Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
       

Berita Balingtan - Bioprotektor merupakan produk berbahan alami yang dapat digunakan untuk mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia pada pertanian. Sesuai dengan fungsinya untuk melakukan penelitian pertanian  ramah lingkungan, Balingtan sudah menghasilkan produk-produk bioprotektor seperti Segartan dan Biopestisida Balingtan. Saat ini Balingtan sedang mengembangkan bioprotektor baru seperti biopestisida dan pupuk hayati yang dapat digunakan ke tanaman spesifik seperti padi, jagung dan kedelai. 

Salah satu bahan penting dalam  formula bioprotektor adalah mikroba. Mikroba yang digunakan tentu adalah mikroba  yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah seperti bakteri penambat nitrogen dan pelarut fosfat, selain itu juga digunakan bakteri yang bersifat pathogen terhadap serangga sehingga dapat digunakan sebagai pestisida.

Sebagai langkah awal kegiatan, tim peneliti dari kegiatan Bioprotektor untuk komoditas kedelai mengikuti kegiatan pembiakan bakteri di Laboratorium Mikrobiologi Balingtan. Pembiakan bakteri merupakan proses memperbanyak bakteri dengan menyediakan keadaan lingkungan yang tepat. Beberapa anggota tim mengaku bahwa kegiatan tersebut adalah pengalaman pertama dan ilmu baru bagi mereka , sehingga mereka sangat bersemangat mengikuti seluruh proses pembiakan bakteri  yang membutuhkan waktu cukup lama. Semua proses penelitian diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah ilmu dan pengetahuan semua anggota tim dan Balingtan dapat menghasilkan formula bioprotektor yang ampuh untuk meningkatkan produktivitas kedelai di Indonesia. Ditengah-tengah WFH, tim peneliti Balingtan tetap melaksanakan tugas dengan tetap memperhatikan himbauan pemerintah terkait pencegahan penyebaran covid-19. Kami bekerja untuk kemajuan lingkungan pertanian Indonesia. Kamu mendukung kami dari rumah. Semangat WFH dimanapun berada!!! (Baiq NS-Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
       

Berita Balingtan - Sekali dayung dua tiga, pulau terlampaui. Pepatah ini kiranya sesuai dengan kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dari Kelompok Peneliti (Keti) Evaluasi Penanggulangan Pencemaran Lingkungan Pertanian (EP3), Balingtan. Pasalnya, kegiatan utama pra survey di NTB dan koordinasi dengan BPTP NTB (9-11/03), turut membuahkan inisiasi kerjasama penelitian dan pengabdian masyarakat dengan salah satu universitas di NTB.

Adalah Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang merupakan satu-satunya universitas di Pulau Sumbawa, NTB yang menggandeng Balingtan untuk melakukan kerjasama penelitian lingkungan pertanian dan pengabdian kepada masyarakat. Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari Sosialisasi Kerja Sama Riset ASEAN-Rusia oleh Dr. Harjito Dosen Pasca Sarjana Universitas Teknologi Sumbawa (09/03).

Kepala Balingtan Ir. Mas Teddy Sutriadi, M.Si. bersama Kasie Yantek & Jasa Penelitian Rina Kartikawati, SP., M.Agr., beserta dua penelitinya Sukarjo, STP., MP dan Dr. Elisabeth Srihayu Harsanti disambut langsung oleh Rektor UTS Ir. Chairul Hudaya, ST., M.Eng., Ph.D., IPM bererta jajarannya serta perwakilan dari 7 fakultas yang diperkenalkan satu persatu. Hal yang sangat unik adalah Rektor, Wakil Rektor, Dekan maupun Kaprodi UTS adalah kelompok milenial semua, yang menunjukkan UTS berpotensi pesat perkembangannya. 

Pada kesempatan tersebut Balingtan mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan company profile-nya dan dilanjutkan dengan diskusi bersama Rektor dan jajarannya. Balingtan mengenalkan teknologi yang telah dihasilkan dan digunakan petani maupun yang potensi dikembangkan juga di Sumbawa serta fasilitas dan kompetensi yang dimiliki. Diskusi sangat dinamis dan menarik. Rektor sangat tertarik dengan teknologi yang telah dihasilkan Balingtan dan berharap para Kaprodi menginspirasi dan mengembangkan di UTS.

