berlapis babandotan untuk menekan emisi N2O dan meningkatkan hasil. “Dari padi, penelitian sebelumnya hasilnya menekan emisi dan meningkatkan hasil. Misal kita ambil contoh produk rata-rata padi per hektar hasilnya 5 ton, dengan dilapisi itu (pupuk N berlapis babandotan) bisa di atas 5 ton,” ujarnya.

Babandotan sendiri merupakan jenis gulma yang berada di lahan kering. “Gulma babandotan itu biasanya banyak ditemui di kebun pohon jati dan tidak dimanfaatkan, padahal sebenarnya bisa, penelitian ini misal,” pungkasnya.  Beliau juga menambahkan jika penelitian KP4S yang dipegang oleh Laboratorium Gas Rumah Kaca Balintang sendiri masih berlangsung hingga sekarang. Jika sebelumnya diaplikasikan pada tanaman padi, kali ini Balingtan mengaplikasikannya pada tanaman jagung.  (Admin Balingtan)