Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Identifikasi Emisi Metana (CH4) Pada Sistem Integrasi Tanaman-Ternak (SITT)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 


IDENTIFIKASI EMISI METANA (CH4) PADA SISTEM INTEGRASI TANAMAN-TERNAK (SITT)
Oleh :
Miranti Ariani, Prihasto Setyanto dan Titi Sopiawati
Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Jl. Jakenan-Jaken KM 05, Pati 59182
E-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Website : www.balingtan.litbang.deptan.go.id


Abstrak

Ciri utama sistem integrasi tanaman-ternak (SITT) adalah keterkaitan antara tanaman dengan ternak. Kotoran ternak langsung digunakan sebagai pupuk organik untuk tanaman pangan (padi sawah), akan meningkatkan emisi gas metan dan pada gilirannya berpengaruh terhadap pemanasan suhu global. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi awal mengenai emisi gas rumah kaca terutama CH4 yang ditimbulkan dari pengelolalan pertanian dengan menerapkan Sistem Integrasi Tanaman Ternak (SITT). Penelitian  dilaksanakan di kebun percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Jakenan pada MK 2007 dengan 5 perlakuan pupuk kandang, yaitu (1) jerami langsung diberikan ke dalam tanah sebagai pupuk (JL); (2) jerami digunakan sebagai pakan dan kotoran ternaknya dimanfaatkan sebagai pupuk kandang (JPk); (3) jerami difermentasi dengan Probio, kemudian dijadikan pakan, dan kotoran ternaknya dimanfaatkan sebagai pupuk kandang (JPrPk); (4) jerami difermentasi dengan Starbio, kemudian dijadikan pakan, dan kotoran ternaknya dimanfaatkan sebagai pupuk kandang (JStPk); (5) sisa-sisa jerami (pakan) dan kotoran ternaknya diproses melalui Biodigester, dan bahan hasil Biogas dimanfaatkan sebagai pupuk kandang (JBioPk). Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi CH4 terendah berasal dari perlakuan JStPk  yaitu sebesar 17,8 kg/ha/musim disusul oleh perlakuan JBioPk, perlakuan JPk, perlakuan JPrPk dan perlakuan JL masing-masing sebesar 21,6; 27,8; 36,3 dan 52,9 kg/ha/musim. Hasil gabah kering giling pada KA 14% tertinggi pada perlakuan JBioPk yaitu sebesar 5,2 t/ha dan disusul oleh perlakuan JPrPk, perlakuan JL, perlakuan JStPk dan perlakuan JPk berturut-turut sebesar 5,1; 4,9; 4,8 dan 4,7 t/ha. Hasil uji statistik pada taraf 0,05 DMRT menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang yang berbeda-beda sebagai pupuk dasar, tidak memberikan pengaruh yang nyata pada perbedaan hasil panen maupun emisi gas rumah kacanya.



Kata kunci : SITT, emisi, metana