Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Nutrient by Water Interactions in Rainfed Lowland Rice at Different Positions in the Toposequence

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

 

Nutrient by Water Interaction in Rainfed Lowland Rice at different Positions in the Toposequence

A. Wihardjaka (1) and L.J. Wade (2)
(1)Research Station of Agricultural Environment Preservation

(2)International Rice Research Institute

 

Abstrak

 

Kondisi basah-kering silih berganti pada sistem sawah tadah hujan berpengaruh terhadap ketersediaan hara. Percobaan lapang dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan milik petani di Jakenan, Jawa Tengah selama 2000-01, meliputi dua lokasi dengan sistem sawah tadah hujan dan satu lokasi dengan sistem irigasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tanggap tanaman padi sawah tadah hujan terhadap interaksi hara dan air pada toposekuen berbeda. Percobaan faktorial disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Lokasi yang diperlakukan terdiri atas bagian atas dan bagian bawah dari suatu toposekuen untuk ekosistem sawah tadah hujan dan satu lokasi untuk sawah beririgasi. Perlakuan hara terdiri atas Nil, PK, NPK, CR-NPK, NPKZn, dan pupuk kandang. Hasil gabah dan serapan hara pada padi gogorancah lebih tinggi daripada padi walik jerami. Ketersediaan air bagi tanaman padi gogorancah lebih menguntungkan daripada padi walik jerami. Tanggap padi gogorancah terhadap interaksi hara dan air tidak nyata, sedangkan pada padi walik jerami nyata. Interaksi hara dan air juga nyata berpengaruh terhadap serapan hara. Serapan hara padi gogorancah nyata lebih tinggi daripada padi walik jerami. Padi sawah tadah hujan tidak tanggap terhadap pemberian PK pada semua lokasi. Serapan N, P, K berkorelasi kuat dengan hasil pada semua lokasi. Pemberian pupuk N lambat urai (CR-NPK) dengan ketersediaan air cukup pada padi gogorancah umumnya mempengaruhi serapan hara lebih tinggi daripada batas akumulasi maksimum, yang menunjukkan adanya cekaman akibat faktor selain hara N, P, K.

Kata kunci : hara, air, sawah tadah hujan, toposekuen


 

Sumber : Penelitian PertanianTanaman Pangan Vol. 24 No. 2. p.85-96 (2005)

 


BALAI PENELITIAN LINGKUNGAN PERTANIAN

Indonesian Agricultural Environment Research Institute (IAERI)


A. Wihardjaka (1) and L.J. Wade (2)
(1)Research Station of Agricultural Environment Preservation

(2)International Rice Research Institute