Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Berita Balingtan - Sumber cemaran logam berat dan pestisida di lahan sawah tidak hanya berasal dari kegiatan produksi pertanian, tetapi dapat dimungkinkan dari sumber-sumber lain. Untuk melengkapi data pembuatan peta pencemaran logam berat dan senyawa POPS di lahan sawah di kabupaten Jombang dilakukan pengumpulan data tambahan berupa kualitas air sungai di beberapa posisi yang mensuplai air irigasi dan kualitas air limbah industri yang masuk ke sungai/jaringan irigasi. Data yang diambil terdiri dari data primer melalui pengambilan sampel air untuk dianalisis lebih lanjut dan data sekunder dari hasil analisis instansi terkait. Pengambilan sampel air limbah dilakukan pada tanggal 28-31 Juli 2013 di 10 outlet pembuangan air limbah industri besar di kabupaten Jombang. Data sekunder yang diperoleh dari badan Lingkungan Hidup berupa data kualitas air sungai di 14 lokasi dan data kualitas air limbah industri besar. Untuk mengetahui pergerakan air sebagai salah satu sarana penyebaran logam berat maupun senyawa POPS maka diperlukan peta spasial sungai dan jaringan irigasi yang diperoleh dari Dinas Bina Marga dan Pengairan kabupaten jombang. (Sukarjo, STP, MP / Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Berita Balingtan - Kegiatan ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) fase ke 2 tahun 2013 di wilayah Papua di laksanakan untuk memonitoring emisi CH4 dan CO2 dari lahan gambut dengan pertanaman sagu (Metroxylon sagu Rottb). Monitoring dilakukan setiap 3 bulan sekali. Lokasi pengambilan sampel dilaksanakan di Kampung Naena Mukti Pura Distrik Kuala Kencana Kabupaten Mimika Papua. Pengambilan dilakukan dengan 6 ulangan pada jarak antar ulangan 20 meter. Waktu pengambilan sampel dilakukan pada pagi dan siang hari.

Monitoring II dilaksanakan pada tanggal 17 Juli 2013. Sungkup yang di gunakan berbentuk tabung, terbuat dari paralon dengan ukuran panjang 30 cm dan diameter 8 inci. Untuk penyimpanan gas digunakan vial kaca dalam kondisi vakum dengan ukuran 10 ml dengan interval pengambilan sampel sebanyak 7 kali (menit ke 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21). Sampel gas dianalisa di laboratorium Gas Rumah Kaca (GRK) Balai Penelitian Lingkungan Pertanian dengan menggunakan alat Micro GC seri CP 4900. Hasil pengukuran fluks CH4 dari lahan gambut yang ditanami Sagu terukur pada pagi hari sebesar 75 mg CH4/m2/hari dan saat siang hari terukur 60 mg CH4/m2/hari. Hasil pengukuran fluks CO2 dari lahan gambut terukur pada pagi hari sebesar 5635 mg CO2/m2/hari dan pada siang hari sebesar 4846 mg CO2/m2/hari. Rata rata fluks harian pada monitoring II GRK pada lahan gambut pertanaman sagu di lokasi ini untuk CH4 sebesar 67,28 mg CH4/m2/hari sedangkan untuk CO2 sebesar 5240 mg CO2/m2/hari. (Anggri Hervani/Balingtan)

Berita Terkait: Pelatihan Pengukuran Emisi Gas Rumah Kaca Pada Lahan Gambut Di Papua

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Berita Balingtan - Sebagian dari lahan pertanian yang ada sekarang ini diperkirakan telah tercemar baik oleh bahan pencemar yang bersumber dari alam maupun dari aktivitas manusia (antropogenik). Di antara kedua sumber ini, logam berat yang bersumber dari kegiatan antropogenik lebih berbahaya dan mengancam keselamatan lingkungan. Logam berat yang dihasilkan kegiatan ini dapat dengan mudah memasuki permukaan sistem tanah, dan berada pada bentuk yang tidak stabil sehingga mudah larut dan dapat diserap oleh tanaman.

