Teknologi Surjan

Cetak

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

 


Inovasi Balingtan - Empat target sukses Kementerian Pertanian yaitu (1) swasembada berkelanjutan dan pencapaian swasembada, (2) diversifikasi pangan, (3) peningkatan daya saing nilai tambah ekspor, (4) kesejahteraan petani. Badan Penelitian dan Pengenbangan Pertanian beserta jajarannya memiliki kontribusi dan komitmen dalam pencapaian target tersebut. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) mempunyai kebun percobaan Balingtan seluas 17 ha. Salah satu fungsi kebun percobaan adalah untuk mendukung pelaksanan tupoksi balai sebagai lokasi pelaksanaan penelitian, show windowpengadaan sumber benih, pengembangan agrowisata dan lain-lain.

 

Embung yang ada di Balingtan merupakan salah satu teknologi untuk beradaptasi terhadap kekeringan dan menampung air pada saat kelebihan air. Air embung dapat dimanfaatkan sebagai sumber irigasi untuk penanaman disekitar embung dan demplot Sistem Pertanian Ramah Lingkungan (SPRL) model surjan. Upaya penanaman pohon mangga/padi/palawija/sayuran model surjan di Balingtan merupakan salah satu upaya untuk memanfaatkan embung sebagai teknologi adaptasi perubahan iklim yang telah dihasilkan oleh Balingtan sekaligus sebagai tanaman penyerap karbon sehingga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2).

Untuk meningkatkan daya guna ekosistem Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering (LKRIK) Di Balingtan dapat dikembangkan sistem surjan  yaitu pengelolaan tanaman padi di lahan basah/  sawah dan tanaman tahunan (mangga) di lahan kering. Dengan model surjan akan mengurangi bahaya kekeringan kegagalan dapat diperkecil,  distribusi tenaga kerja lebih merata, diversifikasi tanaman dan pendapatan petani meningkat.



Pengelolaan lahan sawah tadah hujan model surjan akan diperoleh:

1) Teknologi ramah lingkungan model surjan (Intercropping mangga-padi/palawija/sayuran) di Balingtan yang mewakili wilayah ekosistem Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering (LKRIK),

2) tersedianya varietas padi rendah emisi dan potensi hasil tinggi untuk sawah tadah hujan, dan

3) bahan amelioran dan pupuk kandang yang dapat menigkatkan kesuburan tanah, hasil dan kualitas gabah.

 

 

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Pati, Jawa Tengah

Indonesian Agricultural Environment Research Institute (IAERI)