Emisi dan Absorbsi Karbon Pada Penggunaan Amelioran di Lahan Padi Gambut

Cetak

Penilaian: 3 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 


Emisi dan Absorbsi Karbon Pada Penggunaan Amelioran di Lahan Padi Gambut

Carbon Emission and Absorption of Ameliorant Amendments in Peat Soil Paddy Rice

H.L. Susilawati1, P. Setyanto2, Dan M. Arian1

 


Abstrak

Salah satu cara dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan nasional adalah dengan ekstensifikasi lahan pertanian di lahan gambut. Lahan gambul banyak mengandung sumber-sumber bahan organik sehingga merupakan satu sumber penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) yaitu karbon dioksida (CO2). metana (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O). Penggunaan tanah gambut untuk lahan pertanian akan merubah kondisi alaminya. Perubahan tersebut dikhawatirkan dapat meningkatkan emisi GRK. Salah satu cara untuk menekan emisi GRK dan meningkatkan produksi padi di tanah gambut adalah dengan penambahan bahan amelioran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan amelioran terhadap neraca karbon dan lahan padi di tanah gambut. Penelitian dilaksanakan KP Balai Penelitian Lingkungan Pertanian pada tahun 2008. Contoh tanah gambut sebanyak 8 ton dibawa dan ditempatkan ke dalam 12 mikroplot dengan ukuran 1.5 x 1,5 x 0.8 m. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan empat pertakuan amelioran yaitu kontrol, dotomit 2 t ha-1, jerami kering 2 t ha-1 dan pupuk kandang 2 t ha-1 yang diulang tiga kali. Varietas padi yang ditanam adalah Batang hari dan ditanam pada usia 21 hari setelah persemaian. Fluks gas CH4 diukur secara otomatik dengan menggunakan GC yang dilengkapi dengan FID (flame ionisation detector). Emisi gas C02 dan N20 ditakukan secara manual dengan menggunakan GC yang dilengkapi detektor ECD (electron capture detector) dan TCD (thermal conductivity detector). Kandungan organik karbon pada tanaman ditentukan dengan teknik dichromate oxidation-titration. Hasil penelitian diperoleh bahwa net karbon neraca karbon terendah adalah pada per1akuan pupuk kandang sebesar 4.962.0 kg-C ha-1 disusul dolomit, tanpa amelioran. dan jerami kering secara berturut-turut 5.270,2; 9.534.7; dan 10.115,6 kg¬C ha-1. Hasil gabah tertinggi adalah dengan urutan jerami kering, dolomit. tanpa amelioran dan pupuk kandang sebesar 4.98; 4.92; 4,69; dan 4,54 t ha-l. Perlakuan dolomit memiliki rasio tertinggi sebesar 933,58 kg gabah ton C02-C disusul pupuk kandang sebesar 913.30 kg gabah/ton C02-C, tanpa amelioran dan jerami kering masing-masing sebesar 492.13 dan 491.59 kg gabah/ton C02-C.

Kata kunci : Emisi GRK, Kandungan C-organik, Neraca karbon


Abstract

Agricultural land extensification on peat land is one solution to fulfill national needed on food. Peat soil contains organic matter therefore it becomes one source of greenhouse gas emissions (GHG), Le. Dioxide carbon (CO2), metahne (CH4). and NO2. Land use for agricultural activities will change the natural condition of peat soil. The changes could increase GHG omissions. One way to reduce GHG emissions and to increase rice production in peat soils is by adding of ameliorant. The aim of this study was to determine the effect of ameliorant on carbon balance at peat soil paddy rice. The experiment was conducted at research station of Agricultural Environmental Research Institute in 2008. Samples of peat soil as much as 8 tons was carried from South Kalimantan and placed into 12 microplots. The size of microplot was 1.5 x 1.5 x 0.8 m. Experimental design used randomized block design with four treatments: control, dolomite 2 t ha-1, rice straw 2 t ha-1 and animal manure 2 t ha-1 which was repeated three times. Rice variety was Batanghari and transplanted at age 21 days after seeding. Fluxes of CH4 were measured automatically using GC which equipped with FID (Flame Ionization Detectorl. Emissions of CO2 and N2O were measured manually using GC which equipped with ECD detector (electron capture detectorl and TCD (thermal conductivity detector). The content of organic carbon in plants was determined by dichromate oxidation technique-titration. The lowest of net carbon/ carbon budget is animal manure treatment: 4.962.0 kg-C ha-1 followed by dolomite. without ameliorant, and rtce straw: 5.270.2; 9,534.7; and 10.115.6 kg-C/ha respectively. The highest yield is rice straw, followed by dolomite, without ameliarant and manure: 4.98, 4.92, 4.69, and 4.54 t ha-1 respectively. Dolomite treatment has the highest ratio of yield GWP : 933.58 kg of yield/ton of CO2-C followed by animal manure 913.30 kg of yield 1 ton of CO2-C, without ameliorant and rice straw: 492.13 and 491.59 kg of yieldlton of CO2-C respectively.

Keywords: GHG emissions, C-organic, Carbon balance


  • Untuk informasi jurnal secara lengkap bisa lihat disini

 

 


BALAI PENELITIAN LINGKUNGAN PERTANIAN

Indonesian Agricultural Environment Research Institute (IAERI)

 


A. Wihardjaka (1) and L.J. Wade (2)
(1)Research Station of Agricultural Environment Preservation

(2)International Rice Research Institute