Pada kondisi lingkungan khususnya lahan pertanian yang telah terkontaminasi logam berat, ada beberapa cara yang dilakukan untuk memulihkan kualitas lahan sawah yang tekontaminasi salah satunya adalah dengan cara fitoremediasi yaitu menggunakan tanaman hiperakumulator yang mampu menyerap dan mengakumulasikan logam berat di dalam jaringan tanaman.Beberapa tanaman ini dapat menurunkan kandungan logam berat dalam tanah yaitu: mendong, eceng gondok, purun tikus, dan sawi.

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Berita Balingtan - Penggunaan pestisida sekarang ini semakin intensif dan cenderung tidak terkontrol, sehingga ditengarai akan berdampak terhadap agroekologi pertanian dalam bentuk residu pestisida. Berdasarkan hasil penelitian, residu pestisida organoklorin dan organofosfat masih banyak terdeteksi pada tanah, air, maupun tanaman. Residu pestisida dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia bila terakumulasi dalam tubuh. Oleh karena itu perlu usaha untuk mendeteksi residu pestisida secara cepat terutama pada produk pertanian.

Residu pestisida pada umumnya dianalisis dengan menggunakan alat kromatografi gas (KG), Kromatografi cairan kinerja tinggi (KCKT) dan Kromatografi lapis tipis (KLT). Metode ini membutuhkan peralatan yang sangat mahal, personil yang terlatih, waktu yang relatif lama, bahan kimia yang banyak dan mahal, serta harus mengelaborasi prosedur preparasi contoh.

Alat multimeter digital (AMD) mampu mendeteksi residu organoklorin dan organofosfat secara cepat, murah dan praktis. Alat ini menggunakan prinsip perbedaan resistensi (tahanan) terhadap arus listrik senyawa kimia residu pestisida relatif spesifik. Setiap senyawa kimia memiliki kemampuan tingkat resistensi terhadap arus listrik yang spesifik atau berbeda-beda. Dengan teknik ini mampu menghemat biaya, dan waktu analisis serta dapat meminimalisir penggunaan pelarut organik. AMD-Balingtan saat ini masih berupa prototipe dan sedang dikembangkan untuk menjadi alat uji cepat analisa residu pestisida secara cepat, murah, dan praktis. (Dr. Asep Nugraha, Eman Sulaeman, SP dan Asep Kurnia, SP / Balingtan)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Berita Balingtan - Kegiatan ICCTF (Indonesia Climate Change Trust Fund) Fase ke 2 tahun 2013 di wilayah Papua dimulai dengan pelatihan tentang Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Terdegradasi untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dan Mengoptimalkan Produktivitas Tanaman di Timika. Papua merupakan lokasi ICCTF terbaru pada fase ini karena pada fase 1 belum termasuk dalam lokasi pengukuran emisi GRK. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 9-11 April 2013 bertempat di Hotel Grand Tembaga Timika, Papua. Peserta pelatihan terdiri dari penyuluh, pengambil kebijakan, peneliti dan dosen perguruan tinggi setempat. Beberapa materi terkait pengukuran dan perhitungan emisi GRK disampaikan oleh peneliti dari Balingtan yaitu Ali Pramono, SP, M.Biotech  dan Anggri Hervani, SP.

Setelah pembekalan materi, dilaksanakan pula praktek lapang yang bertujuan untuk melatih cara pengambilan sampel GRK di lahan gambut. Pengambilan sampel gas pertama dilakukan di gambut hutan sagu di Desa Muktipura, Naena (SP VI), Timika, Papua pada tanggal 10 April 2013. Pengambilan dilakukan dengan 5 ulangan pada jarak antar ulangan 20 meter. Sampel gas diambil menggunakan sungkup silindris tertutup berdiameter 21 cm dengan 7 interval waktu (menit ke 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21) dan kemudiian sampel gas disimpan di dalam vial. Sampel gas kemudian dianalisis di Laboratorium GRK, Balai Penelitian Lingkungan Pertanian. Rata-rata fluks CH4 dari lahan gambut yang ditanami sagu terukur sebesar 329 mg CH4/m2/hari dan fluks CO2 sebesar 21.100 mg CO2/m2/hari. Pengambilan sampel berikutnya dilakukan setiap 3 bulan sekali. (Ali. P dan Anggri. H / Balingtan)