Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Kontaminasi Residu Organoklorin pada Darah Petani Sayuran di Pati, Magelang dan Brebes

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Kontaminasi Residu Organoklorin pada Darah Petani Sayuran di Pati, Magelang, dan Brebes

Indratin, Poniman, A. Ichwan dan A.N. Ardiwinata

Balai Penelitian Lingkungan Pertanian


Abstrak

Pestisida dalam budidaya pertanian dapat memperbaiki tampilan produk pertanian, namun disisi lain lain dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Pestisida golongan organoklorin telah dilarang penggunaanya sejak tahun 1970-an karena persistensi dan toksisitasnya yang tinggi. Sedangkan golongan organofosfat dan karbamatyang persistensi dan toksisitasnya relatif kurang di lingkungan sampai sekarang masih digunakan. Dari ketiga jenis golongan pestisida tersebut organoklorin ternyata memiliki tingkat residu (waktu paruh) paling lama. Keracunan pestisida terjadi karena pemaparan (exposure) langsung oleh pestisida (menghirup, terkena percikan, atau menyentuh sisa pestisida), dan karena mengkonsumsi bahan-bahan makanan yang mengandung residu pestisida. Dalam batas tertentu paparan pestisida akan mengkontaminasi darah penggunanya. Paparan yang melebihi batas maksimal yang telah ditetapkan (MRL-Maximum Residue Limit), atau batasan asupan harian (ADI-Acceptable Daily Intake) sebagai batasan baku yang ditetapkan badan dunia (WHO, FAO) akan terakumulasi dalam darah, selanjutnya dapat berakibat fatal bagi petani. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan data terbaru residu organoklorin pada darah petani di sentra produksi sayuran di Pati, Magelang dan Brebes. Penelitian dilaksanakan pada petani sayuran di Pati, Magelang dan Brebes. Pengambilan contoh darah dibantu oleh petugas Dinas Kesehatan/Puskesmas terdekat. Selanjutnya sampel dikirim ke laboratorium untuk dianalisis kandungan residu organoklorin. Hasilnya menunjukkan kisaran konsentrasi berturut-turut linden tidak terdeteksi-0,7732 ppm, aldrin 0,0273-0,1260 ppm, heptaklor tidak terdeteksi-0,0480 ppm, endosulfan tidak terdeteksi-0,1493 ppm. Jika disbandingkan dengan nilai ADI maka konsentrasi residunya sudah diatas ambang batas sehingga kandungan organoklorin sudah pada tahap berbahaya pada kesehatan petani.

Sumber : Prosiding Seminar Nasional dan Dialoq Sumberdaya Lahan Pertanian Bogor, 18-20 November 2008, Buku III Informasi Sumber Air, Iklim dan Lingkungan hal 113.