Dalam diskusi tersebut ada beberapa inovasi teknologi yang diminati akademisi di UTS antara lain FIO, Biopestisida, pemanfaatan IT. “Para Kaprodi saya harapkan bisa belajar dari apa yang dihasilkan Balingtan misalnya pemanfaatan IT untuk pertanian juga Filter kontaminan dengan Arang aktif itu sangat memungkinkan dikembangkan di sini” demikian Rektor UTS mengispirasi para Kaprodi UTS. Rektor juga menyampaikan “Kebetulan penelitian saya dulu tentang arang aktif tapi untuk kepentingan lain yaitu energy, jadi ini hal menarik ada kepentingan untuk pertanian”. 

Selain itu akademisi juga tertarik untuk mengembangkan biopestisida karena sumberdaya lokal di Sumbawa sangat banyak dan potensial. Sementara ini baru melakukan riset pemanfaatan kirinyu untuk pembuatan sabun. Tim Balingtan diajak ke Danau Batu Bulan dan Embung Pernek yang merupakan area kolaborasi riset ASEAN-Rusia terkait dengan konservasi mengatasi berbagai permasalahan lingkungan khususnya di bidang penanganan limbah yang berdampak pada sektor pertanian di Sumbawa. Kolaborasi ini melibatkan UTS dan rencana akan menggandeng Balingtan.

 “Balingtan adalah tempat yang tepat karena sesuai tupoksinya dan fasilitas yang dimiliki sangat mendukung. Saya sudah ke Balingtan dan teman-teman UTS semoga berkesampatan untuk melihat langsung di Balingtan”. Pungkas Dr. Harjito mengakhiri diskusi sore itu.  Balingtan-UTS berharap kolaborasi ini dapat berjalan dengan lancar dan berkesinambungan. Pertemuan Balingtan dan Rektor beserta jajarannya di UTS langsung ditindaklanjuti dalam bentuk MoU kedua belah pihak yang sedang dalam proses. (E.S. Harsanti - Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
       

Berita Balingtan - Bakteri adalah organisme mikroskopis yang dapat hidup di lingkungan yang beragam, seperti tanah, air sungai, air laut bahkan di dalam tubuh manusia. Bakteri mempunyai perannya masing-masing, ada bakteri yang berbahaya tetapi ada juga bakteri yang bermanfaat. Dalam bidang pertanian, bakteri yang banyak diperoleh adalah bakteri yang berasal dari tanah. Sebagian besar bakteri di dalam tanah memiliki peran yang menguntungkan seperti perombak bahan organik, penambat N, pelarut fosfat, merangsang pertumbuhan tanaman, antipatogen, recycling dan membantu penyerapan unsur hara dalam tanah.

Untuk mendapatkan bakteri, seperti yang berasal dari tanah perlu dilakukan inokulasi bakteri dan dilanjutkan oleh pembiakan bakteri. Inokulasi sendiri artinya adalah proses pemindahan bakteri dari media lama ke media yang baru (contoh: media tanah ke media agar). Sedangkan pembiakan bakteri adalah perbanyakan bakteri dengan menyediakan keadaan lingkungan yang tepat.

Kegiatan inokulasi dan pembiakan bakteri juga merupakan salah satu tahapan yang dilakukan dalam kegiatan penelitian utama di Balingtan pada TA 2020 ini. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kegiatan penelitian flagship dengan judul kegiatan “Optimalisasi pemanfaatan pestisida nabati dan pupuk hayati ramah lingkungan pada tanaman jagung di Jawa Tengah”. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan teknologi pestisida nabati berbasis sumberdaya lokal dan pupuk hayati yang efektif menekan OPT sekaligus meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman jagung. (Admin Balingtan)

Semoga kegiatan ini dapat berjalan lancar dan hasilnya dapat bermanfaat untuk petani demi majunya pertanian Indonesia!!

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
       

Berita Balingtan - Pengelolaan jerami ramah lingkungan merupakan upaya transfer teknologi pertanian yang dilakukan oleh Balingtan bekerjasama dengan BPP Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati. Transfer teknologi ini diharapkan dapat menjadi upaya pengenalan teknologi ramah lingkungan kepada petani untuk dapat diintroduksi sebaagai jalan melindungi lahan dari kerusakan.

