Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Emisi N2O Dari Lahan Sawah Pasang Surut Salin

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 


Emisi N2O Dari Lahan Sawah Pasang Surut Salin
Helena Lina Susilawati, Miranti Ariani dan Prihasto Setyanto
Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Jln. Jakenan-Jaken Km 5, Pati 59182, Jawa tengah


ABSTRAK
Semakin sempitnya lahan pertanian akibat konversi lahan ke non pertanian dan upaya peningkatan produksi padi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional maka pengembangan penggunaan lahan sawah mulai diarahkan ke lahan-lahan marginal seperti lahan sawah pasang surut. Perubahan penggunaan lahan dikhawatirkan memberi kontribusi yang sangat besar dalam meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang berpengaruh terhadap kenaikan suhu bumi. Salah satu GRK yang diemisikan akibat penggunaan lahan pertanian adalah dinitrogen oksida (N2O). Potensi N2O terhadap pemanasan global adalah 200 kali lebih kuat dari CO2 dan mempunyai life time di atmosfer antara 100-175 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya emisi N2O pada lahan sawah pasang surut dengan ekosistim salin yang ditanami 4 varietas padi yaitu Indragiri, Punggur, Martapura dan Sei Lalan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian pada bulan Mei sampai Oktober 2005. Sebanyak 8 ton contoh tanah dari lahan pasang surut dari Kabupaten Demak diambil dan ditempatkan dalam mikroplot berukuran 1,5 m x 1,5 m x 0,5 m untuk kemudian ditanami empat varietas padi. Pemupukan tanaman dilakukan sesuai anjuran yaitu 120 kg N, 90 kg K dan 60 kg P.  Contoh gas diambil secara manual dengan menggunakan jarum suntik volume 5 ml dan sungkup berukuran 20 x 40 x 20 cm dengan interval waktu pengambilan 5, 15, 25 dan 35 menit. Contoh gas diambil setiap 7 hari sekali  untuk selanjutnya dilakukan analisa N2O dengan menggunakan alat kromatografi gas dengan ECD (Electron Capture Detector). Hasil pengamatan menunjukkan adanya hubungan yang nyata antara fluks N2O dengan suhu. Uji regresi menunjukkan bahwa suhu udara optimum umtuk pembentukkan N2O adalah 25.6oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi N2O selama satu musim dari varietas Indragiri, Punggur, Martapura dan Sei Lalan adalah 0,448, 0,262, 0,207 dan 0,204 kg/ha. Emisi N2O tersebut tidak berbeda nyata antar varietas. Hasil gabah berkisar antara 5,65-6,75 t/ha dan tidak berbeda nyata antar varietas.



Kata kunci : emisi, dinitrogen oksida dan lahan sawah pasang surut