Selamat Datang di Situs Resmi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian .::. Pusat Teknologi Unggulan Lahan Tadah Hujan Ramah Lingkungan .::.

Emisi Gas Dinitrogen Oksida pada Pertanaman Padi Gogorancah akibat Pemberian Jerami Padi dan Bahan Penghambat Nitrifikasi

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Emisi Gas Dinitrogen Oksida pada Pertanaman Padi Gogorancah akibat Pemberian Jerami Padi dan Bahan Penghambat Nitrifikasi


A. Wihardjaka (1), S. Djalal Tandjung (2), B. Hendro Sunarminto (2), dan Eko Sugiharto (2)

(1) Balai Penelitian Lingkungan Pertanian

(2) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta


Abstrak

Kondisi tanah basah-kering silih berganti pada sistem sawah tadah hujan mempengaruhi dinamika sumber dan rosot emisi gas rumah kaca. Tanah sawah merupakan salah satu sumber antropogenik emisi gas rumah kaca dinitrogen oksida (N2O), yang dihasilkan melalui proses mikrobiologis nitrifikasi - denitrifikasi. Pengembalian jerami padi dan pemberian bahan penghambat nitrifikasi yang bertujuan mempertahankan produktivitas tanah sawah tadah hujan dan peningkatan efisiensi pemupukan N belum banyak dikaji pengaruhnya terhadap emisi N2O. Percobaan lapangan dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan selama musim penghujan 2009/2010 untuk mengkaji interaksi pemberian jerami padi dan bahan penghambat nitrifikasi terhadap emisi gas N2O pada pertanaman padi gogorancah di lahan sawah tadah hujan. Percobaan disusun menggunakan rancangan faktorial acak kelompok dengan tiga ulangan dan perlakuan jerami padi (tanpa jerami, jerami segar, jerami melapuk) dan bahan penghambat nitrifikasi (tanpa penghambat nitrifikasi, tepung biji mimba, karbofuran). Perlakuan interaksi jerami padi dan bahan penghambat nitrifikasi nyata menurunkan emisi N2O dari tanah sawah.  Emisi N2O pada pertanaman padi gogorancah berkisar 124-485 g N2O ha-1 musim-1. Emisi N2O terendah dihasilkan pada perlakuan kombinasi pemberian jerami segar + biji mimba sebesar 124±6 g N2O ha-1 musim-1, sedangkan emisi N2O tertinggi nyata dihasilkan dari petakan tanpa penghambat nitrifikasi dan tanpa jerami padi atau kontrol dengan fluk 485±14 g N2O ha-1 musim-1. Pemberian jerami segar dan jerami melapuk dapat menurunkan fluks N2O dari pertanaman padi gogorancah masing-masing sebesar 33 dan 28 %. Pemberian bahan penghambat nitrifikasi berupa biji mimba dan karbofuran masing-masing dapat menekan emisi N2O sebesar 30-57 % dan 12-48%. Pembenaman jerami padi ke dalam tanah sawah tadah hujan dapat menurunkan emisi N2O. Biji mimba memberikan prospek  sebagai bahan penghambat nitrifikasi yang murah dan mudah dan efektif menurunkan emisi N2O dari tanah sawah tadah hujan.

Kata kunci : emisi dinitrogen oksida, sawah tadah hujan, gogorancah, bahan penghambat

nitrifikasi


Sumber : Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol. 29 No. 3. p.144-151 (2010)



BALAI PENELITIAN LINGKUNGAN PERTANIAN

Indonesian Agricultural Environment Research Institute (IAERI)


A. Wihardjaka (1) and L.J. Wade (2)
(1)Research Station of Agricultural Environment Preservation

(2)International Rice Research Institute