Fokus kegiatan utama adalah pengelolaan jerami. Jerami melimpah pada musim panen, yaitu sebesar 7-10 ton/ha namun masih kurang menjadi daya tarik bagi petani mengolahnya karena lebih memilih membakar jerami. Pembakaran jerami sendiri dapat meningkatkan cemaran udara, peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) dan kehilangan komponen biotik di areal yang dibakar. Padahal jerami memiliki unsur K dan Si yang cukup tinggi, dengan proses pengomposan diharapkan dapat mengembalikan kandungan hara yang terdapat pada jerami ke dalam tanah.

Teknologi inovatif yang diterapkan berupa Panca Kelola Ramli, terdiri dari varietas padi yang adaptif terhadap perubahan iklim, urea berlapis biochar, penggunaan pestisida nabati, pengaturan air dan aplikasi bahan organik. Teknologi inovatif ini tidak hanya ramah lingkungan namun tetap memperhatikan peningkatan produktivitas padi. Hal yang menarik adalah aplikasi bahan organik pada Panca Kelola Ramli.

Hesti Yulianingsih, SP sebagai penanggung jawab kegiatan lapang menyebutkan bahwa bahan organik yang digunakan adalah jerami yang dikomposkan dan abu jerami. Sebagai pembanding adalah tanpa bahan organik dan biokompos yang merupakan gabungan dari biochar dan kompos. “Harapannya dari penelitian ini kita dapat memberikan informasi kepada petani mengapa pembakaran jerami sebaiknya ditinggalkan”. Demikian pungkas Hesti. (Admin Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
       

Berita Balingtan - Pestisida kimia telah lazim digunakan dalam budidaya pertanian terutama budidaya padi. Akan tetapi, penggunaan dalam jangka waktu yang lama dapat meninggalkan residu di dalam tanah, menjadi racun bagi organisma lain, serta berdampak buruk untuk kesehatan manusia. Hal tersebut melatarbelakangi pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara alami termasuk memanfaatkan sumber daya alam tersedia sebagai bahan pestisida nabati.

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) telah menginisiasi pestisida nabati berbasis sumberdaya lokal dengan memanfaatkan biji mahoni, daun/biji mimba, cairan dari asap cair proses pirolisis arang hayati, dan urin sapi. Bahan baku seperti daun mimba dan biji mahoni sangat mudah didapatkan mengingat ketersediaannya yang melimpah di sekitar lingkungan UPT.

Pada TA 2020, salah satu kegiatan penelitian utama Balingtan adalah “Pengembangan Teknologi Bio protektor untuk menanggulangi dampat perubahan iklim pada komoditas tamanan Pangan”. Ada tiga komoditas pangan yang akan digunakan, yaitu padi, jagung dan kedelai. Untuk tanaman padi, Balingtan menempatkan petak percobaanya di lahan petani di Desa Tlogomojo, Kecamatan Batangan, Kabuaten Pati.  Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh teknologi pestisida nabati berbasis sumberdaya lokal dan pupuk hayati yang efektif menekan OPT sekaligus meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman padi.

Tim penelitian, di tengah-tengah pandemic covid-19 dan pembatasan kegiatan keluar rumah, tetap melalukan kegiatan lapang. Indratin, SP, penanggung jawab kegiatan lapang, mengatakan “Kegiatan lapang harus tetap dilakukan meskipun kondisi kita seperti ini, di mana-mana ada pembatasan gerak. Namun kita juga harus ekstra hati-hati dengan tetap mengindahkan himbauan pemerintah pusat dan setempat. Hal ini yang selalu disampaikan Bapak Ka Balingtan (Ir. Mas Teddy Sutriadi, M.Si) dalam setiap video conference”.

Percobaan dilakukan secara split plot dengan 5 perlakuan dan tiga. Luas masing-masing petak sebesar 15x5 m2. Harapannya, dengan adanya aplikasi pestisida nabati serta pupuk hayati, bukan hanya produktivitas padi yang tinggi namun juga berpengaruh terhadap kesehatan tanah dan sehingga pertanian ramah lingkungan dapat diaplikasikan oleh banyak petani. Kami tetap bekerja di lapang untuk pertanian Indonesia. (Nourma-Ballingtan)